Posted by: sinyoegie | February 27, 2009

Kurang Lima Ribu

Di kota besar, boleh jadi angkota atau transportasi besar lainnya masih mendominasi angkutan untuk umum. Namun tidak untuk di kota kecil. Walau Kota Magelang termasuk katagori kota sedang namun hal itupun sudah terjadi. Penyebab utama adalah meningkatnya pemilik sepeda motor. Dahulu, tahun 80-an hanya pegawai negeri yang boleh kredit sepeda motor, sehingga angkutan umum masih bisa meraup pendapatan lumayan banyak. Namun seiring mudahnya orang mengambil kredit motor maka angkot mulai tergusur.

Coba tengok di jalan protokol sekitar jam 06.15 – 07.30, berjubel sepeda motor memenuhi jalanan. Serunya, semua ingin ngebut karena mengejar waktu jam masuk kerja/sekolah. Para bapak atau ibu polisi harus ekstra keras mengatur lalu-lintas.

Hari Sabtu sore, tgl 21 Februari 2009 sore hari Sinyo mengantar putra beli sepatu. Karena gerimis maka naik angkot saja agar aman. Alhamdulillah begitu keluar gang langsung mendapatkan angkot jalur 3. Sepi, tentu iya, namun tidak jauh kemudian mendapatkan penumpang lagi tiga orang yang ingin naik travel dan membawa beberapa barang sehingga harus bayar lebih mahal.

Setelah ketiga orang tersebut turun, tidak lama angkot berjalan dan mendadak berhenti karena kehabisan bensin. Sementara sang kernet cari bensin “botolan” sang supir bercerita kepada Sinyo betapa susah jaman sekarang mencari penumpang. Dari obrolan dengan supir tersebut Sinyo mengetahui tiga hal penting yaitu:

  1. Setoran mobil kepada pemilik sebesar Rp 80.000,- padahal hari sudah mulai gelap, pandapatan baru Rp 75.000,- sehingga kurang lima ribu rupiah. Tentu saja itu sudah dikurangi uang makan dan bensin.
  2. Sebetulnya angkot di kota kecil atau sedang sudah jarang yang disertai kernet, namun karena teman supir tersebut butuh pekerjaan maka diikutkan sebagai kernet. Sehingga otomatis jika ada sisa dari setoran dia harus membagi juga kepada kernet.
  3. Bensin dijatah, ya salah satu sebab macet karena bensin harus dihemat sedemikian rupa agar pendapatan bisa tercapai sesuai target.

Setelah bensin didapatkan, supir dan kernet mengeluh panjang pendek tentang susahnya hidup ini. Alhamdulillah, karena keduanya sudah capek dan ingin pulang kami diantar sampai depan toko yang seharusnya tidak dilewati angkot tersebut.

Sinyo salut dengan kedua orang tersebut:

  1. Sang Supir: walau keadaan mepet dan serba susah dia masih ikhlas dan menerima temannya untuk ikut sebagai kernet. Rasa sosial dan berbagi kepada sesama masih jalan walau terhimpit sedemikian rupa.
  2. Sang Kernet: Sebagai laki-laki, walaupun tidak mempunyai keterampilan banyak masih mau berusaha mencari nafkah untuk keluarganya. Walaupun untuk itu dia harus merepotkan orang lain, akan tetapi itu jauh lebih baik dariapada berbuat yang aniaya baik dirinya sendiri atau orang lain.

Sinyo berdoa, semoga keduanya baik-baik saja dapat terus berusaha menjemput rizki dengan cara yang halal dan toyib seberat apapun itu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: