Posted by: sinyoegie | September 11, 2008

Haramkah Cerita Fiksi?

Seperti bakat-bakat lainnya, menulis dikaruniakan kepada semua orang. Saat anak kecil mulai berkomunikasi melalui coretan-coretan yang dapat dipahami oleh orang lain dapat dikatakan bakat menulis dan melukis mulai tampak dan tumbuh. Tidak semua bakat berkembang dengan baik, faktor internal dan eksternal sangat berpengaruh pada pertumbuhan bakat selanjutnya.

Alhamdulillah, Sinyo termasuk salah satu orang yang mempunyai bakat menulis dengan perkembangan yang lumayan baik. Awalnya Sinyo menulis fiksi (cerita rekaan) berupa cerpen, pernah juara di tingkat sekolah (waktu SMA) dan dimuat di majalah. Setelah itu Sinyo sibuk dengan mencari jati diri dan kalaupun menulis hanya di buku pribadi atau dihadiahkan kepada teman.

Hobby menulis membawa Sinyo menjadi kontributor utama untuk majalah Winning Eleven dan majalah Hot Game (untuk komunitas WE) terbitan Gramedia. Sadar bahwa manfaat dari tulisan itu untuk di akherat kelak tidak ada manfaatnya kemudian Sinyo kembali ingin menulis fiksi dengan kisah-kisah Islami. Maka Sinyo bergabung dengan milis FLP (Forum Lingkar Pena) yang sudah terkenal kosen dalam bidang tulis menulis fiksi.

Rencana menulis fiksi sudah Sinyo pogram dengan baik, bahkan penelitian telah dilakukan beberapa waktu (menguras tenaga dan biaya) agar nantinya cerita rekaan yang Sinyo hasilkan bagus. Tapi Allah berkehendak lain, pada bulan Ramadhan 1428 H ini Sinyo kembali ragu-ragu untuk menulis cerita fiksi. Sinyo berusaha teleusuri kembali site-site yang meng-“haram”-kan dan yang membolehkan cerita fiksi (Silahkan cari di search engine). Beberapa hari Sinyo sempat merenung semua masukan yang ada.

Ragu-ragu masih saja mendera sampai saat ini, kemudian Sinyo teringat pesan Rasul agar kita menjahui hal yang ragu-ragu dan menuju kepada sesuatu yang sudah pasti. Betul, daripada Sinyo pusing sendiri memikirkan cerita fiksi haram atau tidak maka Sinyo putuskan saja untuk menulis cerita yang memang nyata (tentu dengan isi yang tidak melanggar syariat Islam).

Sinyo salut dengan orang-orang yang meng-“haram”-kan cerita fiksi dengan berbagai argumennya, tapi juga tetap menghormat pilihan saudara-saudara muslim lainnya yang mempertahankan bahwa cerita fiksi “boleh” hukumnya lewat semua hujjah yang dimiliki. Tinggal Sinyo yang berdiri di tengah-tengah, ragu, bimbang dan bingung. Sebelum tingkat stress yang lebih parah datang maka Sinyo mengikuti Rasul untuk memilih yang sudah pasti yaitu menulis non fiksi (dengan isi yang lebih bermanfaat tentunya) amiin.

Ya Allah tunjukkanlah Sinyo jalan yang lurus dan benar amiin.

catatan: beberapa bahan bacaan: klik DI SINI , atau klik DI SINI


Responses

  1. Kalo saya krn belum bisa nulis fiksišŸ˜€ . Mungkin nulis opini lebih enak kali ya

    Komentar Sinyo
    Enak..? Digoreng saja dhe heheheh (sekedar bercanda ini lo yašŸ˜‰ )

  2. abu ahza…kalo menurut fatwa ulama…menulis fiksi itu tidak boleh dgn alasan cukuplah riwayat yang telah shahih pengabarannya..dan cukuplah pelajaran salafush sholih sbgai teladan dan pelajaran …wallahua’alam..semoga ngg kebingungan ya abu…semoga tetep istiqomah dalam non fiksi..

    Komentar Sinyo

    Semoga dibalas dengan kebaikan yang lebih banyak, amiin. Waktu itu Sinyo sebetulnya sudah ragu-ragu (bimbang), walau hati kecil tetap pada pendirian haram. Saat bimbang Sinyo sedang proses pembuatan 4 novel (berdasarkan penelitian juga). Bulan Ramadhan kemarin Sinyo mendapatkan petunjuk Allah SWT yang Maha Agung, Sinyo membaca di salah satu blog (sinyo bahkan lupa blog apa) soal cerita fiksi. Pemilik blog itu sama sekali tidak memberikan dalil atau hujjah, dia cuma mengajak berpikir seperti ini:

    ” Jika berbohong atas nama Rasul saja sudah dijamin masuk neraka, apalagi jika berbohong atas nama Allah SWT”. Cerita fiksi memuat kejadian-kejadian yang seakan-akan memang terjadi menurut takdir Allah, bahkan dalam cerita (yang dianggap Islami) disebutkan atas kehendak Allah. padahal kejadian itu tidak pernah ada sama sekali. Walau orang yang membaca atau melihat (film) tahu itu bohong, namun tetap saja atas nama Allah.

    Dalam keadaan bimbang dan bingung, Allah menguatkan hati Sinyo untuk melepas tulisan yang berbau fiksi. Bahkan tulisan non fiksi (namun tidak bermanfaat untuk akherat, game contohnya) juga Sinyo lepaskan (walau banyak temen-temen yang bilang “sayang”). Insyaa Allah masih ada jalan lain yang lebih berkah dan sesuai dengan aturan Islam.

    Semoga kedepan kita semua lebih baik, amiin.

  3. lagi abu..menurut syekh shalih bin fauzan…di ad durar-an Naadhiroh fil fatawaa menjawab pertanyaan Apa hukum membaca dan menulis cerita fiksi….dijawab:jika cerita itu melalaikan dari mengerjakan ibadah yang wajib maka hukumnya Haram,,adapun bila cerita itu melalaikan kita melakukan hal yang sunnah maka itu makruh..yang paling baik tentunya fiksi yang di berangkatkan dari kisah nyata misalnya ilmuan islam..ato kisah2 salafus sholeh…wallahu a’lam…..semangat ya….

    Komentar Sinyo
    Iya Alhamdulillah Sinyo sudah membaca dan mempelajari alasan kedua belah pihak walau hanya leat netšŸ˜‰


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: