Posted by: sinyoegie | September 12, 2011

Tujuh Belas Tahun Kupinjam

Sering Sinyo lihat dia memesan mie rebus ditambah es jeruk, badannya gendut lagi tambun. Makan dengan nikmat seakan-akan warung mie dan bubur kacang hijau ini miliknya seorang, huh benar-benar tukang makan. Peluh bercucuran membasahi hampir semua badan, bau keringat wow menyebar semerbak, suka masakan pedas tampaknya. Sinyo sendiri memesan bubur kacang hijau, selain sehat juga hemat. Huf…kenapa juga berkali-kali harus bertemu dengan orang yang sama saat perut membutuhkan pertolongan darurat.

*****
Ya…bertemu lagi dah dengan si Gendut, ah tidaklah mengapa sepertinya dia sudah selesai semoga cepat kabur dari warung. Setelah memesan menu yang kuinginkan, walah..si Gendut masih saja di tempat membaca buku. Tak lama kemudian datang temannya, mereka ngobrol asik sekali. Sambil mencuri dengar kusantap hidangan sampai habis. Hm ternyata dia penulis, tampak bangga sekali, biar aku mendengar kali? Apa susahnya menjadi penulis, tinggal ketik-ketik juga?

*****
Hari berganti bulan, rasa penasaran ingin tahu siapa penulis gendut itu membuat aku memutar otak bagaimana cara mengenalnya. Aha…, Sinyo kan wartawan majalah kampus, kuadakan saja wawancara entah nanti akan diterima tidak tulisanku mengenai dia yang penting puas sudah mengetahui dan mengenalnya.

Akhirnya Sinyo berhasil mengetahui siapa penulis yang sering mengganggu pemandangan saat aku makan di warung mie, namanya mas Fauzil. Aku berterus terang saja kalau sebenarnya ingin mengenal dia dengan berpura-pura melakukan wawancara. Dia tertawa dengan kejujuranku dan sejak itu kami menjadi akrab sering berbincang berbagai macam hal termasuk masa sulit mas fauzil ketika masih kecil. Sinyo sudah menganggap dia sebagai kakak, banyak masalah kuceritakan kepadanya walau belum menyentuh problem hidupku paling mendasar. Dia juga selalu menyayangi diri ini seperti adiknya.

Kost kami memang berdekatan, di kamarnya banyak sekali buku berjibun yang kuanggap surga ilmu bagiku. Jarang kamar mas Fauzil dikunci, sehingga sering Sinyo masuk untuk membaca koleksi bukunya. Kata mas Fauzil banyak buku yang dipinjam tidak atau belum kembali, ketika kutanya kenapa tidak diminta, dia menjawab bahwa biarlah buku-buku itu dititipkan kepada temannya, surprise…

Sinyo meminjam satu buah buku tentang menulis cerpen, ingin suatu hari nanti dapat menulis juga seperti dirinya. Waktu itu mas Fauzil sudah menelorkan buku ‘Salahnya Kodok’ dan proses pembuatan naskah ‘Kupinang Engkau dengan Hamdallah’. Sibuk sekali dia mengurusi naskahnya hingga kami jarang bertemu.

*****
Dua buku karyanya kubaca cepat kerena memang tidak terlalu tebal, aku lebih suka ‘Salahnya Kodok’. Sinyo berpikir tampaknya tidak susah menulis seperti yang mas Fauzil kerjakan, tapi entahlah belum ada kekuatan lebih untuk menulis, masih sebatas keinginan.

*****
Suatu hari Sinyo diajak mas Fauzil ke tempat dia menuntut ilmu, UGM, untuk menemui rekan-rekan kelompok diskusinya. Katanya Sinyo mempunyai kasus unik yang perlu diketahui teman diskusinya. Waduh, sungguh grogi Sinyo karena teman mas Fauzil mbak-mbak jilbaber semua dan manis-manis lagi ^_^. Ternyata di sana Sinyo disuruh bercerita tentang beberapa kasus yang dihadapi, huff dasar si Gendut kurang kerjaan, seperti terdakwa saja rasanya.

*****
Sibuk dengan urusan masing-masing, Sinyo lama tak jumpa dengan mas Fauzil, apalagi harus pindah kost ke blok yang berbeda. Tahu-tahu dia sudah pindah bahkan kudengar menikah. Sayang diri ini tidak sempat menghadiri pernikahannya, aku hanya berdoa semoga mas Fauzil baik-baik saja serta sukses selalu.

Berkali-kali Sinyo berusaha mencari alamat mas Fauzil sejak dia pindah, sampai bertahun-tahun kemudian. Sama sekali bukan karena dia sudah terkenal dan menjadi artis di dunia penulisan, tetapi karena Sinyo ingin mengembalikan buku yang dipinjam.

Dulu pernah ketika membaca potongan koran Kedaulatan Rakyat dari bungkus belanjaan Bunda, Sinyo membaca komplain mas Fauzil tentang toko yang memasang alumunium di rumahnya, dia sangat kecewa dengan layanan toko tersebut. Kucatat alamat mas Fauzil agar dapat mengembalikan bukunya suatu hari kelak.

Nasib berkata lain, catatan itu hilang. Setelah bekerja di dunia Internet, kucari mas Fauzil di jagad maya, sama sekali tidak ada alamatnya hanya beberapa berita tentang kesuksesan mas Fauzil.

Hingga akhirnya Sinyo menemukannya di Facebook, hahaha dia ternyata tidak melupakan si wartawan IKIP Yogyakarta. Setelah mendapatkan alamat lengkap lewat sms, dengan bangga kukirim hari ini buku miliknya yang kurawat sekitar 17 tahun. Tidak lupa kukirim buku solo pertamaku ‘Dua Wajah Rembulan’ sebagai kenangan baginya. Aku memang tertinggal jauh dibandingkan mas fauzil dalam menulis, tetapi dia pasti juga pernah mengalami masa-masa sepertiku saat ini. Watch me mas Gendut… ^_^

*Kenangan untuk mas Ndut Fauzil, mizz u so muchšŸ˜‰


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: