Posted by: sinyoegie | November 11, 2010

Api Merapi

Untuk saudaraku semua, inilah catatan Sinyo yang berada di kota Magelang (sekitar 26,6 km dari gunung Merapi) saat mendapatkan sedikit ‘rizky’ abu dari gunung teraktif di dunia.

Rabu, 3 November 2010, sekitar jam 17.00-an hujan di luar rumah. Saat itu Sinyo sedang jaga warnet sambil menggendong anak kedua kami. Biasanya jika turun hujan si kecil suka sekali melihatnya, namun waktu Sinyo lihat ada hal aneh pada hujan tersebut.
Memang hujan air namun kenapa di jalanan tampak bintik-bintik putih seperti semen. Beberapa anak yang barusan datang menuju warnet dan terkena hujan seperti baru saja bermain sepak bola karena baju menjadi demikian kotor dan amis. Bau belerang mulai menyengat dan Sinyo segera sadar ini adalah hujan abu dari merapi.

Dampaknya cukup dahsyat, sekolah 2 hari diliburkan, banyak warung-warung tutup karena enggan berurusan dengan debu, paru-paru terasa panas, tenggorokan kering ingin minum terus, parabola banyak yang rusak, orang selalu pakai masker dan lebih banyak diam di rumah. Bayangkan saja jika bencana ini tidak datang saat musim hujan.

Sabtu, tgl 6 November 2010, Sinyo berangkat ke Nganjuk untuk menghadiri pernikahan kakak ipar. Sampai di terminal, bus EKA (patas Magelang-Surabaya) tidak mau naik ke Magelang karena ada ledakan besar pada hari Jum’at. Alhamdulillah dengan sedikit berjuang Sinyo sekeluarga mendapatkan bus NUSANTARA (patas juga) untuk menuju Jogjakarta terlebih dahulu.
Masyaa Allah mulai dari kota Mertoyudan (kabupaten Magelang) dampak abu Merapi semakin ganas dan puncaknya adalah di kota Muntilan (sekitar 15 km dari gunung Merapi) betul-betul seperti kota mati dan banyak tanaman rusak. Sayang Sinyo tidak sempat ambil pics karena sibuk dengan anak-anak, padahal saat itu sangat bagus untuk mengambil gambar puncak Merapi yang sedang mengeluarkan abu vulkanik menuju kota Salatiga.

Rabu, tgl 10 November 2010, Sinyo pulang dari Nganjuk dan sampai di kota Muntilan keadaan masih sama. Walau sedang hujan, Sinyo usahakan ambil pics untuk menjadi gambaran kita bersama. Maaf pics banyak goyang, karena saat bus melintasi lumpur abu di jalan seperti naik delman saja rasanya.

Saat ini Sinyo meliburkan putra pertama untuk tidak ke sekolah dahulu karena abu masih begitu tebal di kota Magelang. Hampir setiap saat membersihkan dan mengepel warnet karena banyak abu berhamburan (padahal pintu sudah ditutup). Entah nasib para saudara kita yang lebih dekat dari gunung Merapi atau di pengungsian, tentu jauh berlipat-lipat beratnya, akankah kita cukup berdo’a saja untuk mereka?

Lihat pics di DI SINI


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: