Posted by: sinyoegie | January 6, 2011

Obrolan Ahza I: Pura-pura

Putra sulung Sinyo, Ahza, bulan Maret tahun 2011 ini akan genap berumur 4 tahun. Sedang getol-getolnya banyak tanya hal-hal baru, berusaha dengan keras mempertahankan pendapatnya yang ‘dangkal’, sering meniru apa saja yang dilihat dan didengar serta betul-betul ‘apek’ keringatnya, apalagi pulang sekolah huf…. Berkali-kali Ahza menguras habis kesabaran yang Sinyo punyai, namun lebih banyak Sinyo melakukan aksi diam daripada bentakan yang membikin Ahza sedikit ‘menciut’.

Adhe si Ahza, Kayyisa, jauh lebih beruntung. Abi dan Uminya sudah siap lahir dan batin dalam mendidik sehingga jauh dari ‘kekerasan’ sama sekali. Ahza memang sempat mengenal sedikit ‘kekerasan’ dari kami ortunya namun Alhamdulillah, kami segera mendapatkan petunjuk Allah dan secepatnya sadar sehingga tidak berlarut-larut.

Kami berdua sudah meminta maaf kepadanya, dan Ahza pun Alhamdulillah mau memaafkan kami. Guna mengobati ‘rasa bersalah’ di dada Sinyo berusaha membayar dengan jauh lebih sabar menjelaskan hal-hal baru kepada Ahza ketimbang Umi-nya. Sengaja Sinyo jawab hampir semua pertanyaan yang diajukan Ahza dalam paparan yang panjang dan terurai, karena jika dijawab hanya sepotong dua potong maka mulutnya yang mungil bakal ceriwis minta ampun.

Tapi entah kenapa akhir-akhir ini Sinyo sering mati kutu menjelaskan banyak hal yang dia tanyakan. Selalu saja Sinyo awali dengan kata ‘pura-pura’ dengan berbagai variasi penyampaian. Ya, Ahza memang lebih suka menonton berita di TV-One, NHK atau yang lain daripada film dan sinetron. Sayangnya, Sinyo juga tidak mungkin mencegahnya mengenal film anak-anak, film action, film remaja atau bahkan sinetron yang kadangkala ditonton oleh Bunda Sinyo. Itulah kenapa setiap pertanyaan yang mengalir tentang film Sinyo awali dengan pura-pura. Bagaimana tidak? Karena memang dalam kenyataannya itu adalah pura-pura.

Sinyo tidak ingin Ahza menjadi generasi pura-pura seperti yang Sinyo atau banyak orang alami. Dulu ortu kalau cerita menjelang tidur, hampir selalu cerita ‘Kancil Nyolong Timun’ (Kancil Mencuri Ketikmun), atau variasi tokoh Kancil lainnya yang dinyatakan ‘cerdik atau pandai; namun sayang ortu tidak menjelaskan bahwa kecerdikan yang dibungkus dalam kebohongan dengan merugikan orang lain (banyak pihak) sangatlah merugikan. Itulah kenapa Sinyo tidak heran, si Gayus dengan entengnya menangis waktu kedapatan ‘pleserian’ ke Bali, si Ariel menjawab santai bahwa dia bukan pelaku video porno yang telah beredar..Itu semua terjadi karena kita semua hidup dalam kepura-puraan. Dijejali dengan tanyangan pura-pura dan celakanya itulah yang banyak disukai. Pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak paham untuk melupakan ‘kepenatan’ hidup dan nyaman dalam mimpi.

Masihkan kita berpura-pura? Bahkan kepada Allah sekalipun?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: