Posted by: sinyoegie | November 30, 2009

Ingin 2 T

Tangis dan tawa atau Sinyo singkat dua (2) T menjadi bagian dari ‘sempurnanya’ hidup ini. Setiap orang pasti pernah merasakannya, entah secara terpisah atau mungkin bisa saja terjadi bersamaan. Hari ini, ada sebuah kejadian yang membuat Sinyo seperti ‘pecundang’ kesiangan, ingin rasanya tertawa dan menangis secara bersamaan walaupun hal tersebut tidak dapat terealisasi (Bisa-bisa rekan sekantor akan bingung dan heboh jika benar-benar terjadi).

Akhir Oktober kemarin baru saja Sinyo dapat menyelesaikan satu buah naskah buku yang dibuat hampir setahun. Bersyukur tentu saja karena masih dapat mengerjakannya disaat bersamaan harus mengurus pekerjaan kantor dan memimpin rumah tangga. Apalagi sudah ada ustadz Nurudin yang ‘bersedia’ sekalian mencarikan penerbit, sehingga Sinyo punya ‘plan’ rehat selama sebulan (November) agar dapat aktif menulis di blog.

Naskah buku tersebut Sinyo titipkan kepada bapak Endang (sales kantor) agar diberikan kepada bapak Efendy (manager salah satu LAZIS di Magelang) yang memang sering bertemu dengan ustadz Nurudin. Awal November Sinyo konfirmasi kepada bapak Efendy tentang naskah tersebut. Alhamdulillah sudah diterima dengan baik dan segera akan disampaikan kepada ustadz Nurudin ‘secepatnya’.

Hari-hari berlalu melewati bulan November yang mulai membawa suasana ‘dingin’ karena efek hujan. Sinyo kadang bertemu dengan pak Efendy guna membicarkan beberapa hal yang berkaitan dengan LAZIS. Menjelang berakhirnya bulan, Sinyo menanyakan ‘nasib’ naskah tersebut kepada pak Efendy, beliau jawab bahwa nanti akan ditanyakan kepada ustadz Nurudin. Sinyo bahkan sempat kirim SMS kepada pak ustadz apakah naskah tersebut mempunyai ‘prospek’ namun tidak ada jawaban. Padahal jika gagal ‘dimasukkan’ oleh pak ustadz Sinyo sudah mempunyai rencana cadangan yaitu mengirim naskah secara langsung saja ke penerbit lewat e-mail.

Hari inilah Sinyo baru mengetahuinya, menjadi sadar dan paham bahwa ternyata selama ini naskah masih di tangan bapak Efendy. Terjadi ‘miss understanding’ selama berkomunikasi dengan beliau. Sinyo pikir, naskah sudah diserahkan kepada ustadz Nurudin padahal kenyataannya bapak Efendy ketemu saja belum karena pak ustadz sedang sibuk (makanya SMS Sinyo tidak dibalas, tentu beliau bingung qiqiqiqiqiqi).

Ingin tertawa, karena betapa ‘bodohnya’ Sinyo selama sebulan hidup dalam angan-angan. Berpikir bahwa tentu pak ustadz sedang ‘terpesona’ dengan naskah yang Sinyo buat. Para nara sumber yang ikut membangun jiwa naskah tersebut tentu juga ‘geli’ karena mempunyai angan-angan yang sama dikarenakan informasi yang salah dari Sinyo.

Ingin menangis, terharu karena sejak pertama menyerahkan naskah itu ada perasaan ‘berat’ yang timbul dan membuahkan prasangka bahwa jikalau naskah kelak terbit menjadi buku maka orang akan ‘mencibir’ Sinyo karena ada ‘koneksi’ (walau itu sah dan legal). Sinyo berpikir tentu akan lebih ‘terhormat’ jika memang diterbitkan dengan usaha menembus sendiri ke penerbit tanpa bantuan orang lain. Hal itu terkabul, karena ternyata naskah Sinyo masih perawan, belum dibuka oleh pak Efendy apalagi ustadz Nurudin.

Semoga kejadian ini ada hikmahnya, bahwa komunikasi harus betul-betul dimengerti dan dipahami dengan baik oleh semua pihak yang terlibat, sebelum mengambil tindakan apapun termasuk sekedar ‘berangan-angan’.


Responses

  1. Sabar….jika memang bagus suatu saat akan terbit juga🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: