Posted by: sinyoegie | March 27, 2008

Guru, Salah Satu Profesi Terberat

Selama ini orang cenderung meremehkan pekerjaan/profesi menjadi seorang guru, tidak perlu orang lain bahkan kadang yang bersangkutan sendiripun bisa jadi berpikiran yang sama. Bukan asal menuduh, namun memang kenyataan yang sinyo temui di lapangan seperti itu.

Sinyo menggeluti bidang pendidikan sejak SLTP, waktu itu ngajar baca Qur’an dengan buku Iqra’. Setelah lulus dari IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) juga sempat menekuni profesi guru selama 2 tahun. Dengan pekerjaan yang sangat “luar biasa” sibuknya serta gaji yang mungkin tidak sepadan maka “wajar” saja jika profesi ini terkesan diremehkan banyak orang.

Kenapa profesi guru sinyo katagorikan sebagai salah satu pekerjaan terberat di dunia (apalagi di Indonesia), karena ketika profesi ini dijalankan dengan sungguh-sungguh dan tertib maka seorang guru akan susah mempunyai waktu luang. Masih tidak percaya? Ayo kita bahas bersama:

  1. Rencana Pengajaran, sebelum mengajar seorang guru sebaiknya sudah membuat rencana pengajaran. Kalau mampu dan bisa maka buat untuk satu tahun sekalian, jika belum memungkinkan ya minimal sebulan sekali, kalau masih tidak dapat juga ya sehari sekali dech. Jangan salah loh ya, rencana pengajaran ini detail dari alokasi waktu, media pengajaran sampai cara penyampaian dan materi-meteri yang akan disampaikan. Sering antara kurikulum yang sudah ditetapkan pemerintah dan kenyataan di lapangan cukup berbeda sehingga guru harus kreatif bagaimana merencanakan pengajaran dengan baik. Pengalaman selama sinyo mengajar jarang ada guru yang dapat menyelesaikan secara sempurna rencana pengajaran yang dibuat. Berbagai alasan dikemukakan, mulai dari kurangnya waktu, susahnya anak-anak menerima pelajaran, tidak lengkapnya media yang dipunyai sekolah dan masih banyak lagi. Hitung punya hitung andai saja kegiatan menulis rencana pelajaran ini dialokasikan untuk membuat sebuah cerita fiksi maka sudah dapat dah satu novel😉
  2. Pelaksanaan pengajaran. nah ini juga tidak kalah rumit dengan rencana pengajaran. Saat kita sudah siap mengajar, bau badan wangi (bagi yang muslimah baca tentang hadits-hadits wangi-wangian dalam Islam), baju bersih, buku-buku rapi disiapkan eh tiba-tiba sekolah banjir hehehe gagal dah mengajar. Sedang asik-asiknya mengajar ada saja halangan dan kendala, entah murid pada ributlah, perut muleslah, spidol atau kapur habis, anak didik berkelahi dan lain hal. Semakin sedikit gangguan pada saat mengajar maka akan semakin lancar saja materi tersampaikan dan dipahami oleh murid/siswa. Jika saja masalah saat mengajar diurai satu-satu maka dapat dijadikan sebuah buku pegangan bagi calon guru atau guru😉 Nah ayo yang penulis buatlah…..
  3. Evaluasi pengajaran, walah ini yang lumayan repot dan menyita waktu. Seorang guru pasti akan mengevaluasi apakah materi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh anak didik. Caranya dapat berupa ulangan lisan, praktek atau tertulis dan tidak ketinggalan juga pekerjaan rumah. Coba dihitung, jika seorang guru mengajar 5 kelas dengan rata-rata berisi 30 siswa, maka waktu minimal yang dibutuhkan untuk memeriksa hasil ulangan dan PR (kita tetapkan seminggu 1 kali ulangan dan 2 kali PR) dalam sepekan adalah kurang lebih 2.250 menit atau sekitar 37,5 jam dengan rata-rata memeriksa hasil 5 menit per anak. Padahal sering kita jumpai guru yang mengajar lebih dari jumlah tersebut di atas. Makanya jangan heran saat seorang siswa menerima hasil PR atau ulangan hanya berupa tandatangan untuk sekedar penghibur bahwa sudah mengumpulkan tugas, apakah diperiksa dengan teliti ya…belum tentu hehehehe. Belum kalau ulangan/PR model uraian atau contek-mencotek sudah membudaya maka akan menambah malas guru untuk memeriksanya. Padahal ulangan/PR jenis uraian sangat bagus untuk menumbuhkan daya kreatif anak beropini dan mengurangi budaya mencontek, atau jangan-jangan gurunya sendiri waktu masih belajar juga mencontek hihihihi…Nah jika saja waktu tersebut digunakan untuk menulis maka sudah dapat minimal 3 buah cerpen dengan hasil yang bagus termasuk editing😉
  4. Kalau seorang guru juga “nyambi” jabatan wali kelas atau posisi yang lain (misalnya penasehat OSIS, paguyuban guru dll) maka bertambahlah waktu yang harus dialokasikan untuk mengurus anak-anak atau sesama rekan guru. Mengevaluasi laporan-laporan tentang anak dari rekan seprofesi , mengamati perkembangan anak, menghadapi orangtua yang komplain tentang sekolah atau anaknya bermasalah hanyalah beberapa contoh kecil betapa sibuknya seorang wali kelas. Apalagi menjelang penerimaan raport, dijamin akan lembur berhari-hari untuk mengisi raport, salah ketik atau salah tulis bisa kacau dah. Lucunya ya, di kantor-kantor para guru masih sempat ngerumpi atau menonton TV hehehehe.
  5. Masih selesai? Belumlah, seorang guru juga menjadi contoh dan tauladan murid-muridnya. So mulai dari kehidupan di rumah sampai ke pergaulan sehari-hari akan menjadi penilaian tersendiri bagi murid dan siswa. Sekali berbuat kesalahan yang fatal, maka saat kita mengajar di dalam kelas bakal dicibir oleh para anak didik (tentu hal ini sangat berpengaruh pada penyampaian materi). Di Indonesia masih sensitif sekali kehidupan moral seorang guru dengan apa yang akan diseampaikan secara profesional saat mengajar. Guru bak “malaikat” apalgi di desa-desa atau perkampungan. Berbeda dengan dunia Barat, mereka tidak peduli apakah gurunya barusan tidur dengan istri tetangga atau tidak yang penting materi yang disampaikan bermutu ataukah kosong sama sekali. Kalaupun ada penilaian moral, tidak seekstrim di dunia timur. Nah tentu menjaga amanah dari anak-anak didik kita juga merupakan tantangan tersendiri sehingga harus ekstra hati-hati atau profesi sebagai guru bakal tercabut.

Dari lima hal di atas saja sudah akan membuat seorang guru susah berkutik melakukan aktifitas sehari-hari bersama keluarga atau masyarakat. Namun pada kenyataannya kita dapat melihat sendiri bahkan guru dipandang menjadi pekerjaan yang paling santai, berangkat agak siang, pulang awal, libur banyak, masih bisa cari tambahan entah jualan di warung atau ngojek. Padahal jika seorang guru benar-benar menjalankan profesinya dengan baik dan benar serta disiplin, maka idealnya dia hanya memegang satu atau dua kelas saja. Sama dengan seorang polisi yang harus menangani banyak orang di negara ini, jumlah guru juga masih tidak sepadan dengan banyaknya orang yang harus dididik dengan baik. Saat ini saja gaji guru masih cukup memprihatinkan, terutama non pegawai negeri, apakah jumlah tersebut akan ditambah? Lantas siapa yang akan menggajinya?

Entah jawaban yang diberikan memang dari lubuk hati yang paling dalam atau hanya sekedar pembenaran keadaan yang ada, sebagian besar guru yang sinyo wawancarai kenapa mau menjadi guru, mereka bilang memang suka dengan dunia kependidikan. Walaupun masih banyak juga guru yang punya pekerjaan sampingan lainnya.

Misalkan seorang guru ditawari pekerjaan lain (non guru) dengan gaji yang lebih besar, sinyo tidak tahu apakah mereka masih menjawab hal yang sama bahwa mereka benar-benar mencitai profesinya sebagai seorang guru atau akan menjwab hal lainnya?

Sangat langka di negara ini menemukan guru-guru yang sejati, yang memang berjuang demi pendidikan anak-anak Indonesia. Bertambah runyam saja negara ini jika guru-guru yang ada ternyata hanya “yang penting bisa kerja saja”😉

Lihat sekitar anda, lihat sekililing kita dan temukan guru yang sejati, maka doakanlah dia panjang umur serta sehat selalu agar generasi negara masih banyak yang dapat diselamatkan, Amiin.

Mau jadi guru….?


Responses

  1. sayah malah calong guru nyang mungkin datu taong lagih lulus….. 😆

    Komentar Sinyo
    Selamat merintis jalan menuju Surga amiin😉

  2. Mas Sinyo,

    Masih ingat saya?

    Saya anaknya guru. Memang berat tugas seorang guru, tapi tentu saja semua profesi punya tantangan dan tanggung jawab sendiri2.

    Kalau dulu, gaji guru masih sangaat minim, alhamdulillah sekarang sudah lebih baik. Terima kasih untuk pemerintah yg sudah mendengar (walau sedikit) suara rakyat.

    Menanggapi pekerjaan sampingan, saya rasa sah2 saja, misal jadi tutor mata pelajaran tertentu, asal tidak mengganggu pekerjaan menjadi guru.

    Oh ya, dari sudut pandang seorang anak, yg saya suka dari profesi guru ialah working hour-nya di sekolah cuman sebentar dan pekerjaan meneliti atau merancang pengajaran bisa dilakukan di rumah.

    Komentar Sinyo
    Masyaa Allah, siapalah yang lupa sama anak cerdas dari Yogyakarta yang dapat beasiswa di Singapura. Gimana dhe khabar di sana, gak lupa kan bahasa Indonesia hehehehehe. Masukan dari dhe Rahmat gak jauh berbeda dengan tulisan saya koq, coba deh baca baik-baik. Inti tulisan saya, sekarang ini cukup susah menemukan seorang guru yang sejati, betul-betul berjuang untuk anak didiknya, bukan sekedar menyampaikan materi namun juga ada “nuansa pengajaran” moral yang dicontohkan. Semoga Orangtua dhe Rahmat termasuk sebagian besar guru-guru yang yang sedang merintis jalan ke Surga. Tidak peduli gaji kecil, tak peduli load kerjaan banyak..yang penting generasi selajutnya selamat dunia akherat amiin. Kalau balik ke Indonesia tetap kontak ya😉 Peace

  3. Asalamu’alaikum bapak..
    semoga bapak dan keluarga selalu di beri kemudahan dalam segala hal amin. mhn maaf bapak,, artikel anda yang berjudul “Profesi Guru ” saya bajak dan saya muat dalam web kami http://www.gumelar.net dan saya publish tanggal 02 bulan maret ini,, semoga banyak yang terinspirasi dengan tulisan anda.
    bapak,, ternyata menjadi guru bagi diri sendiri itu jauh lebih sulit. benarkah??

    Komentar Sinyo
    Wa’alaikum salam wr wb
    Silahkan dhe, gimana khabar keluarga dan warnetnya? Semoga sukses selalu ya.
    Soal diri sendiri memang begitu adanya pak, contoh yang terbaik adalah dengan tindakan dan perbuatan. Makanya kadangkala seorang ustadz misalnya lebih terkenal di luar daerahnya karena orang dalem dah tahu tindak-tanduknya sehari-hari. Tapi kalau dia memang sesuai ucapan dan perbuatan, nah kita doakan supaya panjang umur agar menjadi cahaya-cahaya yang selalu menerangi orang-orang di sekitarnya supaya tidak tersesat😉. Guru juga termasuk cahaya-cahaya yang harus kita rawat.

  4. Masih seputar Bapak/ibu guru yang biasa kita kenal dengan sebutan Pahlawan Tanda Jasa ” ich sungguh mulia ya,, tapi sayang . sepertinya gelar itu sekarang telah banyak di kaburkan oleh penyandang gelar itu sendiri, walaupun tidak semuanya. di tempat saya yang mayoritas penduduknya hidup di perantaun pernah mengeluhkan mengeluhkan dengan sikap para guru. Mereka dengan sadar atau tidak mengucapkan kalimat. ” kalau saya sih sebagai guru yang penting melaksanakan tugas. berangkat jam 7 pulang jam 1 atau jam 2. setelah itu free.. masa bodo siwa mau jadi apa ke,, itu bukan urusanku. lagian paling di tempatku tamat SD atau SMP ujung2nya jadi PRT… masayaallah. jadi curhat neh Pak,, sayang bapak bukan mentri Pendidikan yah. yang lebih parah lagi ada sebuah sekolahan yang cukup bonafid di tempat ku,, saya coba tawarkan program internet,, eh malah ga di respon sama sekali, ahkirnya sebagian siswanya banyak yang belajar sendiri, ahkirnya apa pak,, mereka hanya browsing ke dunia Pornografi,, sebagai menu utamanya bangros, lalat x, play boy dll. he he Mudah-mudahan dengan adanya UUIT nanti pornografinya jadi hilang ya pak,, tapi akan lebih bagus lagi kalau semua orang di bentengi dengan filter pemberian Allah,, sehingga mampu menyaring mana yang baik dan mana buruk. walaupun baik dan buruk semua adalah milik kebesaran ALLAH.. maaf panjang banget comen nya wasalam.

    Komentar Sinyo
    Benar dhe, Sinyo pernah menjadi guru di Sumsel, terus terang susah juga mendidik anak-anak di sana. Makanya sinyo tidak heran jika beberapa guru juga “menyerah” untuk mendidik murid-muridnya, sekedar datang saja dan menyampaikan dengan “hambar”. Padahal sedikit apapun yang kita sampaikan ke anak-anak selama bermanfaat sebgain akan tetap dikenang dan dijalankan oleh anak didik kita.
    Memang segala sesuatu (termasuk internet) perlu bimbingan. Jika sekolah belum mau, adhe bisa membuka privat kecil-kecilan. Mengajarkan mereka tentang internet dan sekaligus sewa warnet (jadi satu paket). Dibuat murah saja karena sambil “mendidik”. Terus terang UUIT sangaet membantu sekali walaupun tidak menyeluruh dapat memblokir situs porno, namun minimal anak-anak sudah tidak tergoda dengan pancingan-pancingan yang ada. Di tempat kita sudah kita sudah blokir. Tetapi kembali kepada “pendidikan” kepada anak cucu kita, mereka paham mana yang harus dipilih antara baik dan buruk itu lebih “cerdas” dari sekedar memblokir situs, tanyangan dll yang porno. Insyaa Allah nurani manusia akan masih tetap terus bangkit memanggil😉

  5. Ok Mas Sinyo
    Guru memang profesi berat, namun jika dijalankan dengan baik akan banyak berkah.

    Mas Sinyo saya bikin buku lagi. Tolong emailnya ya ? Mau minta Endorsment.

    Salam Dari Kota Apel Malang

    Komentar Sinyo
    Maaf pak, terlambat membalas. Sinyo kemarin ada tugas luar kota dari kantor. Yah ketinggalan lagi oleh Pak Zen, buku solo sinyo belum kelar-kelar Pak Zen sudah mau buat lagi hehehe. Baik pak berikut alamat mail Sinyo:
    1. agung_s (at) indo.net.id
    2. sinyoegie (at) beringin.co.id
    Sukses selalu ya pak😉


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: