Posted by: sinyoegie | January 3, 2010

Maaf

Kata ‘maaf’ apalagi saat disertai dengan ketulusan yang murni karena Allah SWT adalah salah satu kekuatan yang dahsyat di muka bumi ini. Segala bentuk hubungan antar manusia yang sebelumnya dalam keadaan kaku dan membeku dapat cair seketika saat kata ‘maaf’ terucapkan.

Sinyo dan istri melatih putra kami untuk melakukannya, saat dia tergelincir dalam kesalahan begitu juga sebaliknya dengan kami karena contoh adalah cara terbaik yang mudah diserapnya . Kadangkala Istri masih agak ’emosi’ melihat ‘aktifnya’ si buah hati, dapat leleh seketika kala dari mulut kecil keluar ucapan ‘maaf’.

Suatu hari Sinyo melihat salah satu adegan ‘dramatis’ dalam kehidupan keluarga kami. Saudara sepupu Sinyo meninggal muda, semua keluarga besar berkumpul guna ber-takziah. Termasuk di dalamnya seorang bapak yang begitu ‘membenci’ putrinya yang ‘nekat’ menikah tanpa restu darinya. Sebab tidak turun ‘izin nikah’ sang bapak karena calon suami yang hanya seorang ‘gembel’ di mata sang raja rumah tangga itu. Bertahun-tahun lamanya sang putri selalu berusaha menjelaskan kepada sang bapak bahwa pilihannya tepat dan terbaik untuk dirinya. Bahkan sampai dikarunia anak-anak yang lucu dan sehat sang bapa tetap ‘diam membisu’ terhadap putrinya, segala daya upaya patah menghadapi ‘dinding’ yang keras. Tinggal sang ibu yang mengelus dada melihat sikap suaminya terhadap salah satu buah hati mereka.

Di tengah keramaian para pelayat, Sinyo, Bunda dan sang ‘anak terbuang’ berbicara di tempat terpisah membicarakan betapa ‘keukeuhnya’ hati sang bapak yang belum mau berdamai. Bulir-bulir air mata begitu deras menetes dari matanya kala satu demi satu cerita mengalir membuat kami begitu trenyuh.

Bunda dan Sinyo sepakat memberi support bahwa hal terbaik adalah tetap memberikan kasih dan cinta serta selalu meminta maaf, terlepas tindakan kita benar atau salah. Tetap berbuat baik karena bagaimanapun seorang bapak tetaplah salah satu sumber darah yang akan selalu mengaliri ‘kehidupan’ kita.

Tidak lebih dari hitungan satu jam, cerita sudah berganti. Sang anak memang masih menangis namun berupa derai air mata kebahagian. Karena tidak lama setelah ‘ngobrol’ dengan Sinyo serta Bunda dia bertemu ‘sang bapak’ dan memohon maaf dengan memeluk kaki laki-laki yang sudah mulai renta tersebut. Kebesaran Allah semata, gunung karang yang selama ini begitu hitam dan kuat pecah menjadi butiran salju yang menyejukkan hati sang putri. Bukan hanya ‘restu’ atas pernikahan yang terjadi, namun juga ucapan ‘maaf’ yang selama ini enggan terlontarkan.

Jika memang ucapan ‘maaf’ yang ihklas tulus dapat memberikan suasana yang sejuk dan nyaman, kenapa sampai dengan hari ini kita masih saja enggan untuk melakukannya bahkan itu terhadap orang-orang yang kita ‘cintai’ selama ini?


Responses

  1. iya bang,,,bener..

    kata maaf tuh bener bener dahsyat..šŸ™‚

  2. minta maaf itu emang mulia, gan. tapi usahakan maaf jangan dijadiin legalitas untuk berbuat dosa dan salah dengan sesama.

    Komentar Sinyo
    Terima kasih atas masukannya, mengucapkan maaf saja susah (dengan catatan ikhlas karena Allah) apalagi jika dilakukan untuk berbuat salah yašŸ˜‰


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: