Posted by: sinyoegie | June 2, 2008

Saat Kita Menjadi Rakus

Kata “rakus” sebenarnya istilah yang dipakai untuk hal yang berhubungan dengan makanan. Sesuai perkembangan jaman kata tersebut mulai mengalami pelebaran makna bahkan mulai menggeser kata “tamak”. Orang lebih suka menyebut seseorang yang tamak dengan kata “rakus”. Rakus adalah sifat yang sudah ada sejak kita lahir, waktu masih kecil kita sering ingin menguasai berbagai hal (misalnya makanan, mainan atau hal yang lain) entah itu milik sendiri atau orang lain.

Biasanya sifat tamak atau rakus tersebut akan semakin berkurang saat kita mulai tumbuh dewasa. Mengenal kepentingan orang lain, hak dan kewajiban serta mekarnya rasa sosial dalam diri. Namun kadangkala atau bahkan dalam diri beberapa orang sifat tamak atau rakus ini masih sering muncul apalagi ketika kita melihat kesempatan untuk memuaskannya terbuka lebar.

Masih ingat saat Sinyo masih duduk di Sekolah Dasar, pada hari Lebaran (Idul Fitri) melihat berbagai makanan dan minuman “gratis” tersedia, tanpa mengingat minimnya perut, maka banyak yang masuk ke dalamnya. Hasilnya Sinyo bahkan terbaring lunglai beberapa hari dikarenakan sakit perut yang berkepanjangan hasil dari “kerakusan”.

Tahun 2008 Sinyo juga mengalami, walau sudah dewasa dan seharusnya tidak melakukan “kerakusan”, Sinyo terjebak juga untuk memuaskan sifat yang kadang susah dikendalikani ini. Awal tahun Sinyo mulai mencari komunitas penulis, menemukan banyak hal baru termasuk lomba-lomba menulis. Bagai orang yang kehausan di tengah padang pasir dan menemukan oase yang begitu jernih, Sinyo hampir mengikuti semua lomba penulisan yang ada. Tentu saja tanpa memperhatikan bobot dan kualitas karena bertujuan hanya “memenangkan uang hasil lomba”. Bahkan sampai ada lomba menulis buku untuk anak SD Sinyo kerjakan sekitar 5 hari saja hihihihi… jelas jauh dari kualitas yang bagus.

Sinyo baru sadar akan hal itu saat badan mulai sakit dan membaca ulang tulisan-tulisan yang sudah terkirim. Ah bisa-bisanya ya Sinyo terjebak, tapi tidaklah mengapa berarti Sinyo masih manusia. Seorang muslim yang baik berusaha jangan sampai terperosok dua kali. Kini Sinyo menulis hanya saat waktu luang dan mengikuti lomba bila memang sudah siap bahan-bahan serta sumber daya yang ada. Jangan sampai mengacaukan tugas-tugas utama bahkan mengurangi hak tubuh untuk dirawat dan dijaga atau hak keluarga untuk diperhatikan.

Berhati-hatilah wahai saudaraku, saat sifat tamak dan rakus mulai menguasai kita, karena kemungkinan itu adalah awal dari kehancuran, bukan hanya di dunia tapi bisa berlanjut ke akherat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: