Posted by: sinyoegie | May 27, 2008

Belajar dari Kotoran (Tahi)

Tinggal di kampung memang cukup seru. Salah satu hal yang unik adalah, kadangkala tetangga kita mempunyai peliharaan binatang seperti ayam, anjing, kucing atau bahkan monyet yang dilepas secara liar tidak dimasukkan dalam kandang. Berbeda tentunya dengan di kota (apalagi pakai kata “besar” hehe seperti Jakarta, Surabaya atau Semarang), maka sudah dikatakan tidak ada orang memelihara hewan semacam unggas yang dapat berlari-lari bebas dari satu rumah ke rumah yang lain.

Kalau para tetangga atau bahkan Bunda Sinyo sering marah-marah jika hewan-hewan tersebut buang hajat sembarangan maka Sinyo lebih tertarik dengan hasil buangan tersebut. Yak, tepatnya kotoran atau sering disebut “tahi”. Bentuknya unik-unik dan lucu-lucu. Perilaku hewan dalam menyikapi kotoran masing-masing tidak luput juga dari pengamatan Sinyo. Berikut beberapa hasil pengamatan tersebut:

  1. Ayam: adalah mewakili binatang yang membuang kotoran seenaknya sendiri, tidak diperhatikan dan melihat-lihat dahulu. Pokoknya asal buang saja, caranya juga lucu dengan setengah menekan kaki dan menurunkan “pantatnya” degan sedikit ketegangan di wajahnya maka keluarlah kotoran tersebut. Jika normal kadang berwarna-warni sesuai dengan yang dimakan. kalau sedang sakit perut yah gitu dah encer. Seperti type orang yang sangat egois, tindakan yang dilakukan hampir tidak memikirkan akibat dan dampaknya terhadap orang lain. Jangankan memikirkan alam sekitar, manusia saja diabaikan.
  2. Anjing: mewakili binatang yang sangat congkak dan sombong. Saat membuang kotoran dia memilih daerah-daerah tertantu yang menjadi kekuasaannya. Kencing adalah salah satu tanda untuk memberi “bendera” wilayahnya (Makanya jangan heran kalau melihat anjing sering mengendus-endus dahulu sebelum memasuki wilayah yang bukan kekuasaanya). Kotoran anjing sebagian besar normal, jarang Sinyo menemukan ada anjing berak dengan hasil luber. Mereka tidak berusaha menutup kotorannya dan tempat yang dipilih juga merupakan daerah kekuasaan dia. Gambaran ini seperti manusia yang suka menonjolkan diri, tidak mudah percaya dengan orang lain dan merasa sempurna. Hasilnya adalah orang-orang yang susah untuk mendengarkan pendapat, kritikan dan masukan dari orang lain.
  3. Kucing: mewakili binatang yang tahu diri, dia akan berusaha menutup semua kotoran yang dibuangnya bahkan saat tidak ditemukan tanah atau pasir sekalipun. Baik kencing atau berak dia berusaha mengais-ngais menutup kotoran yang sudah terbuang. Dia juga akan mencari tempat yang relatif sepi, tidak dipakai untuk umum dan tersembunyi. Jika tidak tertutup maka dia sendiri tidak bakal tahan oleh bau kotorannya. Deskripsi tentang manusia normal yang masih mempertimbangkan akibat dari tindakan dan perbuatannya kepada orang lain. Walau kadangkala saat terpaksa dia juga masih mementingkan dirinya sendiri, wajar?
  4. Cicak: Tidak mewakili hewan manapun, Sinyo hanya tertarik dengan bentuk tahinya yang sangat unik dan menarik. Kenapa setiap kotoran cicak terdiri dari hitam dan putih saja apapun makanan dia? Berbeda dengan ayam atau hewam lainnya yang berubah-ubah. Lucunya lagi ujungnya selalu putih setelah hitam terlebih dahulu, seperti sentuhan seorang ahli kue tart saja, mamakai cetakan. Kecuali cicaknya lagi”mencret” loh ya, kabur dah warnaya. Kalau masalah bau, amit-amit dah jangan sekali-sekali menyentuhnya kala masih basah, hihihiii….. Sunggu besar kuasa Sang Pencipta yang dengan mudahnya menjadikan hal tersebut.
  5. Manusia: tidak mewakili hewan apapun termasuk mamalia, Sinyo ingin mengungkapkan bahwa sungguh ajaib juga kotoran manusia. Saat di dalam masih halal seluruh tubuh kita (termasuk kotoran yang di dalam) begitu keluar bisa jadi najis dah. Seharusnya kita paham bahwa dalam tubuh kita banyak kotoran-kotoran yang tanpa kita sadari menumpuknya setiap hari, kemudian setelah banyak dibuang. Begitulah seharunya manusia, rasa iri, dengki, khianat dll harus dibersihkan dan dibuang jauh-jauh jika ingin rohani kita sehat. Layaknya jasmani yang segar bugar kala kita rutin mengeluarkan kotoran di dalamnya. Jika pernah kita mengalami tidak dapat buang air besar, begitulah adanya jiwa kita saat kita menumpuk keburukan hati.

Jangan sepelekan kotoran-kotoran yang berada di sekitar kita, segera buang dan bersihkan agar hidup kita nyaman termasuk kotoran dalam hati ini. Peace ah.


Responses

  1. Menilai sifat orang lain memang mudah dan justru kadang kita tidak sadar dengan kekurangan pada diri kita. Seperti pepatah kuman di seberang lautan tampak gajah di pelupuk mata tiada tampak. Dan akan lebih bijaksana kiranya jika kita lebih baik menilai diri sendiri dan mengevaluasi dan berusaha mamperbaiki..Tak ada ganding yg tak retak,tak ada manusia yg sempurna karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, tapi alangkah baik kita memulai menjadi baik dari diri kita sendiri….

    Mei 27,2008 ketika malam membawaku berangan tentangmu….

  2. thanks,, aku juga suka belajar tentang tai,,

    gabung di grup facebook yah

    Tai Wangi

    Komentar Sinyo
    Weh…apa tuh Tai wangi?

  3. http://www.facebook.com/group.php?gid=248963704800#!/?ref=home

    liat aja itu link grupnya !!!

  4. makasii…
    aq skrg dah tau tentang tahi….
    hehehe….
    :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: