Posted by: sinyoegie | June 10, 2008

Milik Siapa Tangis?

Menjalani hidup bolak-balik kota Magelang dan Semarang banyak pengalaman unik yang membuat Sinyo teringat saat masih kuliah. Dulu Sinyo kuliah di dua tempat yaitu ABA YIPK (ambil Bhs. Inggris) tidak diteruskan karena tak ada biaya dan di IKIP Yogyakarta (ambil Pend. Bhs. Perancis) Alhamdulillah lulus walau terseok-seok. Pernah suatu kali saat naik bus jalur 11 Sinyo melihat di pinggir jalan ada orang cacat kakinya yang cukup kepayahan memutar lajunya kursi roda dan tentu saja menghindari jalan yang tidak rata. Waktu itu Sinyo sempat menangis melihat keadaan orang tersebut. Kenapa menangis…?

Sinyo menangis bukan karena kasihan kepada orang tersebut, tapi kepada diri sendiri. Berpikir jika orang yang cacat tersebut ikhlas kepada Allah atas apa yang diberikan kepadanya, sungguh bersyukur sekali dia karena kakinya diusahakan hanya untuk melakukan hal-hal yang baik. Jangan pikir untuk melangkah kepada hal yang jahat, untuk mencari jalan yang baik saja susah sekali. Semantara kita yang sehat saja tidak terpikir akan hal itu, bahkan ada sebagian saudara kita yang menggunakan kedua kakinya untuk modal berbuat kejahatan.

Jika suatu saat nanti salah satu dari saudaraku sekalian naik bus Jurusan Jogja-Semarang (ingat naik bus ekonomi ya) maka biasanya ada dua pengamen gagu yang kemungkinan akan dijumpai. Satu orang di pertigaan kota Secang, suara sember plus gagu dengan menggunakan rebana kecil berwarna hijau. Salah satu kejadian saat dia diusir oleh kondektur Sinyo jadikan cerpen. Seorang lagi di jalan utama akan keluar dari Semarang menuju Jogja, sama gagunya dengan tinggi badan yang bongsor membawa “kentrung” atau gitar kecil khas Jawa Tengah/Yogyakarta. Mereka berdua begitu semangat bernyanyi, sama sekali tidak nyaman di telinga namun tentu orang-orang tidak tega untuk mengusirnya. Bagaimanapun (terlepas dari perbedaan hukum nyanyian dan musik) mereka dalah orang-orang yang berusaha berbuat baik dalam menjemput rizki Allah. Susah sudah pasti itu dan mungkin mereka juga malu atas suara mereka sendiri. Sinyo kemudian jadi teringat orang cacat yang di Jogja, mereka sama-sama berusaha berbuat baik walapun susah sementara kita yang sehat sempurna kadangkala masih saja bisa memaki dengan kata-kata yang tidak bermanfaat, ghibah, namimah dll. Bahkan acara gosip begitu diminati, tidak hanya kaum wanita saja, para lelakipun sudah banyak yang terjangkiti.

Kalau sebelumnya Sinyo masih bisa menangis, kali ini susah, mungkin hati Sinyo pun mulai cacat atau jangan-jangan tangis itu sudah pergi untuk menghinggapi orang-orang yang masih selalu ingat akan kebesaran Allah. Milik siapa tangis itu?

Berikut cerpen Sinyo yang terinspirasi dari salah satu pengamen gagu.

Sedari malam gerimis membasahi kota tercinta ini, bahkan saat harus berangkat ke Semarang titik-titik air ikut mengiringi langkahku. Beberapa kali kuloncati genangan kecil air agar sepatuku tidak terlalu basah. Jaket yang kupinjam dari suami cukup menghangatkan tubuh dari dinginnya kota Magelang. Mungkin hari ini aku akan datang terlambat karena tadi pagi putraku sedikit rewel, musim pancaroba membuatnya sedikit susah tidur.

Kutengok jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, bus yang kutunggu belum datang juga. Alhamdulillah jaket suamiku ternyata ada topi kerudungnya sehingga jilbab tidak terlalu basah oleh gerimis. Akhirnya bus jurusan Jogja-Semarang datang juga, masih lumayan kosong mungkin banyak orang kesiangan dan malas berangkat kerja karena kedinginan. Kupilih bangku sebelah kiri karena biasanya saat langit cerah matahari menyilaukan mata dari arah kanan, selain itu bagian kiri hanya terdiri dari dua tempat duduk saja, lebih nyaman daripada tiga tempat duduk di sebelah kanan.

Untung hari ini tidak ada berkas-berkas penting yang kubawa sehingga tidak terlalu repot menghindarkan dari air hujan, buku kecil yang akan dipinjam oleh teman sekantor masih muat dalam tas kerjaku sehingga aman. Kabut tipis masih menyelimuti sebagian besar jalan yang dilalui bus, wajah-wajah kedinginan tampak dari para penumpang, sang kondektur pengertian karena semua jendela kaca ditutup rapat sehingga angin tidak ada yang masuk. Beberapa penumpang bahkan sudah tertidur lelap memanjakan mata mereka yang berat.

Bus berhenti sebentar di terminal kecil kota Secang, tidak betul-betul masuk terminal hanya di pertigaan jalan depan terminal. Kulihat para pedagang gorengan dan makanan sibuk melayani pembeli yang menyemut. Mereka sangat menikmati minuman teh dan kopi panas serta mengunyah dengan lumat gorengan yang masih hangat. Tertawa dan bercanda dengan beberapa teman yang tampaknya satu profesi. Mungkin bagi mereka pagi ini sangat indah, saat hujan gerimis masih bisa dengan leluasa menimati hidangan yang membuat tubuh terasa hangat. Aku sendiri tadi hanya sekedar minum air jahe untuk penghangat, tidak sempat makan cemilan karena takut terlalu siang sampai kantor.

“Breng..selamat pagi Ibu dan Bapak sekalian…Kami dari pengamen jalanan….eh.”

Aku kaget juga mendengar tamburan rebana dan suara pengamen yang akan bernyanyi namun tidak jadi beraksi, rupanya kondektur melarangnya karena bus tidak akan berhenti lama. Pengamen itu turun kembali dan mendekap rebana kecil berwarna hijau, dengan bibir kedinginan dan badan yang menggigil dia berteduh di dekat warung-warung terbuka tadi. Dipandanginya orang-orang yang sedang makan dan minum, kulihat dia beberapa kali menelan ludah. Hatiku trenyuh dan miris, andai saja masih ada kesempatan untuk turun sudah kubelikan orang tersebut beberapa makanan kecil dan minuman hangat, namun bus sudah mulai bergerak karena akan datang bus lain yang menggantikannya.

Tak terasa mataku meneteskan air mata, kasihan sekali pengamen itu. Banyak sekali pengamen-pengamen sepanjang perjalanan Jogja-Semarang, baik itu sendirian atau berkelompok. Pengamen tadi mungkin salah satu yang kesulitan mencari pekerjaan sehingga harus mengamen dengan suara yang sember dan rebana yang tidak merdu sama sekali. Aku hanya bisa berdoa mudah-mudahan pada bus berikutnya dia bisa mendapatkan uang untuk membeli makan pagi di hari yang dingin ini. Kalau dia sudah punya keluarga terus bagaimana? Sementara untuk dirinya sendiri tampak kesulitan begitu. Tubuhku semakin terasa dingin kurapatkan jaket dan kudekap tas agar semakin hangat.

Teringat cerita suami tadi malam bahwa dia mempunyai beberapa teman dan rekanan bisnis di jakarta sanaAda yang dalam semalam bisa menghabiskan puluhan atau bahkan ratusan juta hanya untuk bermain game atau sekedar kebut-kebutan di jalan. Salah satu temannya bahkan mempunyai ikan yang di dunia ini hanya ada beberapa puluh saja, tentu dengan harga selangit yang jika kita bayangkan bisa dikatakan tidak masuk akal. yang mempunyai hobby boleh dikatakan gila menurut orang-orang yang susah mencari uang.

Membandingkan cerita suami dan melihat pengamen tadi rasanya seperti langit dan bumi, yang satu begitu mudah membuang uang sementara yang lain untuk sekedar mendapatkan recehan harus kena usir oleh kodektur. Entah sebetulnya siapa yang miskin di negara ini. Negara yang terkenal akan sumber daya alamnya namun dkatagorikan sebagia negara berkembang atau ketiga alias miskin. Anehya mobil-mobil baru semakin banyak di jalanan, rumah-rumah menterang menjamur di mana-mana. Sawah-sawah yang dulu kelihatan segar dipandang mata sekarang semakin habis berganti gedung-gedung mewah dengan warna-warni yang indah pula walau tidak sejuk di mata.

Jangan-jangan yang miskin sebenarnya adalah hati orang-orang yang tinggal di negara ini. Miskin melihat sekitarnya yang kekurangan, miskin mendengar jerit tangis bayi-bayi yang kelaparan dan miskin untuk mengetahui bahwa banyak yang membutuhkan uluran tangan mereka.. Hanya Allah yang Maha Tahu, harus dimulai dari mana dan bagaimana caranya negara ini diperbaiki. Aku hanya bisa berusaha memulai dari diriku, keluargaku dan anak-anak didikku.

“Wa’alaikum salam bu, iya ini saya sedang dalam perjalanan”

“Sana juga hujan ya bu?”

“Maaf bu kalau saya terlambat soalnya tadi putra agak rewel”

“Tidak-tidak, saya bawa koq buku yang ibu inginkan, ditunggu ya bu dan terima kasih, wa’alaikum salam”

Kumasukkan kembali telepon genggamku. Ternyata Semarang juga hujan gerimis, sama dengan daerah-daerah yang kulalui bersama para penumpang lainnya. Berarti merata hampir seluruh Jawa tengah, sejauh mata memandang memang langit begitu kelam dan kelabu. Aku jadi teringat dengan sang pengamen. Berarti pagi ini di sepanjang daerah yang dihujani gerimis lebih banyak lagi orang yang senasib dengan pengamen tadi. Susah mendapatkan sesuap nasi, makanan, atau sekedar teh panas untuk menghangatkan badan. Bibir-bibir mereka bergetar, menggigil, dan gigi beradu untuk menahan hawa yang sangat dingin membalut tubuh mereka.

Sementara aku hanya bisa berdoa mudah-mudahan mereka semua diberi kemudahan dalam menggapai hal-hal yang baik, semoga hati orang-orang yang berpunya terketuk hatinya guna menyisihkan sebagian harta mereka untuk sesama. Aku terdiam membisu memandangi lereng-lereng pegunungan yang kulalui, kabut masih setia menanti datangnya matahari.

(Tgl 10 September 2008, cerpen ini Sinyo anggap tidak ada, cuma jadi sejarah)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: