Posted by: sinyoegie | July 18, 2009

Obrolan Bunda VI: Pidato Bapak SBY

Jum’at sore, tgl 17 Juli 2009 setelah meledaknya bom di Kuningan bapak presiden kita memberikan pidato pernyataan kepada publik. Tidak sedikit yang kecewa namun banyak juga yang membela atas isi pidato tersebut. Sinyo belum tahu sama sekali isi pidato pak Presiden karena memang pulang menjelang Isya’. Setelah sampai di rumah dan berusaha mencermati siaran ulang pidato tersebut di TV bersama Bunda, ternyata beliau mempunyai pendapat yang hampir sama dengan Sinyo tentang isi pidato bapak SBY

Pertama, soal ‘fakta’ yang disampaikan (berdasarkan laporan para intelejen, bahkan disertai gambar-gambar). Menurut hemat kami sebagai orang yang awam, seharusnya data itu disimpan dahulu untuk kepentingan penyelidikan. Kalau orangnya sudah jelas tertangkap atau ‘gerombolan’ yang berkaitan dengan bom tersebut sudah dipegang, nah bolehlah memberikan informasi lebih lengkap dan detail. Seingat Sinyo, urusan informasi rahasia seperti itu jarang sekali disampaikan ke publik, namun ini jelas-jelas sedang disorot dunia bisa-bisanya ditampilkan sedemikian rupa. Berbagai prasangka tentu bisa timbul (baik atau buruk), tapi bukan prasangkanya yang salah melainkan tindakan yang menimbulkan prasangka itulah yang perlu dikoreksi sehingga selanjutnya tidak perlu dilakukan kembali.

Kedua, kita sebagai warga negara yang ingin hidup damai dan tenang apalagi setelah shock dengan adanya bom kuningan ditambah kecewanya para fans MU yang sudah membeli tiket total miliaran, tentu ingin mendengarkan pidato dari ‘seorang bapak’ yang berusaha menenangkan, mengayomi dan menjadi ‘tameng’. Cukuplah ungkapan bela sungkawa, sedang diupayakan penyelidikan, peningkatan keamanan dll. Terus terang begitu banyak yang kecewa begitu mendengarkan pidato bapak kita ini, bukannya membuat perasaan kita ‘dingin’ namun malahan ‘terlontar’ pernyataan yang dapat menimbulkan bias dan suasana menjadi lebih panas. Terbukti respon capres dan cawapres lain, para pengamat politik, para netter yang mempertanyakan pidato tersebut dan masih banyak lagi. Bahkan pak Widodo dan bang Andi sampai-sampai ‘perlu’ meluruskan (berusaha mengejawantahkan persepsi yang dimaksudkan pak presiden).

Ketiga, secara ilmu komunikasi bapak SBY terlihat ‘panik’ dan tentu saja shock berat atas kejadian bom Kuningan. Sebetulnya kita sebagai warga sudah berusaha tenang, apalagi jika didukung oleh pak SBY yang menguatkan kita. Sayang seribu kali sayang, yang kita ‘baca’ bahkan gambaran kepanikan pemerintah yang betul-betul terpukul dengan kejadian tersebut.

Sinyo berusaha memahami situasi dan kondisi beliau sebagai pemimpin bangsa ini, namun tentu banyak yang sudah terluka dengan peryataan beliau. Sungguh berat menjadi pimpinan, mulai dari hal yang terkecil akan selalu menjadi sorotan. Semoga para pimpinan negeri ini mau selalu berhati-hati dan waspada saat akan melangkah agar rakyat di belakangnya tidak tercerai berai.


Responses

  1. Hentikan Diam Kita, Tolak Kekerasan!
    Duka cita yang dalam.
    Bunga Bukan Bom….
    Kasih Bukan Kekerasan….

    Pembunuh-pembunuh itu memang pengecut. Tapi kita mestinya juga tegas menolak siapa pun yang mempolitisir musibah ini untuk kepentinganya, alias memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Mereka sama pengecutnya. Dalam kasus bom ini mereka sama-sama berlaku pengecut, yang pertama pengecut dan pembunuh, yang kedua pengecut dan pembohong…….

    Jangan dilupakan pula kita mesti melawan kekerasan oleh negara dan kekerasan sistimik/struktural karena tatanan sosial ekonomi yang tidak adil…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: