Posted by: sinyoegie | May 20, 2011

Obrolan Bunda XV: Aku Tahu Bunda Sedih

Tetangga yang satu ini memang terkenal ‘nyinyir’ di lingkungan kami. Rumahnya tak terlalu jauh dari tempat Sinyo. Banyak orang enggan berkomunikasi dengan ‘beliau’ karena yang dibicarakan hampir selalu ‘keburukan’ orang lain dan kebanggaan akan ‘keberhasilan’ anak-anaknya. Entah apakah selama ini keluarga kami menjadi bahan topik pembicaraan ‘tetangga yang terhormat’ tersebut atau tidak, yang jelas kami belum pernah mendegarnya dari orang lain.

Namun pada suatu hari Bunda pulang dengan sedikit ‘berang’, Sinyo dipanggil untuk diinterogasi. Apakah selama membuka usaha warnet di rumah pernah ada komplain dari tetangga sekitar? Sinyo berpikir dengan berusaha menebak kenapa Bunda bertanya seperti itu. Kemudian Sinyo jelaskan bahwa sampai detik ini, tidak ada tetangga yang komplain akan keberadaan warnet yang Sinyo dirikan, mungkin belum. Kebanyakan malah senang dan suka karena orang tua jadi tahu ke mana anak-anak mereka bermain, juga reputasi Sinyo selama ini dalam lingkungan masyarakat yang baik, sehingga mereka percaya bahwa warnet milik Sinyo sehat dan aman.

Kemudian Bunda menjelaskan kepada Sinyo bahwa orang-orang lingkungan sekitar bercerita kepada Bunda bahwa ‘tetangga yang super sibuk’ dengan keburukan orang lain tersebut komplain akan keberadaan warnet Sinyo. Dibilang terlalu remelah, berisik dll. Ya Allah, padahal Sinyo sudah ukur, dengan jarak yang ‘cukup’ rasanya terlalu berlebihan komplain itu. Sinyo bahkan sudah menyakan kepada tetangga dekat persis sebalah rumah, mereka ‘fine-fine’ saja dan bahkan maklum kalau sekali waktu mendengar anak-anak agak berisik. Tapi yang sangat amat menyedihkan hati Sinyo bukanlah tentang komplain soal warnet, namun tetangga tadi membandingkan antara Sinyo dan anak-anaknya yang terbilang ‘suskes’.

What……T_T, Sinyo tahu walau Bunda tak menangis namun Sinyo benar-benar merasakan kesedihan yang Bunda rasakan. Mungkin ‘serasa ditampar’ mukanya di hadapan orang banyak, anaknya yang lulusan S1 ‘dicibir’ hanya menjadi seorang ‘penjaga warnet’. Alhamdulillah, Sinyo masih shabar untuk tidak ‘ngamuk’. yah biarlah orang tersebut ‘puas’ dengan meledek dan menyakiti perasaan orang.

Kemudian Sinyo jelaskan kepada Bunda, bahwa selama tetangga sebelah yang berhubungan dengan warnet tidak komplain, maka warnet akan tetap buka. Tentang urusan pilihan pekerjaan yang Sinyo jalani, peduli amat orang mau bilang apa, yang penting kita berusaha mengikuti syariat islam dengan benar serta menjalaninya dengan senang hati.

Khabar terakhir, komplain tetangga tersebut sudah sampai pada ketua RT dan saat rapat Ibu-ibu sempat disinggung walau tidak secara langsung menuduh warnet Sinyo. Bunda hanya memperingatkan agar warnet tetap dalam keadaan sehat dan tidak ‘mengganggu’ tetangga sekitar serta membantu mengawasi anak-anak yang bermain di dalamnya.

Sinyo jaga pesan dari Bunda dengan baik sebagai amanah, dalam hati Sinyo berjanji kepada Bunda bahwa kelak suatu saat ‘kesedihan’ beliau akan terbayar dengan senyuman yang membanggakan bahwa beliau telah melahirkan Sinyo. Mungkin tidak di sini, tapi di hari pembalasan kelak. Amiin.

Catatan: Mohon do’a agar Sinyo dapat melaluinya dengan baik ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: