Posted by: sinyoegie | August 19, 2008

Saat Sejarah Terlupakan

Beberapa hari sebelum tgl 17 Agustus 2008, Sinyo amati sejumlah kantor, kampung atau kawasan penghunian baik yang berada di Magelang atau sepanjang jalan Magelang-Semarang sebagian sudah mengibarkan bendera kebangsaan beserta umbul-umbul dan pernak-pernik lainnya.

Entah kenapa dari pengamatan tersebut rasanya jauh berbeda dengan keadaan waktu Sinyo masih kecil. Dulu tahun 80-an awal masyarakat masih sangat antusias menyambut hari kemerdekaan. Perkiraan Sinyo karena sebagian besar para saksi sejarah terlepasnya Indonesia dari penjajahan masih hidup, sehingga mereka giat menggerakkan para pemuda dan anak-anak untuk menyambut hari “Kebebasan” dengan semangat menggebu. Mereka berusaha menularkan apa yang dirasakan dari generasi sebelumnya kepada generasi yang baru.

Saat ini hal tersebut cukup banyak berubah, lihat saja, beberapa kantor atau rumah terlambat mengibarkan bendera atau bahkan lupa sama sekali. Terlepas dari boleh tidaknya merayakan hari ulang tahun, pemandangan perayaan kemerdekaan seperti yang kita lihat tentu cukup mengecewakan para pejuang (sudah lansia pastinya), apalagi disaat bersamaan bangsa ini banyak terpuruk dalam berbagai segi terutama moral.

Tidak ada yang dapat dipersalahkan karena memang seperti itulah manusia, mudah melupakan sejarah. Jangankan pada waktu dan tempat yang sama sekali asing tak terjangkau kecuali lewat imaginasi otak, sedangkan hal bersejarah yang belum lama terjadi pun kadang sudah terlupakan.

Apalagi hanya pejuang negeri, orang terbaik sepanjang sejarah di dunia ini (yaitu Rasul) juga sudah terlupakan oleh kebanyakan manusia. Kita hanya dapat “membayangkan” dan berusaha semaksimal mungkin memahaminya lewat berita, tulisan dan catatan sejarah yang ada. Semakin jauh sebuah generasi dari jaman Rasul maka akan semakin asing dirasakan. Generasi baru tersebut akan berusaha memahami dan mencontoh dengan nyata dari apa yang dilihat, dirasakan, dipahami secara kasat mata dari generasi sebelumnya.

Berharap bahwa anak-anak kita masih mau mengingat, mencontoh dan memahami “sejarah” yang kita buat. Tinggal menentukan, sejarah apakah yang akan ditorehkan kepada mereka. Apapun pilihannya kita akan membuat mata rantai sejarah entah sebagai orang yang ingkar kepada Rasul atau sebaliknya berusaha menghidupkan jejak beliau dalam kegiatan sehari-hari walah masih jauh dari sempurna. Selama masih ada kehidupan maka harapan akan selalu tersisa.

Hari ini, sejarah apa yang akan kita kenangkan bagi generasi selanjutnya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: