Posted by: sinyoegie | December 22, 2011

Benarkah Ibu Tak Menginginkan Diriku?

Sedari kecil Nyo merasakan letupan-letupan kecil yang ‘aneh’ rasanya tertuju kepada kedua orang tua. Campur aduk antara keinginan untuk melawan, memberontak sekaligus membenci, itu semua terjadi entah dari mana?. Kata Ibu, Nyo anak yang ‘menggelikan’ saat masih kecil, kalau semua kakak dibentak atau dipelototin menjadi ketakutan tidak berlaku terhadap Sinyo. Ujar beliau, Nyo balik memelototin dengan ‘garang’ serta tatapan mata tajam, itulah yang membuat Ibu hilang marahnya karena merasa geli akan tingkah Sinyo.

Rasa ‘aneh’ terhadap orang tua belum terselesaikan, ditambah persoalan dari ejekan-ejekan ‘aneh’ yang dilakukan teman-teman sepermainan. Nyo yang ingat betul bagaimana saat masih bayi belajar berjalan, dapat menunjuk kartu terbalik yang diingat orang, membaca karakter individu dari tulisan/tanda tangan/foto/muka atau hal unik lainnya, dianggap sebagai ilusi oleh sebagain besar kawaku. Masalah kian menumpuk dengan hadirnya pelecahan seksual sebanyak dua kali dalam hidupku oleh dua laki-laki tak manusiawi dalam hidup Nyo. Komplit sudah, Sinyo menjadi pribadi yang tertutup, misteri dan penuh rahasia.

Bagai gelegar, gemuruh, ledakan, sambaran petir pada siang hari bolong, suatu ketika pada masa menjelang dewasa Nyo baru mengetahui bahwa aku terlahir secara ‘terpaksa’. Ya tanpa sadar Ibu bercerita (keceplosan – bhs. Jawa) bahwa setelah mempunyai anak ke V, Ibu ikut KB. Tetapi jalan Allah berkata lain, walau ikut KB masih ada satu makhluk yang ‘nyelonong’ hingga Ibu terlambat datang bulan (3 bulan). Oleh Bapak dan Ibu, jabang bayi itu diberi jamu-jamu agar keluar atau gagal menjadi bayi. Takdir Allah berkata lain, si bayi tetap ‘kekeuh’ pada tali plasenta sang Ibu. Ibu menangis berurai air mata saat dokter mengatakan bahwa sudah memasuki 4 bulan kehamilan, Ibu takut sang bayi bakalan ‘cacad’ fisiknya sehingga beliau berdoa siang malam  agar si bayi lahir utuh selamat.

Ya, bayi itu adalah Sinyo, terlahir sempurna memang secara fisik, tetapi Bapak dan Ibu lupa bahwa hubungan batin antara orang tua dan anak selalu ada. Ikatan ‘ketidakinginan’ yang ditorehkan sejak awal menjadikan cacad jiwa dalam hidup Nyo. Aku menjadi anak paling pembangkang, melawan perintah orang tua dan ingin menang sendiri. Apalagi sejak mengetahui berita tentang ‘percobaan’ pengguguran kandungan itu membuat Nyo semakin ‘dendam’.

Nyo adalah anak durhaka, bahkan hingga dewasa. Jika sedang emosi, Nyo sanggup berhari-hari diam tanpa mau berkomunikasi terhadap Ibu atau Bapak. Sikap mengalah orang tua tak menjadikanku luluh. Oleh ortu, banyak tindakan salah yang Nyo kerjakan ditimpakan kepada kakak-kakak yang terkadang tidak tahu apa-apa. Seakan-akan Nyo berhak menginjak-injak mereka semua atas rasa sakit yang Nyo derita. Belajar agama pun tidak banyak berpengaruh mengurangi rasa ‘aneh’ Nyo terhadap Ibu dan Bapak. Nyo sudah berdaya upaya menghilangkannya, tahu bahwa semua tindakan itu salah tetapi terus dilakukan.

Hingga Bapak sakit dan wafat, Nyo masih menyimpan ‘luka’ yang entah dari mana datangnya. Sinyo ingat waktu di RS Bethesda Yogyakarta, saat kakak-kakak merawat Bapak penuh dengan kasih dan sayang. Nyo boro-boro merawat, kalau beliau batuk-batuk juga bel panggilan suster lah yang Nyo pencet, tuh urusin ‘Bokap’ gue.

Tetapi luasnya kesabaran Ibu dan Bapak tiada bertepi. Mereka tetap sayang dan cinta Sinyo hingga akhir hayat. Entah apa yang ada dalam hati mereka, selalu memaafkan Sinyo, mendampingi Sinyo, menjaga Sinyo bahkan hingga berkeluarga. Tetesan air mata Ibu pada setiap sepertiga malam terakhir, bermunajat kepada Allah atas ‘rasa salah mereka’ terhadap Nyo dikabulkan oleh Allah SWT.

Ya, suatu hari rasa ‘aneh’ itu hilang tak berbekas entah pergi ke mana. Sekarang Nyo bukan anak durhaka yang dahulu, merupakan anak bungsu yang siap membela kehormatan Ibu jika memang harus ditebus dengan lepasnya ruh dari raga ini. Nyo siap memarahi habis-habisan kakak yang tidak perhatian kepada Ibu. Kini, Nyo setia menunggui beliau sampai ujung waktu di rumah tercinta. Nyo tahu bahwa apa yang dilakukan tidak ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan ‘hati’ beliau berusaha menjaga Sinyo agar tidak terserat arus ‘setan’ lebih deras. Hanya keyakinan bahwa doa seorang anak yang sholih akan sangat bermanfaat bagi kedua orang tuanya, bismillah.

Sinyo bersyukur, terlahir secara ‘istimewa’ dari Ibu dan Bapak yang spesial. Mereka memang khilaf, tetapi Nyo yakin mereka sangat menginginkan ‘kehadiran’ Nyo dalam bentuk apapun jua. Bersyukur bahwa Allah masih mengingatkan Nyo mengambil jalan-Nya. Ya Allah, ampunilah dosaku, dosa kedua orang tuaku. Kasihanilah mereka, sebagaimana mereka mengasihiku saat masa kecilku, aamiin.

Saat hatiku retak

Kau tak pernah beranjak

Kala jiwaku lelah

Kau selalu singgah

Orang lain bilang gila

Kau sebut aku istimewa

Jika sabar bisa diukur

Ku tak mungkin bersyukur

Jiwa mulia pantas diganjar surga, aamiin

Nyo, 22 Desember 2011, Untuk Ibu dan Bapak yang selalu Nyo cintai secara abadi ^_^.

Selamat hari Ibu, muachhhhhhhhhh🙂


Responses

  1. 😥 hick…hickk…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: