Posted by: sinyoegie | December 20, 2010

Penjual Sayur

Sering Sinyo melihat dia terutama pada pagi hari, wanita yang mulai menampakkan kelelahan hidup lewat keriput dan kerutan di wajahnya. kadangkala si penjual sayur itu membawa sekarung beras atau berbagai macam barang dagangan sehari-hari untuk para ibu rumah tangga dengan digendong. Orang tidak akan mengira jika melihat keadaan wanita tersebut sekitar 20-an tahun yang lalu.

Dia kala itu adalah salah satu penjual berbagai macam sayuran untuk kebutuhan rumah tangga yang sangat terkenal. Belum banyak penjual sayur yang mempunyai modal besar sehingga dapat menyediakan berbagai macam kebutuhan dapur para ibu secara lengkap, ibu ini adalah salah satunya. Apalagi cara menjualnya termasuk tidak lazim pada waktu itu, yaitu model ‘swalayan’ yang sangat memuaskan para pelanggan.

Tempat jualan juga sangat sederhana, hanya di pinggir jalan dengan alas karung dan bangku bambu. Biasanya barang-barang dagangan sudah datang mendahului si penjual, para ibu telah antri dan tidak sungkan-sungkan lagi saling berebut berbagai kebutuhan sehari-hari untuk dipisahkan agar tak diambil warga lain. Setelah penjual sayur datang, mereka tinggal menghitung berapa jumlah belanja harus dibayarkan. Sebagain besar para ibu bahkan tidak menakar atau memakai ilmu ‘kira-kira’ pada item-item yang seharusnya ditimbang dahulu. Aneh tapi nyata, cara berjualan seperti itu, walau rentan dengan ‘penggelapan’ membuat si penjual sayur lambat namun pasti menjadi orang kaya baru. Tampak dari dandanan, emas yang melingkar di jari dan tangan serta beberapa bisnis baru termasuk menyediakan kebutuhan beras bagi warga.

Sayangnya, sudah menjadi ciri khas kebanyakan orang kala berhasil maka dia akan lupa daratan. Sedikit demi sedikit, si penjual sayur menjadi ‘arogan’ dan tamak. Lupa bahwa sang raja sebenarnya bukanlah dia namun para pelaggan.

Sinyo masih ingat bagaimana Bunda disakiti oleh dirinya hanya gara-gara 2 ayam kampung pesanan untuk Idul Fitri. Bunda sudah memesan ayam tersebut jauh-juah hari sebelum Idul Fitri dengan harga yang disepakati. Namun pada hari H pembayaran atas pesanan tersebut, harga melambung tinggi tidak sesuai dengan kesepakatan semula. Bunda sebetulnya bisa menerima andai saja hal itu terjadi pada semua pelanggan, setelah ditanyakan kepada para ibu yang lain tidaklah demikian, ada sebagian yang tetap mendapatkan ayam kampung dengan harga sesuai kesepakatan diawal. Bunda hanya bisa ‘berdoa’ menuntut keadilan kepada Allah atas kejadian tersebut.

Sekarang waktu jua yang membuktikan, bahwa apapun yang kita lakukan terhadap orang lain (entah baik atau buruk) akan membawa konsekuensi sesuai dengan tindakan tersebut. Jika memang tidak terjadi hari ini maka kelak di akheratlah pembuktiannya. Si penjual sayur telah ‘bangkrut’ luar dalam karena ditipu oleh orang, pernikahan dengan suaminyapun tidak berujung bahagia.

Saudaraku, sudah berbuat baikkah hari ini terhadap orang lain? Atau malah sebaliknya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: