Posted by: sinyoegie | December 1, 2009

Namanya Darmono

Tidak jauh dari tempat Sinyo tinggal di kampung, ada sebuah rumah yang kan selalu mengingatkan kenangan manis masa kecil Sinyo. Dulu keluarga besar kami menyewanya sebelum dapat membeli tempat berteduh sendiri. Terdiri dari tiga ruang tidur, satu ruang tamu, ruang keluarga dan dapur. Kamar mandi serta WC terpisah di bagian belakang.

Sesak tentu saja karena dihuni delapan individu mulai dari dewasa sampai kecil, namun kami merasa nyaman dan lega karena hidup bersama dalam cinta. Saat melewatinya Sinyo kadang teringat dengan Darmono, salah satu teman bermain Sinyo waktu kecil.

Kala itu Darmono baru saja pindah dari kota lain, orangtuanya menyewa rumah petak di belakang kami. Kita seumuran, tentu saja karena saling membutuhkan teman maka hubungan yang terjalin cepat akrab. Apalagi Darmono tidak mempunyai saudara sebanyak Sinyo sehingga sering kesepian, ditambah dirinya kurang populer dalam pergaulan anak-anak di kampung (kemungkinan karena keadaan ekonominya yang serba terbatas, Sinyo kurang paham waktu itu)

Entah karena merasa lebih ‘berkuasa’ dan menang ‘taji’ Sinyo hampir selalu menyakitinya, ‘menginjak-injak harga diri’ Darmono. Setiap kali dirinya bermain ke rumah Sinyo hampir dapat dipastikan akan pulang dengan tangisannya yang keras menyayat. Di matanya menyiratkan rasa perlawanan dengan perlakuan Sinyo, tapi tubuhnya sama sekali tidak melakukannya. Setelah tangisnya tuntas, dia akan selalu kembali mencari Sinyo dan mengajak bermain kembali.

Hingga suatu hari saat Sinyo mencarinya karena sudah beberapa lama tidak bermain ke rumah ternyata dia telah tiada bagaikan hilang lenyap ditelan bumi, menurut informasi dari tetangga orangtuanya pindah lagi. Ada sesuatu yang terasa menyesakkan dada dan sakit rasanya kala dia tidak ada, namun Sinyo belum paham waktu itu. Sekarang Sinyo baru paham betapa ‘kejam’nya Sinyo terhadap dirinya. Orang papa yang mencari ‘sahabat’ namun terabaikan, tersisihkan dan terpinggirkan bahkan oleh ‘sahabat’nya sendiri. Andai saja waktu dapat ditarik ke masa itu, Sinyo akan berusaha menjadi sahabat ‘terbaiknya’ walau mungkin hanya sesaat.

Buat Darmono, di manapun kau berada semoga mendapatkan sohib yang sejati. Maafkan Sinyo yang selalu menyakitimu.

Dedicated to: Mas Ahza, semoga engkau selalu berbuat sholih terhadap teman-temanmu apalagi sahabatmu kelakšŸ˜‰


Responses

  1. šŸ˜„

    sedih yo lek ngono………


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: