Posted by: sinyoegie | November 14, 2008

Adakah Mafia Dokter..?

Kata “mafia” ( atau disebut juga Cosa Nostra) pada awal mula merupakan komunitas rahasia yang bertindak kriminal di Sicilia Italy. Namun kini istilah tersebut sudah “umum” digunakan orang untuk menunjukkan hal-hal yang berbau kriminal (dilakukan oleh kelompok, satuan atau yang lain) secara rahasia, dan susah untuk dibuktikan kebenarannya. Termasuk judul di atas yang menanyakan apakah benar ada mafia yang terdiri dari orang dengan gelar pendidikan dokter?

Tulisan ini tidak untuk membuktikan apakah mafia dokter ada atau tidak, hanya menunjukkan gejala-gejala yang ditemui penulis secara langsung agar bermanfaat bagi kita semua saat berhadapan dengan team dokter.

Beberapa hari yang lalu Sinyo bersama Bunda ta’ziah (melayat) di salah satu saudara jauh almarhum Bapak. Karena terhitung sudah terlambat maka kami dapat berbincang lebih lama dengan tuan rumah, cerita yang didapatkan cukup unik.

Saat sang pasien (sudah almarhumah) dibawa ke Rumah Sakit, ternyata dokter sudah tidak sanggup menanganinya. Pihak RS diwakili oleh salah satu dokter berterusterang kepada pihak keluarga pasien tentang hal dan keadaan tersebut. Akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk membawa pulang si pasien dan akhirnya beberapa hari kemudian meninggal di rumah.

Bunda Sinyo mengatakan bahwa RS dan dokter itu telah melakukan tindakan yang baik dan benar karena berterusterang sehingga pihak pasien dan keluarganya dapat mengambil tindakan yang jelas. Tidak seperti nasib Suami (Bapak dari Sinyo). Loh.loh memangnya ada apa?

Tahun 1996, waktu itu sekitar waktu dhuha, Sinyo berada di rumah bersama Bunda dan Bapak. Bapak mengeluh sakit kepala dan pusing, oleh Ibu dikerokin. Bukannya sembuh tapi Bapak merasakan sebagian tubuhnya mati rasa. Kami bawa ke dokter terdekat, Bapak David orangnya, beliau baik menyarankan untuk diperiksa pada RS yang mempunyai scanning otak, maka segera dirujuklah salah satu RS swasta terkenal di Yogyakarta. Di sana ditangani dengan cepat, setelah melihat hasilnya ternyata dalam otak Bapak sudah terjadi kebocoran (pecah) di salah satu bagiannya (kalau tidak salah ingat hampir di tengah-tengan ubun-ubun). Kesadaran Bapak sudah mulai lenyap sehingga dapat dikatakan setengah sadar.

Karena dari pihak keluarga hanya Sinyo dan Ibu yang mengantar maka kami dipanggil oleh team dokter. Ibu waktu itu sudah siap jika memang Bapak susah untuk disembuhkan, but analisa dokter mengatakan masih bisa untuk kembali normal.

Harapan datang kembali kepada kami, terutama tentu Bunda yang sangat amat mencintai Bapak. Dengan telaten kami merawat Bapak di salah satu kamar yang cukup “mahal” di RS tersebut. Kadang Sinyo habis kuliah tidur di sana bergantian dengan kakak yang kuliah juga di Jogja. Setiap hari obat dipaksa masuk dalam tubuh Bapak, mulai dari yang berbetuk pil sampai dengan cairan. Bukan hanya bahan-bahan kimia itu saja, obat alternatifpun juga “disuguhkan” kepada Bapak.

Sekitar dua bulan lamanya kami di sana, capek lahir batin, analisa dokter masih sama. Selama waktu itu pula Bapak sama sekali dalam keadaan tidak sadar. Berbagai macam pipa yang masuk lewat tenggorokan, pembuluh nandi sampai yang harus masuk ke “kemaluan” untuk pembuangan. Pinggang Bapak membusuk karena tidur terus-menerus.

Saat kita semua betul-betul merasa letih lahir dan batin, suatu hari Bunda diajak bicara oleh salah satu perawat laki-laki yang sedang datang ke kamar Bapak. Dia menjelaskan bahwa “sebetulnya” Bapak sudah tidak ada kemungkinan untuk sembuh. Bunda marah-marah, bukan kepada perawat tersebut namun kepada para dokter RS tersebut. Bukan masalah uang (yang kalau dihitung harga emas sekarang) sekitar 200-250 juta yang telah dikeluarkan namun kenapa mereka tidak mau berterusterang saja.

Segera setelah itu Bapak “dipaksa” pulang ke rumah dan hanya bertahan kurang lebih satu bulan. Sejak itu Ibu sangat sinis sekali terhadap dokter yang tidak mau berterusterang kepada pihak keluarga pasien tentang kedaan pasien yang ditangani, Bunda menyebut dengan mafia dokter. Sinyo kadang hanya terdiam jika Bunda ingat kejadian menyakitkan itu.

Mungkin masih banyak hal serupa walau dalam bentuk dan rupa yang berbeda. Hanya saja, semua itu tidak dapat dibuktikan dengan hukum. Salah satu keterbatasan hukum dunia adalah dapat dijadikan “topeng” oleh berbagai pihak untuk mengambil keuntungan dibaliknya. Masyarakat yang tidak berdaya hanya dapat menunggu, keadilan dari sang Pencipta, kelak jika kita semua dituntut atas apa yang kita kerjakan hari ini.


Responses

  1. Pengalaman memang seperti jarum yang ujungnya tajam dan menusuk tepat dalam jidat pikiran kita… ada sebuah pertanyaan yang mungkin perlu di kemukakan, mengapa kita harus berobat, dan mengapa kita tidak berobat ketika sakit?? sebuah kata ternyata sangat berharga dalam hidup ini ” Nyawa!!! yah nyawa! demi hal tersebut kita akan rela mengorbankan apa saja yang penting kita bisa kembali sehat dan tetap bernyawa….
    3 tahun yang lalu, keponakan saya yang berusia 10 bulan di vonis eutanasia pasf. kata dokter nyawanya berada di ujung oxygen. Wildan.. nama keponakan koma selama 5 hari dia seperti di jadikan bahan uji coba. dengan kecanggihan alatnya, mulutnya wildan di buka dan pipa air sebesar jaripun di masukan dalam mulutnya, tabung di luar dipompakan dan perut keponakan seperti mainan balon, ketika tabung di tekan perut wildan menggelembung dan mulutnya berbunyi seperti bunyi anjing ( aik ).. semua mata yg memandang meneteskan air mata karena iba. karena tak tahan melihat keaadaan seperti itu, dan wildan tak ada perubahan tetap saja koma, akhirnya saya bersama keluarga memutuskan untuk membawanya pulang. nego dengan tim medis mereka keberatan, karena mereka pikir masih sanggup menangani, tapi kami sudah tidak tahan melihat wildan tidak ada perubahan. ketika kami memutuskan untuk membawanya pulang, ada salah satu tim medis yang mengatakan, ” Jika oxygen nya nanti di lepas anak anda akan mati ” Masaallah, sepertinya dialah yang mengatur hidup dan mati seseorang. saya langsung memprotes kata-katanya, dan kami tetap meminta agar oxygen yang di taruh di hidung wildan di lepas, dan dengan kesepakatan ahirnya pihak medis memperbolehkan asal yang mencabut oxygen itu dari pihak keluarga.
    Tuhan lah yang mengatur hidup dan mati seseorang, ketika oxygen di cabut pertolongan Tuhanpun datang, Tuhan memberi kehidupan kembali pada wildan, tangan yang tadinya kaku dan dingin tiba tiba bergerak… dan kami tetap pada pendirian membawanya pulang. alhamdulillah sekarang masih hidup dan sehat, mohon doanya agar kami bisa membesarkan dan mendidiknya.. Tuhan maha segalanya,,, http://www.5758hidupku.wordpress.com Thank to you sinyogie Guruku. ysf gumelar.

    Komentar Sinyo

    Doa Sinyo untuk Wildan: Semoga Allah membukakan jalan kemudahan untuk tetap bertakwa mengikuti hal-hal yang dicontohkan Rasul, begitu juga dengan paman Wildan. AmiinšŸ˜‰

  2. Semoga qt yg masih hidup, diberi Hidayah dan Taufiq o/ Alloh & diselamatkan di dunia dan Akhirat. Bagi yg telah meninggal, semoga Alloh mengampuni dosa”nya, melapangkan kuburannya dan memudahkan jalan ke surga..
    Pengalaman adalah salahsatu pelajaran yg paling berharga. ttng praktek kedokteran, baik dokter maupun pasien terlebih dulu harus sadar bahwa yg maha penyembuh adalah Alloh semata. manusia hanya berusaha. sebagai pasien, kita berhak memutuskan mau berobat atau tudak. pun berobat, hanya dia yg berhak memilih mau ke dokter ato alternatif. klo pun kita ke dokter, kitapun berhak segera menghentikan “kontrak” kerjasama dengan dokter bila tak puas. Seharusnya, seorang dokter hanya bisa menawarkan “kontrak pelayanan” bukan “kontrak hasil”. Apapun hasilnya, Alloh yg menentukan, tp dokter harus memberikan pelayanan yg maksimal.

    untuk kasus pertama (alm) bpknya mas Sinyo, waktu itu mengalami stroke. stroke bisa terjadi karena pecahnya pembuluh darah, bisa karena sumbatan. hidup/mati yg menentukan hanyalah haq sang Maha pencipta. dokter biasanya hanya bisa bicara berdasarkan teori “penelitian” atopun pengalaman klinis ttng peluang hidup pasien. hikmah yg dpt diambil, bila anda mulai tdk puas dgn pelayanan dokter, anda punya HAK PENUH untuk mencari Second Opinion (ke dokter lain), bahkan memutuskan kontrak.
    Segala tindakan yg dilakukan dokter, harus disetujui pasien/keluarga. Bagi anda yg tdk tega melihat keluarga dipasang macam”, mintalah penjelasan selengkapnya ttng apa yg akan dilakukan, efek samping dan risikonya, krn itu HAK ANDA. andapun berhak menolak.
    Untuk kasus de Wildan, Semoga Alloh senantiasa menjaga kesehatannya lahir& batin, dan menjadikannya Anak yg berbertqwa kepada Alloh. Kesembuhan hanya hak Alloh. sayapun yakin, kondisi yg demikian (koma), dokter siapapun akan berpendapat serupa. krn scr teori, manusia tdk akan bertahan bila otaknya tdk mendapat pasokan oksigen selama lebih dari 3 menit. Keluarga Wildan Sepantasnya bersyukur atas kehendak Alloh. krn scra teori saat itu, wildan tak akan bertahan lama.
    Teori yg ada di dunia kdokteran sampai saat ini berpedoman pada hasil penelitian ilmiah. kecenderungan pola umum. tapi klo sudah menyangkut hak prioritas Sang Maha Pencipta, siapapun akan tunduk. Almarhum paman saya meninggal dgn stroke yg ke 6x. selama 4x sebelumbya, dia pulih tanpa gejala sisa. stroke ke-5, di bawa ke RS, dikatakan dokter ada peluang sembuh, namun Alloh berkehendak lain, selama setahun ia terbaring tak sadarkan diri, dia dirawat di rumah. sroke ke 6, sempat di bw ke rs, suatu hari, dia dikatakan telah meninggal. saat keluarga sdng brkemas pulang, beliau bernafas lagi, setelah 40 menit divonis mininggal. tp akhirnya ia pun meninggal 4 hari kemudian. kasus sperti ini jelas sudah diluar teori manusia dan segala sesuatu jelas dalam KEKUASAAN ALLOH semata…
    wah, jd cerpan nih…
    btw, salam kenal..

    Komentar Sinyo

    Assalamu’alaikum dhe Hasan, terima kasih atas masukannya dan doanya amiin. Insyaa Allah Sinyo juga paham tentang hal tersebut.

    Hal utama yang ingin Sinyo sampaikan dalam artikel di atas adalah, seharusnya (koq bilang harus ya qiqiqiiq) saat seorang (team) dokter ingin menyatakan “sesuatu” tentang pasien yang ditangani, apapun itu tidak hanya berdasarkan pengalaman, teori atau ilmu kedokteran. Ada sisi “humanitas” dan “rasa” yang harus dipertimbangkan juga. Misalkan waktu itu keluarga Sinyo miskin sama sekali, entah apakah analisa yang disampaikan sama atau tidak? sebulan dua bulan tentu bukan waktu yang sebentar, kondisi pasien juga jelas-jelas terpampang di depan mata. Kita sebagai masyarakat yang awam tentang kedokteran tentu hanya “manut” (bahasa jawa artinya sama dengan ikut saja) dengan keputusan dokter yang tentu lebih paham secara keilmuan dengan keadaan pasien.

    Kenapa kita harus tahu keadaan yang “sebenarnya” dari seorang perawat yang bahkan kita tidak kenal sema sekali, namun “care” dengan pasien dan keluarganya, itu point utama dalam tulisan tersebut.

    Sebagai contoh Sinyo juga bekerja dalam bidang produk “jasa”. Selama menjalani pekerjaan ini Sinyo berusaha jujur terhadap pelanggan, baik itu kelebihan dan kelemahan dibandingkan produk jasa yang sejenis. Banyak calon customer yang awam sama sekali tentang jasa yang kantor Sinyo berikan, but kita menjelaskan mendetail sehingga calon customer paham tindakan dan sikap apa yang diambil. Sebenarnya bisa saja calon customer tersebut Sinyo “jerat” dengan “penipuan kata-kata” karena dia awam untuk mengambil produk yang Sinyo tawarkan, tapi ada sisi kemanusiaan yang akan selalu menjadi nilai penghalang untuk melakukan hal tersebut, lebih ekstrimnya sesuai dengan agama yang Sinyo yakini.

    Dengan semakin terpuruknya ekonomi, semoga bertambah banyak orang yang terketuk hatinya untuk tetap mengedepankan kepentingan dan hak orang lain tanpa mengorbankan hak pribadi tentu saja, yang Sinyo takutkan orang akan bertambah ganas saling berebut dengan mengorbankan hak orang lain.

    Wassalam, salam kenal juga dhe HasanšŸ˜‰


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: