Posted by: sinyoegie | July 19, 2008

Hematlah! Untuk Siapa?

Saat ini kita semua tahu, bahwa negara Indonesia sedang mengalami krisis listrik. Berbagai macam alasan penyebabnya mengemuka , ada yang berpandangan karena monopoli yang tidak sehat, naiknya BBM, bertambah pesatnya jumlah pemakai, sampai dengan pencurian listrik. Dampak bagi perekonomian juga tidak perlu dipertanyakan lagi karena sudah biasa nongol di TV, koran atau media berita lainnya. Salah satu usaha PLN (mohon dibaca negara) adalah dengan mengajak berhemat dalam pemakain listrik.

Iklan penghematan listrik bertebaran di mana-mana, mulai di televisi, koran, spanduk dan baligho di jalan serta banyak media lainnya. Kita semua dianjurkan menghemat listrik (bahkan jam penghematan disebutkan), tentunya saran tersebut berlaku untuk semua penduduk yang tinggal di negara ini tanpa kecuali.

Tentu kita akan berusaha mentaati himbauan dan saran tersebut agar listrik dapat berjalan lancar sesuai dengan keinginan PLN dan semua penduduk negeri ini. Jika ada sebagian yang tidak melakukannya maka boleh jadi akan “percuma” semua anjuran tersebut.

Jika kita sudah merasa berhemat listrik, sekarang mari kita tengok sejenak di luar rumah coba susuri jalan-jalan protokol di kota kita pada malam hari. Masih banyak pemakaian listrik yang tidak semestinya dilakukan oleh banyak pihak. Ambil contoh saja di jalan-jalan protokol sudah terdapat lampu penerang jalan yang cukup besar watt-nya, semestinya lampu-lampu sekunder yang terdapat pada hiasan taman kota, neonbox iklan-iklan yang berderat sepanjang jalan dan masih banyak lagi dapat dimatikan. Padahal lampu-lampu “hiasan” tersebut berdekatan atau bahkan ada di bawah lampu utama penerang jalan.

Tidak hanya itu, teruskan perjalanan ke perumahan-perumahan elite, institusi-institusi seperti bank pemerintah atau swasta, rumah pejabat dll. Kekecewaan yang akan kita dapatkan, jangankan berhemat, lampu-lampu hiasan yang sebetulnya dapat dimatikan sementara waktu masih dihidupkan. Bahkan kalau mau lebih berhemat, logo-logo nama kantor dapat dimatikan jika memang hanya buka di siang hari. Hal utama yang perlu dihidupkan adalah penerangan untuk keamanan saja.

Mungkin karena kita sejak kecil sudah dibiasakan tertarik dan terpesona dengan warna-warni cahaya lampu di malam hari sehingga rasanya akan banyak hal yang hilang jika dimatikan. Konsekuensinya adalah pemadaman listrik bergilir selama 5-8 jam sehari entah setiap sepekan, dua pekan atau sebulan. Biaya iklan penghematan listrik melalaui berbagai media sudah habis berapa kita mungkin tidak tahu, yang jelas sampai saat ini masih belum efektif dan sebaiknya digunakan untuk hal bermanfaat lainnya. Begitukah?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: