Posted by: sinyoegie | May 24, 2011

Kisah Nyata II : Kepada Siapa Aku Harus Berbagi? (P4DWR)

Senin, 23 Mei 2011 siang hari..Sinyo masih ‘terkapar; karena memang badan sedang ‘protes’ (Beberapa hari sebelumnya menunggu ‘janji tidak pasti’ dari teman sampai dini hari, ah tidaklah mengapa masih bocah, belum dapat menghargai waktu orang lain. Semoga kelak janji berdasarkan waktu). Tiba-tiba ada sms masuk, hehehe Sinyo kira pemesan buku ternyata bukan. No Flexi (Jakarta) yang unik, isinya sangat sopan dan memohon ingin kenal. Sinyo janjikan malam setelah Isya dapat diteruskan ngobrolnya, inilah hasil curhat pemilik no tersebut.

Aku pemuda berumur 26 tahun, asal dari salah satu daerah pesisir Utara pulau Jawa. Panggil saja namaku Renaldi (Sesuai permintaan nara sumber, kayak mas Tukul ya ^_^). Sejak remaja aku ingin sekali merantau ke Jakarta agar pengalaman bertambah, dan terus terang di desaku serasa ‘sumpek’.

Anak bungsu dari 7 bersaudara, masa kecilku amat sangat bahagia. Bapak, Ibu dan juga saudara semua sayang kepadaku, bahkan mungkin berlebih, namun kala umur 11 tahun, Sekolah Dasar kelas V aku merasakan hal aneh dalam diriku. Saat teman-teman suka menggambar anak perempuan yang mereka senangi sama sekali diriku tidak tertarik. Memang aku pura-pura ikut tertarik, sayangnya hatiku mengatakan tidak.

Dari SD sampai SMP aku selalau juara I, II atau III. Kukerahkan semua energi dan tenaga untuk fokus pada pelajaran, tetapi menginjak SMA semua menjadi berantakan. Dorongan-dorongan seksual yang muncul ternyata tidak pada semestinya, aku tertarik kepada sesama jenis. Fokus belajar menjadi berantakan dan kacau balau.

Walaupun terseok-seok, akhirnya aku dapat lulus juga sampai perguruan tinggi dan mendapat gelar S1. Tidak ada yang tahu, kecuali Allah SWT bahwa aku tertarik sesama jenis, semua orang menganggap aku baik-baik saja. Padahal kawanku amat banyak, itu karena aku suka humor dan mudah bergaul kepada siapapun. Alhamdulillah aku belum pernah jatuh cinta sekalipun kepada laki-laki, paling hanya hasrat sesaat yang timbul dan dapat aku tekan serta redam sedemikian rupa agar aku tidak terjerumus dalam tindakan kamum Luth.

‘Ketenanganku’ mulai terusik saat ustadz tempat aku mengaji menanyakan kembali apakah aku sudah siap menikah, karena banyak gadis juga siap dijodohkan. Selama ini aku selalu mengelak dengan alasan belum siap, segalanya.

Entah kepada siapa aku harus berbagi masalah ini, kepada siapa? Kucoba browsing di Internet namun kebanyakan adalah forum yang menyesatkan jiwa, tidak..aku ingin meniti jalan hidupku sesuai dengan Rasul Muhammad contohkan. Hingga pada satu hari ketika kutemukan tulisan di website Hidayatullah.com tentang bimbingan bagi siswa-siswa SD yang cenderung SSA (same sex attraction) oleh suatu lembaga agar mengikuti jalan Islam dengan baik, di Malaysia sana. Dalam komentar kutemukan jawaban dari salah satu pembaca untuk mengunjungi fan page buku Dua Wajah rembulan.

Astagfirullah, aku kaget ternyata ada buku yang membahas dunia homoseksual dari berbagai sudut pandang. Terus terang aku ingin sekali membacanya, tetapi…jika aku membeli nanti teman-teman satu kostku akan menegtahui kalau aku tertarik sesama jenis? Dalam bimbang aku temukan no ponsel penulisnya, Sinyo, nama yang unik.

Siang itu kuberanikan diri untuk sms terlebih dahulu, toh kalau dia tidak memberi tanggapan tidak akan pernah tahu siapa diriku hanya dari sebuah no ponsel. Ternyata ada dua buah nomor HP, keduanya aku kirimi pesan singkat mengenalkan diri. Harap-harap cemas kunanti jawaban penulis buku tersebut.

Ya Allah, hatiku sangat amat gembira ternyata tanggapan dari pak Sinyo diluar dugaanku sama sekali, beliau juga tetap membalas sms-smsku walau sedang tidak fit. Alhamdulillah kami dapat berbincang-bincang malam harinya, ya Allah ternyata ada orang di dunia ini yang mau memahami dan mengerti perasaanku. Aku malah tidak menduga betapa pak Sinyo banyak tahu hal yang bahkan tidak terpikirkan oleh diriku selama ini. Dia meyakinkanku bahwa dalam buku DWR sudah menjawab semua pertanyaanku kepada beliau. Sampai malam menjelang dini hari beliau masih terus melayaniku berbicang, kadang-kadang lucu. Katanya jangan sampai aku jatuh hati kepadanya, ya Allah betapa lega hati ini dapat dipahami oleh orang lain, hal yang membuatku bisa tertawa atas kelemahanku selama ini. Pak Sinyo meyakinkan bahwa bukan hanya dia yang dapat memahami masalahku, tetapi umat muslim yang lain juga insyaa Allah dapat memahaminya.

Tetapi, aku sudah merasa cukup…Selain Allah SWT yang menciptakan diriku, ada pak Sinyo yang mau memahami dan membimbingku ke jalan Allah. Beliau sama sekali tidak keberatan dihubungi kapan saja untuk sekedar curhat. Ya Allah, semoga beliau diberi kekuatan, kesehatan dan keselamatan amiin ya Allah (terakhir aku sms beliau tidak dapat berbicang dahulu karena belum sembuh benar).

Atas anjuran pak Sinyo aku siap untuk menikah, tetapi pekerjaan ‘tetap’ harus kudapatkan dahulu agar istri dan anak-anakku kelak tidak terlantar. Semoga dibalas dengan kebaikan yang banyak dari Allah atas kebaikan pak Sinyo yang mau ‘repot’ menemaniku. Semua data diriku ada padanya, aku berdoa agar beliau selalu amanah, amiin ya Allah, amiin.

(Seperti yang dituturkan nara sumber kepada Sinyo dengan editing seperlunya, no HP, nama asli saya simpan, pada hari Senin-Selasa tgl 23-24 Mei 2011 via HP dan message/mail).

Sinyo, akhir Mei 2011, kota Magelang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: