Posted by: sinyoegie | April 12, 2012

Satu Halaman Lima Ratus Ribu Rupiah

Mendapat kesempatan berguru langsung selama sebulan kepada mas Bambang Trim adalah salah satu hal luar biasa yang Nyo dapatkan tahun ini. Bayangkan saja, tarif beliau untuk training normal selama 5 jam adalah 6 juta rupiah (nett, maksimal 30 orang, diluar akomodasi). Lah Sinyo belajar privat dengan ‘Komporis Perbukuan Indonesia’, sudah gratis bahkan dibekali uang saku waktu pulang. Tidak hanya itu, Nyo juga langsung mendapat tiga naskah pesanan penerbit guna dikerjakan di rumah. Materi sebanyak apa jua, rasanya tidak akan dapat membalas kebaikan beliau. Nyo berdoa agar mas Bambang Trim dan keluarga dibalas dengan kebaikan yang lebih banyak, aamiin ya Allah.

Nyo sudah berjanji kepada sesama rekan penulis untuk menularkan ilmu yang didapat dari mas Bambang Trim, salah satunya beberapa tips berikut yang Nyo ‘copy’ dari Sang Master ^_^, ‘cikidul yau!’ (mohon maaf, urusan niat tidak Nyo bahas karena itu berhubungan dengan Allah SWT, jadi silakan disimpan masing-masing saja ya🙂

  1. Proses. Kesalahan pertama penulis pemula seperti Nyo adalah ingin sukses secepat mungkin dengan instan. Pernah suatu hari Nyo dipanggil mas Bambang ke kamar kerja beliau, diajak ‘ngobrol’ tentang banyak hal. Tiba-tiba mas Bambang bercerita baru saja mendapatkan pesanan sebuah naskah buku, satu halaman berharga 500rb, total 80 juta untuk satu buku saja. Sekitar 20 tahun beliau menekuni karier menulis, jadi wajarlah kalau Nyo yang baru dua tahun satu halaman tulisan berharga 34rb hihihiiiiiiiiiiiiiiii………….. 
  2. Fokus. Kesalahan kedua penulis pemula, bingung antara menulis non-fiksi, fiksi atau faksi? Dewasa, remaja atau anak-anak? Seorang Bambang Trim, memulai karier dari editor freelance. Setelah ilmu editing dikuasai sampai tuntas, mulailah melebarkan sayap dengan menulis artikel, buku ringan anak-anak sampai dengan buku agama. Pesan beliau yang sering disampaikan pada training, mulailah menulis berdasarkan ‘kebutuhan’ bukan ‘keinginan’. Sebelumnya Sinyo ‘keukeuh’ bahwa buku yang Nyo hasilkan harus ideal dan evergreen, iya suatu saat pasti akan tercapai hal itu, namun selama belum mampu mulailah menulis hal-hal ringan yang dibutuhkan banyak orang. Apalagi tulisan yang berdasarkan ‘keinginan’ seperti novel, dapat dipelajari sambil mengerjakan hal bermanfaat lain. Kita sering lupa bahwa Andrea Hirata adalah seorang pegawai Telkom, bukan penulis karier.
  3. Tahan Banting. Suatu kali saat hari libur, mas Bambang masuk kerja begitu pula Nyo. Selama ini, Nyo sudah ‘merasa’ sebagai laki-laki yang cukup dihargai karena bekerja disiplin, pantang menyerah dan tidak kenal lelah. Tetapi ketika Sinyo berhadapan dengan Bambang Trim benar-benar kalah telak. Mungkin beliau mempunyai rahasia tertentu, minum susu kuda liar kali ya? Tetapi tidak, Nyo perhatikan kekuatan yang luar biasa hadir karena ‘gairah’ cinta pada pekerjaan yang digeluti. Nyo sudah teler dan terkantuk-kantuk, mas Bambang masih tak-tik-tuk melulu hingga malam menjelang dini hari baru pulang. Kata istri beliau (mbak Irma) di rumah masih tak-tik-tuk lagi sampai jam satu dini hari, hadeuh….bagaimana kalau dijadikan buku saja judulnya Tak-Tik-Tuk?
  4. Konsisten. Jika selama bekerja telah ditemukan hal idealis yang cocok maka pertahankan terus hingga ujung waktu. Suatu sore, mas Bambang Trim kedatangan seorang tamu. Dia ternyata salah satu pemilik penerbit major di Indonesia. Tamu tadi meminta kepada mas Bambang untuk menyediakan 120 buku dalam waktu 2 bulan saja. Senang mendengarnya, tetapi mas Bambang menolak. Bukan masalah jaim, tetapi buku yang dihasilkan harus berkualitas ‘bagus’. Padahal komunitas ALINEA yang dibentuk mas Bambang Trim baru sebatas embrio. Para penulis di ALINEA belum ada yang aktif kecuali Sinyo. Sebenarnya mas Bambang juga sudah ‘eneg’ melihat Nyo, tetapi karena Sinyo konsisten maka luluhlah beliau wkekekekekeke……:p Semoga kedepan banyak lulusan ALINEA yang aktif.
  5. Akhlak. Selama berguru kepada mas Bambang Trim, Nyo mendapat masukan berbagai hal tentang penerbitan, akhlak para penulis dan lain sebagainya. Nyo baru sadar bahwa memang seringkali banyak orang seperti kacang lupa kulitnya. Orang rela melupakan akhlak terpuji demi ambisi pribadi. Walau hanya dibatasi dinding, Sinyo dan mas Bambang terkadang saling kirim email, salah satu hal yang Nyo tuliskan untuk beliau adalah: ‘Semoga kelak mas Bambang Trim akan bangga menyebut Nyo sebagai penulis binaannya.’ Ya, lewat akhlak terpuji inilah Nyo berusaha melebarkan sayap, Alhamdulillah dipercaya Trimkom, Dixigarf, Bioqita, Indocitagro dan Boneka Annisa sebagai ‘Internet Marketing’.
  6. Iqra’. Waktu datang pertama kali di kantor mas Bambang Trim, mata Sinyo jelalatan melihat begitu banyak buku berhamburan. Rasanya ingin Sinyo baca semua, tetapi karena waktu sebulan hanyalah sebentar maka Nyo ‘membawa lari’ beberapa buku terpenting sesuai dengan fokus yang Nyo harapkan. Pesan mas Bambang Trim, hanya lewat banyak membaca maka kita akan mampu menghasilkan tulisan yang bagus. Bagimana orang akan memberi jika dia tidak mempunyai apa-apa? Baca koran, buku, nama bus, angka-angka hingga membaca alam ini. Sampaikan kembali kepada pembaca, sesuai dengan kemampuan menulis yang kita miliki.

Sementara ini cukup 6 poin tersebut di atas. Sinyo beritahu rekan-rekan semua, jika memang berniat meniti karier menulis, segeralah bergerak cepat. Apalagi jika Anda masih muda, kesempatan sangat terbuka luas. Nyo mungkin termasuk penulis yang terlambat memuali start, tetapi selama kita berusaha secara maksimal insyaa Allah akan selalu ada jalan mudah. Pelajar, mahasiswa, pekerja, karyawan, atau profesi lain tidak menjadi halangan untuk menulis.

Saat ini, selain membantu mas Bambang Trim menulis naskah non-fiksi, Nyo juga mulai belajar membuat buku anak-anak dan novel (semua berdasarkan kisah nyata), mohon doa ya ^_^

Nyo, Magelang 12 April 2012 (Welcome Home….)


Responses

  1. keren😀

    • Ayo copy the Master Bambang Trim🙂

  2. Benar-benar tulisan yang membuat Alby tambah semangat.

    Sejak dulu tidak pernah terpikir untuk membuat naskah dan menerbitkan buku. Karena selama ini, selesai menulis (cerpen) langsung buka daftar nama media yang akan jadi target dikirimi naskah. ^_^

    Hingga sejak tahun 2010, Alby bertemu dengan salah seorang penulis anak yaitu mas QS. Emmus dan mendapat gemblengan langsung dari beliau. Akhirnya mulai melirik untuk bisa menulis naskah bukan hanya cerpen dan puisi saja. Naskah pertama adalah buku seri anak yang sekarang masih dicoba dikirim ke penerbit (pernah nyoba dikirim ke TS dan menurut mas Bambang Trim masih ada beberapa hal yang kurang sehingga tidak bisa diterbitkan). Tidak berhenti disitu, Alby coba menulis novel anak (ada dua novel, yang satu sudah dikirim untuk ditawarkan ke penerbit, dan satu masih ngendon di kompi). Bahkan Alby juga mencoba membuat kumcernak yang semuanya saat ini masih ditawarkan ke penerbit.

    Benar kata Mas Nyo, harus KONSISTEN dan TAHAN BANTING. Ini terbukti kurang lebih 19 tahun Alby tetap bertahan di dunia menulis. Meskipun hasilnya baru mulai terlihat sejak tahun 2007, namun inilah proses yang sangat indah. Bukan begitu, Mas Nyo?

    • Wow 19 tahun, hebat adik. Insyaa Allah akan segera menemui jodohnya🙂 Ayo semangat ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: