Posted by: sinyoegie | April 6, 2008

Mahalnya Sifat Egois di Negara ini

“Tidak beriman seorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari-Muslim). Negara Indonesia (dengan sebagian besar umat Muslim) sudah terkenal sejak dulu mempunyai jiwa sosial yang tinggi, melindungi dan memperjuangkan kepentingan bersama (tanpa membedakan suku, agama dan ras). Namun dari setiap generasi dan masa selalu ada sifat egois sebagai penyeimbang dari sosial yang kian hari kian mahal harga yang harus dipertaruhkan.

Kemarin waktu Sinyo mendapat kiriman dari salah satu sahabat (terima kasih dhe Diah atas kirimannya) berupa DVD original “Steven Gerrad: A Year In My Life”. Karena durasi waktunya cukup lama maka Sinyo tonton dalam dua kali kesempatan.

Steven Gerrad adalah pemain sepak bola yang berasal dari Inggris bermain di Klub Liverpool sebagai gelandang dan memegang ban kapten. Usianya masih muda mempunyai dua orang putri dengan rumah bak istana. Jika di dunia Barat (Eropa katankanlah) kebanyakan manusia sudah hidup secara individualis walau bukan egois. Mereka merasa nyaman dengan kehidupan sendiri dan tidak terlalu pusing dengan urusan orang lain. Sehingga jiwa-jiwa sosial di sana amat sangat mahal harganya. Jika kita sebagai seorang individu sangat cocok dengan seseorang maka akan dijaga dan dipelihara dengan mati-matian, jangankan materi nyawapun akan dikorbankan. Contoh mudah adalah si Gerrad ini. Dibalik semua ketenaran dan kekayaan yang melimpah, istri yang cantik dia mempunyai seorang sahabat yang menjadi kepercayaan dan teman curhat. Selain menjadi asisten dia juga merupakan sahabat sejati Gerrad, ke manapun urusan bisnis dan hal-hal umum lainnya sahabat itu diajak serta, digaji, dicukupi kebutuhan hidupnya. Gerrad mengaku sahabatnya itu adalah satu-satunya orang yang sangat dia percaya bahkan saat mempunyai masalah dengan istrinya dia menjadi tempat curhat Gerrad. Uang tidak masalah bagi Gerrad yang penting dia dapat memiliki “rasa sosial” dengan orang lain.

Dari cerita saudara-saudara Sinyo yang tinggal di Amrik, mereka juga mengalami hal yang sama. Terkukung di dalam rumah, jika ingin “membeli” sosial maka harus keluar materi dan waktu yang cukup banyak. Sehingga kebanyakan dari mereka senang sekali saat berkunjung di negeri-negeri yang banyak mementingkan rasa sosial. Bahkan keponakan Sinyo, sempat mogok diajak pulang ke Amrik karena di sini sudah mendapatkan banyak teman baru.

Sekarang kita bandingkan dengan negara ini, rasa sosial begitu tinggi sejak jaman dahulu kala. Apalgi saat negara ini dijajah, maka jalinan kebersamaan begitu kuat. Nah berkebalikan dengan bagian dunia yang rata-rata penduduknya individualis, di negara ini sifat egois sebagai kebalikan dari rasa sosial sangat mahal harganya. Sejak jaman kerajaan-kerajaan jaman dahulu, kita sudah mengenal penghianat-penghianat yang mementingkan dirinya sendiri di atas kepentingan bersama. Dia rela melakukan apapun asal senang di dunia, orang lain dipikir belakangan atau bahkan mungkin tidak terpikirkan.

Semakin hari semakin menjadi-jadi. Kita dapat melihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana orang berlomba-lomba mementingkan dirinya sendiri dengan menginjak-injak harga diri orang lain, mengesampingkan kepentingan bersama dan tidak ingat dengan Penciptanya. Jikalau kita baca-baca berita atau melihat laporan langsung dari televisi, maka kita harus sering mengelus dada. Betapa mahalnya sifat egois di tanah air ini, mulai dari hutan, laut, tanah atau kalau perlu orang tua sendiri dirusak atau dimultilasi demi sifat egois. Semakin panas negara ini dengan rusaknya alam sekitar yang dulu kita banggakan, semakin panas saat melihat orang-orang berebut, menyikut, mendepak, mencaci dan kalau perlu menyakiti.

Hukum Allah berlaku pasti, air panas dan dingin bercampur akan menjaid hangat. Orang bule ingin berwarna, orang berwarna ingin putih. Nagara yang selama ini kita cap individualis serta egoistis sedang mengalami perkembangan Islam yang baik, sebaliknya di sini yang mayoritas muslim mengalami perkembangan menuju individualis dan egois, semakin banyak yang meninggalkan akhlak mulia seorang muslim.

Entah di mana tempat yang aman di negara ini, tinggal di rumah dengan serbuan berita-berita yang mengenaskan, acara-acara yang banyak menyesatkan? Atau di jalanan yang begitu gaduh dan riuh ketika bersentuhan sedikit saja dengan badan orang lain sudah bisa terjadi pembunuhan?

Akan ke mana anak-anak kita, generasi selanjutnya , dibawa?


Responses

  1. مثل المؤمنين فى تواددهم وتراحمهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعا له سائر الجسد بالسهر و الحمى

  2. perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaannya dan kasih sayangnya adalah bagaikan satu badan, jika tersakiti sebagian saja dari tubuhnya, maka sakitlah seluruh anggota badannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: