Posted by: sinyoegie | July 11, 2011

Kisah Jeans Hitam

Dulu sekitar tahun 2004, pada awal kerja di Indonet (ISP) cabang Magelang, Sinyo dapat perintah dari atasan bahwa setiap hari Jum’at memakai seragam kaos berwarna hitam yang telah diberikan oleh kantor. Pelengkap bawahan harus berupa celana jeans warna hitam pula. Ya Allah, padahal hampir seumur hidup Sinyo tidak pernah memakai celana jeans.

Awalanya karena belum punya celana panjang jeans, Sinyo masih diperbolehkan memakai celana dengan bahan kain katun biasa. Namun, tidak enak hati juga jika terus-menerus tak mengikuti aturan dari sang pimpinan, maka suatu hari Sinyo ‘dengan amat sangat terpaksa’ memberanikan diri untuk membeli jeans berwarna hitam.

Sungguh Sinyo jarang membeli celana, baju, atau kaos, kebanyakan merupakan ‘warisan’ dari kakak. Ada empat kakak laki-laki yang Sinyo miliki, jadi hampir semua kebutuhan pakaian yang mereka miliki akhirnya ‘jatuh’ kepada Sinyo. Apalagi harus berbelanja celana jeans, buta sama sekali.

Dengan uang pas-pasan, Sinyo pergi ke Matahari Supermarket, alhamdulillah sedang discount bermacam produk termasuk Jeans. Sinyo pede sekali berusaha memilih berbagai macam celana jeans warna hitam, karena discount lumayan besar. Tubuh Sinyo lumayan tambun waktu itu, jadi susah mencari celana jeans yang pas. Akhirnya dapat juga dah jeans merek EDWIN, sesuai dengan ukuran pinggang Sinyo sayang ukuran kaki terlalu panjang sehingga nanti kalau akan dipakai harus dipotong.

Dengan santai Sinyo menuju kasir, waktu diminta uang Rp 200.000,- Sinyo terkejut dan protes bukankah dapat discount? Heheheheh, dengan ramah mbak kasir menjelaskan bahwa khusus jeans impor tidak pernah ada discount, ya Allah….mana ane tahu jeans impor atau lokal (ah….kenapa Sinyo tidak meneliti atau bertanya dulu, kacau dah). Uang benar-benar mepet, tapi asli karena malu tuh ama mbak-mbak kasir yang manis terpaksa dah ane beli tuh celana jeans. Sampai di rumah Sinyo masih saja menggerutu tak rela uang segitu hanya untuk membeli sebuah celana.

Akhirnya tuh celana jeans Sinyo potong ukuran kakinya agar matching dipakai. Sayang, ternyata peraturan memakai celana jeans itu tidak berjalan lama, lambat laun memudar dengan sendirinya. Jeans yang Sinyo beli pun baru beberapa kali dipakai. Akhirnya nasib sang jeans hitam berada pada urutan paling dasar di dalam lemari pakaian Sinyo.

Beberapa hari yang lalu, saat Bunda akan pergi ke Brebes, seperti biasa kita mengumpulkan pakaian pantas pakai yag akan diberikan kepada sanak saudara di sana yang berprofesi sebagai petani bawang merah. Saat bongkar-bongkar lemari pakaian, bertemulah Sinyo dengan jeans hitam tersebut. Niat Sinyo akan diberikan ke saudara di Brebes. Tapi saat Bunda melihat koq jadi tertarik dan dicoba ternyata muat. Kata Bunda akan dipakainya saja, lumayan bagus walau terasa agak berat.

Sinyo cuma bengong meliha celana jeans itu muat dipakai Bunda yang gemuk pisan, karena itu berarti dulu Sinyo perutnya ‘mekar’ amat Astagfirullah. Semoga dah tidak tambun lagi, tetep ideal seperti sekarang ini, sehat🙂

Bye-bye my jeans….^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: