Posted by: sinyoegie | April 17, 2008

Terbiasa Kehilangan Iman

Hal yang umum, kebanyakan, atau jamak sering orang menyebutnya “biasa”. Tidak ada keterkejutan, keunikan atau spesial. Dulu di kampung-kampung jika ada tetangga yang hamil di luar nikah, akan menjadi pembicaraan utama orang sekampung. Orang tersebut boleh jadi dikucilkan, dicibir bahkan jika perlu dibuang dari kampung tersebut. Namun saat ini, ketika hal yang sama terjadi orang hanya bilang,”Ah itu mah biasa.”

Sinyo punya tetangga, dulu waktu muda kuliah di ITB, termasuk pemakai jilbab pertama di desa Sinyo. Waktu itu orang-orang heboh (padahal ya sebagian besar muslim), terkejut, shock dan menjadi buah bibir masyarakat bahwa dia sebagai pendobrak tatanan adat-adat setempat yang masih asing dengan Islam. Setelah mendapat beasiswa untuk belajar di luar negeri, khabar terakhir yang sinyo dengar bukan hanya jilbab yang dicopot bahkan “iman” sebagai seorang mukminin juga dilepasnya. Sedih…?

Lingkungan dan pergaulan memang sangat kuat dan hebat dalam mengubah pola pikir dan tingkah laku yang kita kerjakan. Sinyo punya temen yang bekerja di hotel, awal mula dia sudah tidak setuju untuk dimasukkan di bagian penjualan minuman (karena maaf, biasanya di hotel menjual minuman berakohol). Namun lambat laun dia tidak hanya menjual bahkan juga ikut menikmati minuman tersebut.

Tidak usah jauh-jauh, bagi kita yang mengerti hukum Islam, jilbab adalah wajib adanya. Namun karena kita terbiasa melihat di TV, di jalan dll wanita muslimah tanpa berjilbab maka hal yang semestinya kita pertahankan yaitu minimal menolak dalam hati (selemah-lemahnya iman adalah menolak kemungkaran dalam hati) perbuatan para wanita tersebut sedikit demi sedikit hilang dan punah. Kita jadi terbiasa dan bahkan menikmati wanita-wanita muslimah yang tampil tanpa berjilbab.

Bukan hanya untuk anak keturunan kita saja namun juga bagi diri kita sendiri untuk memilih lingkungan dan pergaulan yang Islami. Jangan sekali-kali mencoba untuk memberanikan diri merasa kuat melawan kedzaliman secara sendiri tanpa disertai kawan-kawan. Karena rayuan-rayuan yang ada serta menggoda akan meruntuhkan kekuatan kita, masih mendingan apabila kita hanya terjerumus maksiat mata, tangan atau tubuh. Celakalah kita apabila iman kita sampai tergadaikan sebab karena pergaulan dan lingkungan.

Banyak kisah-kisah nyata baik jaman dulu atau sekarang yang menunjukkan bahwa lingkungan dan pergaulan sangat mendominasi kehidupan. Sebab itu wahai para saudaraku, masihkah kita memilih pergaulan dan lingkungan yang jauh dari kata Islami? Jika kita saja yang dewasa dapat terlarut dan bahkan terhanyut apalagi putra-putri kita yang masih lugu dan bersih. Televisi, radio, sekolah, kampung dll adalah salah satu komponen lingkungan dan pergaulan, mari kita pilih yang aman untuk bekal kita menghadap Allah SWT.


Responses

  1. assalamu’alaikum
    Jika komenku salah mohon maaf bapak,, Isi dari Tulisan bapak adalah sebuah fenomena,, yang telah terjadi dan akan terus terjadi. Mengapa bisa seperti itu? beranikah kita bertanya pada diri sendiri? bahwa semua yang terjadi di luar sana sebenarnya kitapun ikut menanggungnya, kontribusi kita terhadap demoralisasi atau hancurnya sebuah peradaban yang santun yang bijak yang sesuai dengan norma-norma agama adalah sangat besar. tidak sedikit orang yang di sebut ulama, memberi contoh kepada generasi muda dengan tindakan yang menyimpang, tidak perlu kita sebutkan disini. yang terjadi di luar sana adalah manifestasi dari pikiran kita. he he bapak maaf ya, suatu saat mungkin kita harus memulai memberikan pelajaran dengan detil, bukan hanya yang tersurat saja, yang tersirat pun harus di jelaskan secara gambalang biar keimanan dan ke aliman yang muncul tidak lagi ke aliman yang semu..
    wassallam

    Komentar Sinyo
    Terima kasih dhe atas masukannya, hmm..yang salah cuma salah ketik koq hehehhe kalau di dan ke menunjukkan tempat baru dah dipisahšŸ˜‰ Peace dan Wassalam.

  2. emg dunia kita mau mendekati akhir jd smua mmg udh byk yg berakhir trmsk jg moral norma akal pikiran krn kemajuan teknologi tpi ya itu manusianya yg tdk mau milah2 takut diblg cupu ketinggalan jaman /TREND gitu lho maklum

  3. assalamu`alaikum
    “biasa” yang biasa itu akhirnya jadi kebiasaan
    dan kebiasaan yang buruk membuahkan hasil yang buruk.šŸ™‚
    lebih baik mencari kebiasaan yang baik agar hasilnya jauh lebih baik iyakan pak?
    hal2 buruk jangan d jadikan kebiasaan. wahh fenomena yg selalu terjadi. yukk merubah diri ;))

    Komentar Sinyo
    Wa’alaikum salam wr.wb.
    Benar dhe, masih ingat pelajaran agama waktu SD, guru menjelaskan “kebiasaan” adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang. Semoga kita semua dapat meninggalkan kebiasaan buruk dan berhijrah kepada kebiasaan yang baik, amiin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: