Posted by: sinyoegie | January 31, 2008

Pacaran Islami….?

Beberapa waktu yang lalu, sinyo sempat baca blog yang berisi perdebatan tentang pacaran islami (ada yang membolehkan namun tidak sedikit yang melarangnya, masing-masing mempunyai bukti-bukti dan argumen tersendiri). Nah tulisan ini bukan untuk memihak atau menyalahkan pihak yang mendukung dan menolak, namun sekedar pandangan dan pengalaman Sinyo mendapatkan jodoh..😉

Sinyo sudah tahu sejak lama bahwa dalam Islam ikatan resmi antara dua insan manusia berlainan jenis (bukan sesama jenis loh ya) yang bukan sedarah dinyatakan syah atau resmi hanya ada dua, yaitu pinangan dan nikah.

Jika seorang wanita sudah dipinang secara resmi oleh seorang laki-laki maka dia tidak boleh menerima pinangan dari orang lain sampai jelas apa keputusan yang dia ambil. Begitu juga dengan laki-laki lain yang ingin meminang wanita tersebut harus menunggu sampai jelas wanita tersebut menolak atau menerima pinangan pertama yang sudah masuk.

Masalah yang sering timbul dan menjadi perdebatan pada pinangan adalah batasan masa menunggu sampai menjelang pernikahan, walau secara resmi ikatan sudah syah namun hukum-hukum Islam dalam hubungan lain jenis sebelum menjadi suami istri tetap berlaku.

Soal nikah sudah tahu semua tentang hal ini, setelah pinangan maka pernikahan adalah seperti pengumuman kepada khalayak tentang ikatan resmi yang sudah terjalin sejak masa pinangan. Pernyataan resmi sang laki-laki kepada wali wanita di hadapan masyarakat.

Nah sampai di sini jelas kan, apapun bentuk ikatan dua insan lain jenis yang bukan sedarah selain dua hal di atas maka tidak syah atau tidak resmi secara Islam. Maka Sinyo sejak lama tidak memusingkan soal pacaran yang dari dulu hingga sekarang menjadi perdebatan seru, karena sudah jelas ikatan dua manusia lain jenis yang bukan saudara secara Islam.

Sedikit pengalaman Sinyo, seumur hidup belum pernah mengikatkan diri kepada wanita manapun selain istri saya sekarang ini. Kala masih bujang sering rekan-rekan membantu Sinyo mencarikan jodoh, dikenalkan dengan banyak wanita, namun sama sekali tidak mengikatkan diri dan tidak berlanjut kepada pinangan dan nikah.

Pernah satu kali Sinyo berusaha mencari sendiri, adanya kacau balau dech, sinyo inginnya nikah namun sang wanita tahunya “pacaran dulu” qiqiqiqi…sudah jauh beda pandangannya.

Pengalaman lain mencari jodoh tanpa lewat perantara (karena memang sudah kenal baik), saat ingin meminangnya sinyo bertanya dahulu kepadanya lewat surat apakah memungkinkan keluarganya menyetujui, namun dari pembicaraan lewat surat Sinyo ketahui bahwa ortu wanita tersebut tidak setuju apabila berjodoh dengan Sinyo, so Sinyo tidak jadi meminang.

Wanita yang sekarang menjadi istri sinyo, hanya dikenalkan satu kali (oleh temen ngaji, maka saya mantab karena dia sudah tahu keadaan saya) di rumah orang tuanya di Nganjuk. Karena intiusi saya cocok bahwa kita satu visi maka langsung saya lamar/pinang (dengan saksi temen saya) saat itu juga dihadapan orang tuanya. Kemudian bunda sinyo datang ke sana satu pekan sesudahnya (lamaran/pinangan resmi orangtua hehe), kurang lebih sebulan setelah itu nikah dech😉

Alhamdulillah baik-baik saja sampai saat ini, hampir dikatakan tidak ada masalah berhubungan dengan masing-masing individu. Awal-awal yah kita berdua masih canggung, gimana tidak? Khan masih asing sama sekali hehehe. Tapi karena nikah memang untuk beragama maka lambat laun semua bisa teratasi.

Bagaimana dengan anda saudaraku muslim yang masih bujang? Semoga sekelumit pengalaman di atas dapat dijadikan masukan berharga untuk rekan-rekan satu iman, apabila ingin mencari jodoh. Insyaa Allah jika niat kita memang untuk beribadah lebih baik, semoga dimudahkan oleh Allah, amiin.


Responses

  1. mas sinyo, salam kenal.
    tulisan anda bagus. memihak pun juga ndak papa kok mas. Asal keberpihakan kita itu bener. Jadi tidak perlu ragu kalo mau memihak. oce.

    Komentar Sinyo:
    Salam kenal bang, hehehe di”sambangi” penulis terkenal neh😉 terima kasih atas sarannya, semoga sukses selalu moga-moga suatu saat kita bisa bertemu, saya akan banyak belajar soal tulis-menulis.

  2. sinyo apa kabar?
    masih sibuk nulis?
    ini aku ada sedikit komentar, semoga bermanfaat

    kata sinyo:

    ikatan resmi antara dua insan manusia berlainan jenis (bukan sesama jenis loh ya) yang bukan sedarah dinyatakan syah atau resmi hanya ada dua, yaitu pinangan dan nikah.

    Tanggapanku:
    Apakah Islam mengajarkan kita untuk menyepelekan “ikatan” janji yang tidak resmi? Silakan lihat http://wppi.wordpress.com/2007/11/25/ikatan-pacaran-cukup-jelas/

    Komentar Sinyo
    Idih Mas Shodiq heheheh sibuk nulis gimana, sibuk ngurus kantor iya. Boro-boro mas nulis..banyak yang terbengkalai nech hehehe..

    Soal pertanyaan Mas Shodiq tentang “janji”, setahu Sinyo itu berlaku secara umum. Jadi janji apapun (secara materi tidak melanggar syariah) dan dalam bentuk apapun (lisan atau tertulis) wajib kita penuhi dengan syarat tentunya bukan karena paksaan/terpaksa. Karena boleh jadi saat kita dipaksa atau dalam tekanan “janji” yang terucap hanyalah untuk menyelamatkan manfaat yang lebih besar dan itu dibolehkan dalam syariat.

    Nah, Sinyo hanya menyampaikan bahwa ikatan resmi antara dua manusia berlainan jenis yang bukan sedarah secara Islam adalah Pinangan dan nikah. Di luar itu jelas-jelas tidak resmi atau ilegal (yang ini tidak perlu diperdebatkan lagi karena sudah jelas adanya, kalau mau tetap diperdebatkan monggo Sinyo bukan kapasitasnya untuk menyanggahnya)

    Sekarang katankanlah dua orang insan tersebut sudah “berjanji” akan menikah, janji tersebut tanpa melalui salah satu syariat yang ditetapkan oleh Islam yaitu pinangan atau nikah maka “janji” tersebut sudah ilegal secara materi syariah. Karena sudah jelas hanya melalui pinangan dan nikahlah janji resmi yang dibolehkan. Mengenai jenji-janji yang lain (selain hubungan ikatan dua insan yang berlainan jenis bukan sedarah) cukup simple saja, seperti syarat sebelumnya.

    So argumen mas Shodiq tentang “janji” secara umum jelas tidak berlaku karena ikatan janji antara dua insan berlainan jenis yang bukan sedarah sudah ditetepkan dalam Islam yaitu melalui pinangan atau nikah. Silahkan bila ada orang mau “berjanji” tentang ikatan diri, namun jika tanpa piangan dan nikah secara syariah itu tidak ada, ingat yang dibicarakan ikatan diri dua insan berlainana jenis yang bukan sedarah bukan tentang “janji” yang lain😉

  3. saya mau ikut nimbrung nih, meski telat.
    sebenarnya tidak ada yang salah dengan tulisan Bang Sinyo (boleh saya panggil begitu ya, krn masih nganten anyar, barangkali keberatan dipanggil Pak).
    Mungkin yang kurang sesuai hanya judulnya saja. Karena menurut saya, kata PACARAN sudah mengalami penyempitan. Dahulu istilah pacaran tidak ada neko-nekonya, hanya sekedar kenal dengan lawan jenis saja, tapi di zaman edan ini pacaran sudah diartikan sebagai “latihan jadi suami istri”. Naudzubillah! Jelas orang yang menjaga kehormatannya tidak mau disebut sedang pacaran, ketika ia sedang mengalami proses taaruf (kenalan) dengan calonnya. Apalagi dikatakan sebagai “Pacaran Islami”. Seperti mencoreng nama Islam saja. Bahkan pernah seorang ustad mengatakan dalam sebuah tulisan di majalah bahwa “Pacaran Islami ada, syaratnya tidak ada dua-duaan, tidak ada sentuhan, tidak lebih dari 3 bulan dalam berkenalan, dsb” yang intinya ustad itu mendukung proses taaruf daripada pacaran. Tapi karena statusnya ustad, maka akan kacau jika si pembaca menyalahpahami isi tulisan. Jadi saran saya, mulailah menghapus kata PACARAN, apalagi menggabungkannya dengan ISLAMI.
    Maaf ya Bang Sinyo, kalau komentarnya agak pedes. (^_^)

    Komentar Sinyo
    Heheh dhe, emang berapa kilo cabe koq pedes, kalau soal judul itu saya ambil dari beberapa blog dan site. Nah Sinyo cuma sharing pengalaman yang Sinyo jalani dan lakukan selama ini, tentu dengan pemahaman yang saya ketahui. heee…

  4. Sinyo, Sinyo…..

    Bukan aku mau ngajak berdebat, tapi aku mau ngomong bahwa kita mesti ber-Islam secara kaffah. Islam itu tidak hanya fiqih (lahiriah) tapi juga iman dan ihsan. Pembicaraan bentuk “resmi” dan “tidak resmi” itu terlalu menyempitkan makna Islam.

    (Terlihat bahwa Sinyo di sini menyempitkan makna syariah sebagai fiqih belaka. Padahal syariat sejati itu ada iman dan ihsannya.)

    Hanya karena ada ikatan yg diformalkan dalam fiqih, itu bukan berarti ikatan yang lain bisa kita sepelekan! (Kalau Sinyo benar, silakan tunjukkan dalil bahwa kita boleh sesuka hati melanggar janji menikahi seseorang di luar khitbah.)

    Komentar Sinyo
    Tampaknya Bang Shodiq tidak fokus membaca tulisan Sinyo. Baik akan saya perjelas:
    1. Jawaban Sinyo di atas hanya menjelaskan soal janji yang dipertanyakan oleh bang Shodiq. Bukan soal pengikaran janji, yang Sinyo jelaskan adalah janji itu sendiri. Aturan umum dalam Islam itu mudah: Bahwa semua bentuh ibadah (mahdhoh) hukumnya adalah HARAM kecuali yang sudah diHALAL-kan dalam syarian Islam, sedangkan semua yang berkenaan dengan keduniaan hukumnya adalah HALAL kecuali yang diHARAMkan oleh Islam.

    Sinyo tidak ingin mempersempit makna Islam seperti yang bang Shodiq tuduhkan, saya hanya menjawab soal “janji” dalam Islam itu ada, secara umum saya sudah jelaskan di atas. Tapi dalam hal ikatan resmi antara dua insan berlainan jenis yang bukan sedarah untuk menikah Islam sudah memberi dua jalan lewat pinangan dan nikah (ini sudah jelas dan tidak ada keraguan dari manapun). Janji untuk mengikatkan diri selain pinangan dan nikah jelas tidak resmi dan ini juga tidak ada keraguan sedikitpun dari para ulama. Titik, Sinyo hanya menjelaskan hal itu. Saya tidak akan menjawab lagi mengenai hal di atas jika bang Shodiq masih bertanya, bukan kapasitas saya.

    2. Sekarang soal janji ingin menikahi (yang tidak melalui pinangan dan nikah) kemudian diingkari seperti yang bang Shodiq tanyakan, logikanya bukannya terbalik? Koq malah Sinyo yang disuruh membuktikan dalilnya? Lah yah monggo bang Shodiq seharusnya menunjukkan dalil dalam Islam bahwa Rasul atau Shahabat pernah mengikatkan diri kepada lain jenis yang bukan sedarah tanpa melalui pinangan dan nikah? Bukankah begitu seharusnya?

    Sekali lagi Sinyo tegaskan, bukan masalah mengikari janjinya, tapi soal janji itu sendiri? Kalau bang Shodiq bisa menunjukkan dalil dalam Islam ada ikatan dua insan lain jenis dan bukan sedarah yang dilakukan tidak melalui pinangan dan nikah, nah itu yang dapat dijadikan acuan tentang apapun yang Bang Shodiq ingin sampaikan kepada khalayak (entah itu lewat buku, blog atau apapun, just simple tidak perlu bertele-tele karena ini memang sesuatu yang mudah dan jelas). Bukan masalah pengikaran janji, bagaimana kita akan membahas menepati janji atau mengingkari janji kalau janji itu sendiri sudah menyalahi contoh yang ada?

    Kalau Sinyo dianggap menyempitkan makna Islam, wis monggo saja bang. Itu hak sepenuhnya bang Shodiq, saya tidak bisa apa-apa karena bukan ustadz agama seperti sampeyan. Kalau bang Shodiq mau membaca kembali tulisan saya dari atas (soal pacaran islami) saya hanya ingin memberi contoh bahwa saya melakukan seperti yang diperintahkan Rasul soal pinangan dan nikah (bukan yang lain) dan selama ini Alhamdulillah baik-baik saja. Sinyo tidak sanggup jika dipaksa membicarakan pola pemikiran yang yang lebih dari itu, simple saja hidup saya, yaitu berusaha mencontoh Rasul sesanggup saya. Tentang pemahaman yang selain itu, silahkan bang Shodiq dapat berdiskusi sesama ustadz agama🙂, karena Sinyo hanya ustadz Bhs. Perancis.

  5. Slma ini sy pcran slalu brgelimang dosa!sy ingin memperbaiki diri sy,krna dhti sy slalu prang!sy sdh jauh,tlng bri srn agr sy bs lbh bk,,,

    Komentar Sinyo
    Dhe Key, salam kenal. Semua manusia pernah berbuat salah, tentu termasuk kita yang lemah ini. Tapi selama nafas belum mencapai tenggorokan Allah masih selalu memberi jalan untuk bertobat dan kembali memperbaiki diri.
    Jadi ayo tetap semangat, apabila ingin bertobat bersegeralah dan yakin jika niat kuat pasti bisa😉 Semoga dimudahkan oleh Allah usaha adhe tersebut amiin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: