Posted by: sinyoegie | June 16, 2011

Penjual Keset

Malam itu Sinyo lagi ‘nongkrong’ jaga warnet sendirian, dingin mulai menyapa, sepi kerna memang warnet Sinyo terletak di kampung sehingga menjelang larut malam sudah jarang kedatangan client. Walaupun hanya ditemani deru kipas angin pendingin komputer , Sinyo tetap konsisten tutup jam 21.00 WIB (kecuali masih ada pelanggan akan Sinyo tungguin sampai jam 00.00 saja).

Lagi asik-asiknya pantengin layar monitor, tiba-tiba dari arah luar terdengar suara orang mengajak berbicara kepada Sinyo. Karena letak kursi/meja billing dapat melihat langsung ke jalan melalui pintu maka Sinyo berusaha melihat siapa gerangan orang yang berbicara tadi. Walau sedikit gelap, orang yang berdiri di luar pagar ternyata seorang penjual keset.

Kasihan, malam-malam jual keset, di kampung yang sudah sepi karena menjelang tidur untuk kegiatan esok hari. Sinyo kemudian bertanya, apakah keset itu buatan orang-orang dari Kulon Progo, karena di sana terkenal pembuat keset dari perca kain. Ternyata dia menjawab bukan, asalnya dari Klaten. Masyaa Allah, Sinyo sedih juga melihat orang tersebut berdiri mengangkat tumpukan keset. Kemudian dia menawarkan keset dari perca kain yang berbentuk oval seharga Rp 10.000,- untuk 4 buah (berarti satu keset dijual Rp 2.500,- ).

Terus terang Sinyo tidak tahu harga keset tapi jikalau disuruh membuat tuh keset dan hanya dihargai Rp 2.500,- / buah rasanya tidak sanggup Sinyo membuatnya. Tanpa pikir panjang orang tersebut Sinyo persilahkan masuk dan memilihkan keset yang bagus, Sinyo beli 4 buah.

Dari sedikit pembicaraan, ternyata dia dari Klaten bersama pamannya. Sang paman menjual di seputaran ruko Armada Estate (tidak jauh dari tempat Sinyo) sedangkan dia kebagian berkeliling dari rumah ke rumah.

Ya Allah…Sinyo terharu sekaligus bangga, betapa mereka ‘semangat’ sekali menjemput rizki walau dalam keadaan jaman serba susah seperti ini. Tidak pantang menyerah, hasil sedikit yang penting halal dan baik dimakan oleh keluarga. Penjual keset itu masih muda, mungkin masih ‘layak’ pergi ke sekolah menimba ilmu, namun apa daya situasi membuat dia harus mandiri membantu pamannya.

Nikmat mana lagi yang akan kita ingkari….T_T


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: