Posted by: sinyoegie | April 12, 2008

Antri Dong Ah…….

Hari Jum’at tanggal 11 April 2008 Sinyo jalan ke ATM salah satu bank di dekat kantor. Menjelang siang sudah cukup panas, sampai di tempat ternyata mesin ATM sedang diperbaiki, ada tiga pengawas dari bank bersangkutan dan satu orang pegawai vendor yang mengurusi mesin ATM serta seorang satpam dari komplek pertokoan Armada Estate. Sinyo lihat ada beberapa orang yang datang tapi kemudian kembali lagi karena ogah menunggu agak lama. Jadi Sinyo terhitung sebagai pengunjung pertama yang setia menunggui mesin diperbaiki.

Ternyata mesin ATM rongga dalamnya berisi cukup rumit berbagai macam mekanik. Nah yang rusak termasuk salah satu alat utama sehingga diganti oleh mesin yang baru (entah alat second atau baru betulan sinyo gak paham). Bosen lihat mesin ATM Sinyo mengamati tukang rujak yang berjualan persis di depan trotoar ATM. Orangnya sudah berumur, pakai kacamata, kurus dan tinggi. Kalau yang suka akan kebersihan jangan beli dah, bakal gak tega beli rujak di situ. Tapi tetep juga tuh tukang rujak terkenal laris (mungkin karena satu-satunya di komplek pertokoan Armada Estate).

Uniknya nech, tukang rujak sudah menyiapkan berbagai sambel dan bahan-bahan jauh sebelum ada pembeli datang. Waktu dibuka bagian tengah gerobak kepunyaan Bapak Rujak, Sinyo cukup terkejut juga. Layaknya sebuah kantor, tuh kertas-kertas, sambel yang sudah jadi, dan alat-alat lainnya dibuat tersendiri tempatnya. Sehingga penjual rujak mudah memilah-milah jika ada pembeli yang butuh sambal pedas atau sedang. Kadang di kantor-kantor atau rumah kita sendiri belum tentu barang-barang dibuat teratur dan rapi, sehingga saat akan dipakai kita akan kebingungan mencarinya. Sayang memang gerobak rujak sudah uzur dan tua, kebersihan si tukang rujak juga tidak terjaga. Lain sekali dengan tukang rujak di jalan protokol Magelang yang Sinyo temui, selain gerobaknya bersih penjualnya juga rapi serta lebih professional.

Kalau Sinyo dikasih rujak oleh temen, entah beli di mana dia, maka yang sinyo lihat mungkin cuma produknya tidak melihat proses pembuatannya. Boleh jadi kita tidak akan doyan mengkomsumsinya apabila melihat proses suatu makanan/minuman dibuat. Namun di negara ini sudah biasa yang dilihat hanyalah produknya, tidak tahu apakah setelah itu perut kita akan mencret, diare, mules atau tidak, banyak yang masih tidak mau peduli. Sama dengan pemilihan walikota, gubernur, presiden atau pimpinan lainnya. Masyarakat tidak banyak yang tahu dan paham masing-masing calon pimpinan. Kita hanya tahu tampang-tampang mereka yang memenuhi sesaknya jalanan, senyum manis yang dibuat-buat sama sekali tidak menambah manis wajah-wajah mereka. Apakah mereka dulu pernah koropsi, apakah mereka dulu suka menyakiti orang, kebanyakan dari kita tidak peduli. Hanya penting datang ke tempat pemilihan, coblos salah satu dan pergi. Entah kelak siapa yang bertanggung jawab apabila pimpinan yang telah kita pilih ternyata “jahat”, kita yang memilih atau si pemimpin? Jangan-jangan dua-duanya salah?

Eh ternyata mesin sudah mau jadi, terlihat tabung-tabung uang yang terbuat dari plastik sudah mulai dimasukkan kembali. Ada seorang Ibu datang, ngantri ikut menunggu seperti Sinyo. Sudah sekitar 20-menitan sinyo menunggu, Alhamdulillah sudah mau jadi nech ATM. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan tampang dan gaya angkuh (asli sinyo yakin kebanyakan orang yang melihat nech manusia dan tingak lakunya bakal menilai sama) melewati kami berdua. Bertanya-tanya sebentar dengan satpam kemudian menunggu di dekat tukang rujak. Saat itu tukang rujak sedang buat sambel, karena terlalu keras sebagian airnya menyebar ke arah para orang di depan ATM termasuk laki-laki yang baru datang, mereka cuma bisa mengerutkan alis saat melihat tampang tukang rujak yang cuek bebek. Sinyo terhindar dari terpaan air itu karena tertutup kaca gerobak tempat buah dipajang.

Saat waktunya tiba, ATM sudah jadi. Tanpa basa-basi dan tidak merasa bersalah laki-laki barusan datang, menyerobot masuk dahulu ke ATM. ATM masih ditunggui para orang yang sedang memperbaiki dan mengawasi mesin untuk chek apakah sudah berjalan normal. Sinyo sebetulnya kecewa dengan sikap laki-laki tadi, bukankah seharusnya dia ngantri atau minimal minta izin dahulu kepada kita yang sudah menunggu lama, sepenting apapun urusan dia. Untung saja ini bukan Jakarta, di sana bisa kena damprat orang banyak tuh orang. Tapi sudahlah, gak ada manfaatnya ribut-ribut juga. Sinyo tetep menunggu, Alhamdulillah laki-laki itu tidak lama di dalam ruang ATM, dia keluar tetapi masih menunggu dekat ATM sambil mengambil HP. Sinyo segera ngibrit, ambil uang dengan cepat dan keluar. Selintas sinyo dengar itu laki-laki sedikit emosi menelpon teman atau mungkin saudaranya kenapa uang belum ditransfer. Hati sinyo tersenyum (semoga bukan senyuman jahat atau sinis), sebetulnya sinyo ingin teriak, “Makanya antri dong……” Tapi rasanya lidah kelu dan kaku. Entah dari bagian mana dahulu negara ini harus diperbaiki, moralnyakah? Ekonominyakah? atau yang manakah?


Responses

  1. kita ambil sikap positif aja, mungkin dia baik tapi saat itu dia lagi emosian nyo… terkadang orang kalau emosian, tindakannya kurang etis dan rasional…

    Komentar Sinyo
    Yaaa Bro, kalau sinyo gak bersikap positif dah sinyo maki-maki tuh orang hihihih, kan sinyo diem saja hehehe… mungkin nunggu uang transferan belum sampai-sampai ya jadi emosišŸ˜‰


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: