Posted by: sinyoegie | July 20, 2010

Profesi Pengemis

Naik bus Ekonomi memang ‘menantang’ apalagi jika harus berdesakan-desakan saat penumpang penuh. Kadang menunggunya sendiri sudah bikin bete karena cukup lama menanti, sekali bus datang pun calon penumpang rame-reme berebutan naik tak peduli laki-laki melawan wanita atau pemuda bersaing dengan kakek-nenek.

Sinyo sering melihat kejadian unik kala melakukan perjalanan dengan bus pilihan ‘rakyat’ ini. Seperti beberapa waktu yang lalu ada seorang laki-laki yang sehat wal afiat, masih cukup muda, setelah naik bus langsung meminta-minta kepada semua penumpang tanpa ekspresi wajah memelas. Sama sekali tidak ada orang yang mau memberinya bahkan sekedar uang receh. Dengan tenangnya pemuda tersebut duduk seperti penumpang lainnya sambil berkali-kali merokok dan sanggup membayar pula ongkos naik bus, Sinyo cuma tersenyum ‘kecut’ melihat kejadian tersebut. Lain waktu Sinyo sempat ribut dengan seorang pelajar wanita karena memaksa Sinyo bergerak ke arah depan padahal sudah tidak ada tempat longgar di antara ‘tumpukan’ penumpang yang berdiri berdesakan (Huff…dasar darah muda..)

Namun, beberapa hari yang lalu waktu Sinyo menuju Salatiga benar-benar mendapatkan pengalaman yang unik. Dua ibu menaiki bus ekonomi yang Sinyo tumpangi dari pertigaan kota Secang. Mereka adalah dua ibu muda dengan menggedong masing-masing seorang balita. Dugaan sementara mereka adalah orang yang berprofesi sebagai pengemis seperti cerita dari mulut ke mulut masyarakat luas. Karena bus sudah agak penuh, maka dua orang ibu tersebut tidak dapat duduk berdampingan. Salah satu darinya duduk di sebelah Sinyo dan temannya berseberangan walau masih satu deret.

Dari pembicaraan mereka berdua Sinyo baru benar-benar paham bahwa profesi pengemis memang betul ada. Obrolan dimulai dengan bentakan-bentakan ‘nakal’ kepada salah satu balita yang ngambek. Sinyo sebetulnya ’emosi’ karena kata ‘nakal’ sangat tabu diucapkan kepada anak-anak, tapi ah Sinyo bisa berbuat apa? Hanya berdoa semoga kelak si balita tidak membentuk image dirinya menjadi ‘nakal’ betulan.

Selanjutnya cerita mengalir betapa mereka sudah dididik sedari kecil berprofesi sebagai pengemis, kenal dengan kerasnya kehidupan jalanan dari usia balita. Saling pinjam-meminjam anak untuk digunakan sebagai ‘senjata’ mengemis adalah hal yang biasa. Bahkan mereka sudah sering pergi jauh ke luar kota saat masih kecil tanpa satupun orang tua yang menemani.

Satu sisi Sinyo sangat prihatin dengan keadaan yang dialami kedua ibu tersebut, karena situasi dan kondisi mereka ‘terperangkap’ dalam lingkaran profesi pengemis. Tetapi di sisi lain entah kenapa mereka sangat ‘enjoy’ dengan apa yang dijalani. Apakah karena sudah terlalu ‘enak’ mendapatkan kebutuhan hidup dengan meminta belas kasihan orang? Wallahu’alam. Sinyo berharap dan berdoa kepada Allah agar kelak balita-balita yang dibawa kedua ibu pengemis tadi (atau yang senasib) mau berjuang hidup lebih baik, dengan menjemput rizky Allah melalui cara-cara terpuji.Amiin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: