Posted by: sinyoegie | November 8, 2012

Si Meong (Based on True Story)

Matahari mulai meninggi, kulihat jam tangan sudah menunjuk angka 9, duh…alamat telat sampai kampus nih. Kepala ikan bekas sarapan tadi masih ada di tangan, terbungkus plastik. Tumben si Meong belum muncul juga, biasanya dia sudah nongkrong di depan kamar kost. Saat pintu hendak kukunci tiba-tiba berkelebat cepat si Meong mendekati kaki sambil bermanja ria. Mata memejam keenakan saat tangan ini mengelus lehernya. Segera kupacu sepeda motor, sekilas terlihat kucing ‘aneh’ itu melahap hidangan istimewa kepala ikan.

*****

Si Meong, entah kucing milik siapa, bulunya putih belang hitam telah menjadi ‘sahabat’ anehku sejak nge-kost di sini. Pada awal dia datang hanya mengendus-endus sambil bersuara meong, badannya masih kecil dan kurus. Mungkin dia anak kucing yang tersesat, terlantar atau terbuang, sungguh kasihan. Tidak mungkin aku memelihara karena luas kamar sudah mepet sekali, iba hati menggerakkan tangan untuk meraih kerupuk udang yang belum kumakan. Di depan pintu kost, si Meong menikmati kerupuk yang telah kupatahkan agar mudah dimakan. Sambil melihat dia sarapan, mulut ini bercerita tentang keiinginan memeliharanya tetapi sikon tidak memungkinkan.

Sejak itu aku dan si Meong seperti ada ikatan batin, mungkin hanya prasangka saja tetapi beberapa kali dia muncul kala diriku dilanda sepi atau sedang banyak sisa makanan. Setiap sarapan dia selalu menunggu ‘jatah makan’ dariku, tidak tahu bagaimana dia makan kalau aku pulkam, mungkin mencari di tong sampah.

Terkadang dia masuk dalam kamar jika pintu terbuka, biasanya kubersihkan beberapa bagian tubuh si Meong dengan tisu basah atau mengajaknya bermain. Kalau tugas kuliah sedang menumpuk, kucing yang sekarang terlihat gemuk dan lucu itu bermalas-malas tidur dekat kasur pada karpet kecil. Jika pikiran sedang kalut atau hatiku galau, si Meong menjadi tempat curhat, sesudahnya terasa geli kala mengingat aku bicara dengan seekor kucing.

*****

Petang menjelang Maghrib, aku sampai di tempat kost. Setengah berlari aku menuju kamar tetapi mata ini terbelalak saat akan membuka pintu. Tepat di tempat aku biasa memberi sarapan si Meong telah tergeletak hasil buruannya. Dasar kucing, masak aku disuruh makan malam memakai daging mentah seekor tikus mati? Setelah kubersihkan aku segera menuju kamar mandi, di dalam kutitikkan air mata buat si Meong, walau dia hanya binatang tetapi sungguh tahu bagaimana menghargai ‘persahabatan kami’.

Insting binatang dapat menghargai sebuah anugerah kebaikan, semestinya kita sebagai manusia dapat lebih menghormati segala karunia dari Allah SWT, salah satu bentuknya dengan menghindari perbuatan aniaya pada diri sendiri atau orang lain

Nyo, awal bulan November yang kelabu, kisah dari adik mbak Tina di Solo.

(Selamat berjuang meraih mimpimu sahabat, aku di sini masih setia walau mungkin kau sudah melupakan)


Responses

  1. Oh, yang ini lebih friendly ya mas

    • Saya juga terus belajar mbak ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: