Posted by: sinyoegie | August 6, 2008

Bunda Mendukungmu, Anakku

Tulisan berikut berdasarkan wawancara Sinyo dengan temen yang berprofesi sebagai wartawan, karena Sinyo sedih mendegar kisahnya maka saya abadikan berikut ini:

Mempunyai anak yang sehat, kuat, cerdas, tangkas dan normal adalah dambaan setiap insan di dunia ini. Bahkan saat dia seorang gay atau lesbian juga tetap menginginkan kehadiran sang buah hati. Begitu juga dengan diriku, seorang wanita yang sudah menikah dan berprofesi sebagai wartawan. Alahamdulillah, empat tahun yang lalu putraku lahir sehat dan normal. Kuberi nama dia Syahrul Putraku Bintang, karena bagiku dia memang laksana bintang yang berkedip-kedip mewarnai mewarnai relung hatiku. Rupanya Allah memberi cobaan kepadaku dan suami melalu Syahrul, sejak umur 2 bulan berbagai penyakit mendera tubuhnya yang mungil.

Tiga pekan sebelum Syahrul lahir ke alam ini, aku kecelakaan. Selama dirawat di rumah sakit kuketahui dari dokter bahwa kemungkinan besar putra dalam kandunganku akan cacat. Ya Allah, kuatkan diriku untuk tidak meneteskan air mata namun buliran-buliran lembut tetap saja mengalir dari pelupuk mataku. Rasa bersalah menghinggapi namun kusadarkan diriku bahwa masih ada Allah Yang Maha Kuasa, praduga dokter hanyalah perkiraan maka kuuntai doa agar putraku baik-baik saja.

Hari yang aku nanti akhirnya tiba jua, Alhamdulillah Sayhrul terlahir normal. Rasa syukurku tiada habisnya memandangi seorang laki-laki mungil yang begitu lembut. Rasa sakit akibat bedah cesar masih terasa, akan tetap tidak sesakit hatiku saat dua pekan kemudian dokter menemukan bahwa Syahrul mengalami pembengkokan tulang belakang yang menyebabkan disfungsi penyangga badan itu. Kemungkinan besar diakibatkan oleh kecelakaan yang kualami sebelumnya.

Pembengkokan itu tak hanya mempengaruhi bentuk badan putraku namun juga menjalar kepada kurangnya produksi kalsium serta darah merah. Suhu tubuhnya sangat mudah mencapai 42 derajat disertai diare. Ya Allah jika saja aku dapat menggantikan sakitnya, andai saja hamba ini dapat mengambil setengah saja dari nyeri yang dideritanya. Tidak hanya sehari dua hari Syahrul terkapar tak berdaya di rumah sakit, 17 bulan aku dan suami bergantian menungguinya di rumah sakit. Dokter, suster sampai tukang bersih lantai sudah seperti saudara sendiri karena terlalu lamanya Syahrul di sana.

Umur 20 bulan tulang belakangnya mulai mengalami perbaikan dan sudah lurus kembali, hampir dua tahun kami hidup bersama di rumah sakit. Therapy harus dijalani Syahrul kecilku, hatiku sedikit lega walau seluruh raga terasa tersiksa. Allah Maha Suci, cobaan didatangkan kembali untuk menguji kami semua, belum lama menjalani therapy Bintangku terkena radang paru-paru basah. Ya Allah, disaat hati sudah mulai kembali ceria, Kau hadirkan kembali hadangan yang menjulang. Aku tetap bertahan, bukan untuk hanya diriku namun yang terpenting mendampingi putraku.

Waktu berjalan cepat, Syahrul mulai sehat dan dapat kembali normal. Sampai umur 4 tahun buah hatiku belum dapat berjalan, cobaan datang kembali dengan adanya pembengkakan hati. Namun kali ini semua itu sudah tidak menjadikanku sakit, luka di hati ini telah mengeras dan membatu. Diriku sadar bahwa kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi si masa depan, hari ini kuperjuangkan untuk tetap membimbing Syahrul di jalan Allah.

Saat semua playgroup menolak Syahrul (Ya Allah, semoga mereka benar-benar tidak sanggup bukan karena menjahui ketidakmampuan fisik anakku), aku berusaha mendirikan sendiri sebuah sekolah untuk pendidikan anak usia dini. Bintangku harus belajar bersosialisai, mengetahui bahwa di luar sana banyak orang berjuang keras untuk dapat berbuat lebih baik. Saat para guru kuwalahan dengan celoteh-celoteh uniknya atau kerepotan dengan permintaan aneh darinya telponku selalu berdering.

“Bunda masak Ayun (Syahrul) suruh membuat kereta api dari balok kayu, bukankah kereta api harus ada rel-nya, besinya, lampunya?”

“Bu guru bilang, siapa punya adhe? Khan Bunda saja mengatakan kalau satu Ayun (Syahrul) sudah bikin pusing. Apalagi punya adhe banyak ya?”

“Bunda salah, habis Alif itu bukan Baa tapi Lam, itu si Nagabonar bilang begitu”

Ya Allah, mungkin saja apabila dia dalam keadaan normal akan semakin banyak hal yang akan ditanyakan dan diprotes. Aku kadang hanya tersenyum mengusap kepalanya atau menjelaskan semampuku sambil kadang kucubit pipinya karena gemas.

Nak…mungkin Bunda belum dapat memberikan yang terbaik bagimu, tapi percayalah selama jiwa ini masih melekat dalam raga walau harus meneteskan darah Bunda akan selalu mendukungmu untuk selalu maju. Jangan khawatir dengan segala hal sakit yang kau derita, itu hanyalah obat yang akan mengguggurkan dosa-dosamu jika engkau ikhlas serta menjadikannya sebagai pengingat bahwa dunia ini hanya fana, insyaa Allah, enkau akan selalu dalam ridho-Nya. Amiin. Bintangku..selamat malam Nak.

Sinyo berdoa, buat Dhe Syahrul dan Bundanya, shabar yašŸ˜‰


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: