Posted by: sinyoegie | December 9, 2008

Keramahan yang Semakin Hilang

Sedari kecil oleh para guru kita diberitahu bahwa penduduk Indonesia terkenal dengan keramahannya, bukan hanya kepada para pendatang (wisatawan) namun tentu juga sesama warga setempat. Buku-buku tentang Indonesia juga menjadikan keramahan penduduk Indonesia sebagai salah satu “hal” yang cukup untuk dijadikan nilai jual.

Sampai saat ini, keramahan orang Indonesia masih tetap dipopulerkan, baik di sekolah atau promosi wisata dll. Bernahkah keramahan yang dibanggakan oleh kita semua itu memang masih pantas untuk dipromosikan?

Di depan rumah Sinyo ada jalan kecil yang biasa dilalui warga kampung dan sekitarnya. Kira-kira ukuran satu mobil besarnya, sehingga kalau ada mobil berpapasan maka salah satu harus mengalah (mundur atau cari tempat lowong di tempat warga).

Karena masih banyak pepohohan di sekitar kampung Sinyo maka setiap pagi hari hampir semua warga membersihkan jalan tersebut dari dedaunan dan kotoran/sampah yang dibuang para pejalan kaki. Tanpa dikomando, setiap warga sudah paham yang dibersihkan adalah jalan yang tepat berada di depan rumah mereka.

Sejak kecil oleh Bunda, Sinyo mendapatkan “jatah” bersih-bersih jalan kampung tersebut setiap pagi (hingga saat ini masih Sinyo lakukan). Dahulu lalulalang orang tidak banyak seperti sekarang, namun sebagian besar dari mereka masih “membudayakan” bertegur sapa saat melewati para warga yang sedang bersih-bersih di jalan.

Sayang, saat ini hal tersebut hampir mustahil ditemukan. Orang yang lewat di jalan saat para warga bersih-bersih sangat banyak, mulai dari yang berjalan kaki, naik sepeda kayuh atau motor dll. Tapi satu dua yang mau bertegur sapa (itupun karena sudah kenal), sisanya ngacir dengan cuek, bahkan kadang ngebut tanpa mau tahu kalau sampah daun-daun sedang dibersihkan.

Ah Sinyo kemudian berpikir, pergi ke manakah keramahan yang selama ini dibanggakan. Apakah ramah saat ini identik dengan uang? Jika kita banyak uang maka orang ramah dengan kita? Benarkah orang memperlihatkan keramahan kepada turis karena betul-betul dari hatinya atau hanya uang turis tersebut?

Entahlah, Sinyo tetap berdoa dan berharap bahwa keramahan tetap dijaga dan dipertahankan, dia muncul dari sanubari kita sebagai manusia berjiwa sosial. Jika sudah susah menemukan keramahan mari kita mulai saja dari diri kita.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: