Posted by: sinyoegie | January 22, 2012

Tak Ingin Dimadu (KIB-cerpen-2)

Cerpen ini ‘pemanasan’ buat Nyo, rencana akan dibikin versi novel pada bulan Februari 2012 (semoga Nyo mampu ya Allah). Nara sumber meminta identitasnya disembunyikan (dia ingin memakai nama samaran Aisyah). Jika Anda ingin berkenalan dengan salah satu wanita tegar ini, hubungi Nyo saja ^_^, enjoy it.

*****

Sebelas tahun sudah Aisyah menjalani pernikahan. Wanita dengan tiga buah hati ini hidup serba kecukupan, tidak kurang suatu apa. Suaminya terbilang sempurna, gagah, berwibawa dan baik hati. Wajar, kalau hanya riak-riak kecil dalam kehidupan berumah tangga mereka, namun overall, it’s a perfect life.

Sayang, pagi ini Aisyah merasa gelisah tak secerah mentari pagi yang menyapa teras depan rumah. Sudah beberapa hari perasaannya memberitahu jika sang suami telah berubah. Sesuatu yang ditakuti oleh semua istri, suami mempunyai wanita idaman lain.

“Ah tidak mungkin, bukankah selama ini dia tetap sayang?” sambil menyapu, ada peperangan di kepala Aisyah. Dinginnya udara pagi tidak mampu menahan gejolak panas dalam dadanya.
“Tentu saja dia sayang, itu hanya untuk menutupi agar kamu tak curiga.”
“Kurang apa dia sebenarnya, bukankah keluarga ini sudah sempurna?”
“Hehehehe, kamu seperti tidak paham laki-laki saja, ingat dia masuk puber kedua.”
“Tapi apa buktinya?”
“Masih mau menipu diri kamu sendiri? Ingin menghilangkan perasaan wanitamu, bahwa dia mengalami perubahan? Ayolah Aisyah, jangan berlagak pilon seperti itu. Nurani tidak pernah berbohong.”

Wanita cantik dengan jilbab lebar itu berhenti sejenak, berusaha mengingat Allah, dia ingin terus berusaha berprasangka baik kepada suaminya. Tetapi, kenapa prasangka buruk itu selalu muncul? Diambil nafas sedalam mungkin, segera diselesaikan pekerjaan membersihkan rumah untuk kemudian memasak. Mungkin dengan banyak melakukan kegiatan, prasangka buruk itu akan lenyap tak berbekas.

Ternyata Aisyah salah besar, ada rasa sesak di dada yang sedemikian kuat mendorong-dorong otaknya untuk segera membunuh rasa penasaran itu. Masakannya kacau-balau, hatinya tetap belum tenang. Argh…dia meremas-remas tangan, benar-benar sudah tidak kuat. Siang itu diputuskan membeli lauk jadi saja untuk anak-anak. Nanti malam dia harus bertanya pada suami, apa sebenarnya yang telah terjadi.

****

“Bi, setelah sholat Isya, Umi ingin makan seafood di luar.” Aisyah merapikan sepatu suaminya yang barusan  pulang dari kantor.
“Umi tidak masak?”
“Capek Bi, lagian ingin bernostalgia seperti dulu saat belum ada anak-anak.”
“Baik, air hangat sudah da Mi?”
“Sudah Bi.”

Sementara suaminya mandi, Aisyah memikirkan cara bagaimana nanti harus mengungkapkan kegalauan hatinya. Anak-anak sudah diberitahu bahwa nanti malam mereka akan ditinggal belajar sendiri tanpa ditemani. Lauk-pauk dari warung tadi siang masih ada jika mereka keburu lapar, untuk makan malam seafood siap dibawakan sebagai oleh-oleh.

“Saya lobster satu dengan saus pedas dan es jeruk mbak. Untuk yang dibungkus, tolong siapkan setengah jam setelah ini ya.” Pelayan restoran seafood mengangguk dan segera pergi memenuhi pesanan Aisyah dan suami.

Aisyah memandang wajah suaminya yang sedang asyik memainkan gadget BB kesayangana. Ada perasaan tak suka melihat dia tersenyum-senyum, tapi kenapa?

“Bi….” Aisyah memberanikan diri, kalau tidak sekarang kapan lagi, mumpung pelayan masih agak lama menyajikan hidangan yang dipesan. Angin semilir malam hari membuat badan Aisyah semakin dingin, tetapi tidak dengan hatinya.
“Ya Mi, ada apa.”
“Lihat Umi dong, masak dicuekin begitu.”
“Eh, kenapa sih Mi, tampaknya serius amat. Tidak biasa umi seperti ini.” Laki-laki gagah itu meletakkan gadget di meja.

Aisyah menatap tajam jauh ke dalam mata laki-laki yang telah memberikan surga dunia selama sebelas tahun, tetapi tidak ada sesuatu yang dicarinya. Masih seperti yang dulu, gantheng dan menyejukkan hati wanita. Tangan suami menggenggam lembut telapak Aisyah yang kedinginan.

“Ada apa Mi?”
“Hm….” Aisyah membuang lepas nafasnya sebanyak mungkin, kemudian dengan sedikit tergagap dia memaksakan diri untuk mengungkapkan perasaan dalam hati.
“Bi, terus terang Umi merasa kalau beberapa waktu ini Abi berubah. Umi tidak mempunyai bukti apa-apa, hanya saja feeling mengatakan bahwa Abi mempunyai wanita idaman lain.” Lega rasanya Aisyah telah menyampaikan kegundahan yang selama ini dipendam. Suaminya hanya tersenyum ramah dan menggenggam erat tangan Aisyah.
“Mi, percayalah bahwa engkau satu-satunya wanita di muka bumi ini yang Abi cintai. Bahkan Luna Maya atau Beyonce sekali pun lewat.”

Hampir saja bulir air di pelupuk mata Aisyah meloncat, gembira, geli bercampur senang mendengar pengakuan sang suami. Ah mungkin dia terlalu sensitif setelah semakin tua, takut ditinggal sendiri apalagi anak-anak mulai remaja sehingga jarang di rumah.

*****

Hari berlalu dengan cepat, perasaan curiga kepada suami yang telah hilang sebelumnya tiba-tiba mulai membesar lagi. Tekanan di dada Aisyah bergolak kembali menghimpit kesadaran logikanya. Kali ini dia nekat bergerak sendiri tanpa bertanya. Biarlah jika dianggap dosa berani membuka barang-barang rahasia milik suami, yang jelas dia ingin bukti.

Malam itu, ketika suami tertidur lelap, Aisyah melangkah pelan menuju tas laptop dan BB suaminya. Dibawa ke ruang keluarga dengan hati-hati. Keringat dingin membasahi telapak tangannya, suasana gelap tak mengurungkan niat membuka-buka file di BB dan laptop. Alhamdulillah, semua password online tersimpan otomatis, sehingga dia dapat membaca semua email suami. Gedget BB juga dibukanya, ah….ternyata tidak ada hal yang mencurigakan.

Rasanya tubuh Aisyah ingin meledak saja, kenapa dia harus curiga kepada suami tercinta? Tetapi bukankah feelingnya selama ini tidak pernah salah? Ya Allah, tunjukkan jalan-Mu. Aisyah kembali ke kamar, dilihat tubuh suami yang tertidur lelap, besuk saat hari libur harus jelas semuanya. Aisyah tidak ingin hidup penuh dengan kecurigaan.

Pagi menjelang siang, anak-anak main di luar saat libur. Waktu yang tepat untuk berdua dengan suami di kamar. Aisyah berkata dengan serius saat suaminya sedang asyik memegang BB. Air mata satu-satu mulai mengalir membasahi pipi berikut jilbabnya. Sang suami hanya bengong tidak percaya mendengarkan penuturan kegalauan hati Aisyah kepadanya. Cukup lama Aisyah bercerita menumpahkan uneg-uneg sampai tuntas.

“Jika memang Abi mempunyai wanita idaman lain, Umi siap. Tetapi jangan Abi tutupi dari Umi apa yang telah dilakukan selama ini.”
“Hm….” Suaminya menghirup nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Aisyah dengan tajam.
“Wanita memang makhluk yang unik sekaligus menarik. Sungguh kuat sekali feeling Umi dan itu benar adanya, ya Abi mempunyai idaman lain serta menutupinya selama ini.”

Detak jantung Aisyah serasa berhenti, walau dia berkat akan kuat menghadapi semua ini, namun tetap saja desakan air mata tak tertahankan kembali mengalir.

“Sudah berapa lama Abi mencintainya?” Sejenak suami Aisyah terdiam, berkali-kali dia mengambil nafas seakan-akan ada sesuatu yang berat menahan bibirnya.
“Cukup lama Mi, mungkin sekitar tiga bulan ini.” Meski sakit, Aisyah berusaha bertahan. Suami sudah mau jujur, berarti dia mempunyai niat baik. Jika dia memilih idaman hatinya, Aisyah akan mengambil jalan untuk berpisah karena tidak ingin dimadu. Berharap suami mau melupakan wanita tersebut, kembali menjadi bapak anak-anak dan pasangannya seperti yang dulu.
“Seperti apa dan di mana dia?”
“Umi benar ingin mengetahuinya, walau Abi berniat dan siap bertobat?”
“Ya, Umi ingin tahu Bi. Sakit seperti apa jua, Allah pasti akan memberikan jalan terbaik. Semoga Umi dapat memaafkan Abi juga dia.”

Suami mengambil BB yang terletak di kasur, dibukanya file untuk membuka foto seseorang. Aisyah sedikit gemetar, ternyata foto wanita itu ada di dalam ponsel pintar tersebut. Kenapa dia tak menemukannya? Bukankah masalah teknologi dia tidak ketinggalan dengan suami?

“Umi siap lahir batin?” Aisyah menganggukkan kepala menjawab pertanyaan suami tercintanya. Diterimanya BB dari suami yang telah dibukakan foto idaman hati, dia harus kuat…harus…harus.

Duarrrrrrr, andai saja saat itu ada petir menyambar di hadapan Aisyah, mungkin tidak akan membuat dia sekaget ketika melihat foto tersebut. Bagaimana tidak, itu adalah foto laki-laki. Tidak menangis, tidak jua menjerit…Aisyah hanya berpikir andai saja dia tidak ingat Allah, maka detik itu pula dia sudah dibawa ke rumah sakit jiwa. Ya laki-laki itu ada di email dan file BB yang dia lihat pada malam sebelumnya.

Jangan terburu menilai, sebelum Anda mempunyai fakta ^_^

Nyo, Magelang 22 Januari 2012 (Siang yang panas di kotaku)
BoTS by Aisyah (jika ingin berkenalan dengannya hubungi Sinyo)
KIB adalah singkatan dari Kisah Inspiratif Based on True Story (BoTS) yang digunakan Sinyo untuk cerpen dan novel yang dibuatnya.


Responses

  1. mksdny suaminya ‘sakit’ ya?

    • Iya begitulah, namun ada kelompok yang tidak ‘terima’ jika disebut dengan ‘sakit’. Mereka bahkan menyebutnya berkah🙂

      • berkah??? haduh…… berkah yg samasekali tidak diharapkan,….

      • Kekekek coba dah main ke situs-situs yang mendukung LGBT, itulah jawabnya ^_^, yah saya mau jawab apa lah ‘wong’ itu hak mereka. Nah apapun pilihan dan tindakan kita di dunia semua bebas, hanya saja kelak akan diminta tanggung jawab🙂 oleh Sang Penguasa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: