Posted by: sinyoegie | November 12, 2012

Benci Ayah (Based on True Story)

Foto: hasil karya Eyang Soga Soegiarto

Kuhentikan sepeda kayuh di bawah pohon rindang pinggir jalan, keringat membasahi sekujur tubuh bahkan mulai tembus pada jilbab. Persediaan air minum tinggal setengah, kuteguk hingga habis sambil duduk. Alhamdulillah tidak turun hujan dan angin cukup kencang sehingga perjalanan pulang kali ini sedikit ringan.

Saat menunggu penat hilang, melintas seorang bapak dengan sepeda kayuh pula. Wajahnya mulai berkeriput, rambut memutih tetapi tetap terlihat semangat bekerja membawa dua keranjang berisi pisang. Ah…dia seperti Ayahku, tetapi beliau saat ini sedang sakit, itulah kenapa aku begitu ingin lekas sampai di rumah.

*****
Ayah adalah pahlawan bagiku, walau dulu saat masih kecil dan remaja aku pernah membencinya. Bagaimana tidak, dari empat saudara hanya diri ini yang dipaksa tinggal bersama Ayah dan Ibu yang serba kekurangan. Sementara kedua kakak dan satu adik hidup berkecukupan di rumah Bibi dan Paman. Ayah terlahir cacat pada kaki, walau cerdas akhirnya hanya dapat bekerja sebagai pembersih sampah di pasar terdekat, sedangkan Ibu merupakan tukang cuci baju tetangga.

Entah apa salahku sehingga dipilih tinggal bersama kedua orang tua yang penuh derita, hampir semua barang yang kupunyai merupakan bekas dari kakak. Aku tidak boleh keluar rumah kecuali sekolah dan harus membantu banyak hal. Tidak jarang cacian menghina datang dari saudara kandung, kedua orang tua, Paman dan Bibi, tidak ketinggalan para tetangga. Sering pula kekerasan menerpa diri dengan alasan yang tidak jelas, seakan-akan aku ini penyakit bagi mereka semua.

Puncak kebencian adalah ketika Ayah melarang untuk melanjutkan sekolah setelah SMP, sementara saudaraku yang lain dapat dengan tenang belajar hingga perguruan tinggi, tentu juga dibantu paman dan bibi. Rasa sakit di tubuh tidak separah luka di hati waktu itu, aku rela tubuh ini hancur namun tidak untuk belajar mengetahui isi dunia, sungguh Ayah dan mereka semua teramat kejam.

Aku sudah dicap gila dan memang mendekati gila andai saja Sang Khalik tidak memberi jalan terang dalam menapak hidup. Seiring berjalan waktu, aku belajar ikhlas dan menerima itu semua sebagai berkah dan jalan damai menuju surga Allah.

Kini diriku bangga, meski hanya seorang wanita lulusan SMP dan bekerja sebagai buruh pabrik tetapi gizi yang mengalir dari tiap bulir keringat Ayah dan Ibu pada darah ini jelas halal. Hinaan, makian dan dera serta siksa pada hati juga tubuh membuatku gigih lagi kuat. Semua terpaan itu aku anggap sebagai pelecut agar maju terus menjadi orang bermanfaat, setidaknya sebelum napas sampai di tenggorokan.

Sepekan sekali aku pulang ke kampung halaman dengan sepeda kayuh, menempuh rentang jalan sepanjang 45 Km hanya demi bersua dengan sosok Ayah. Orang cacat yang telah renta namun selalu meneteskan air matanya secara diam-diam kala aku sakit dan tersiksa. Sama sekali tidak pernah terucap kata ‘cinta atau sayang’ dari mulut Ayah, tetapi aku sungguh tahu bahwa cinta sejatinya datang dengan rela menghirup bau sampah hari demi hari, setiap butiran keringat dari seluruh tubuh yang tidak pernah kuusap kala masih kecil.

*****
Matahari mulai meninggi, penat di tubuh telah berkurang. Aku segera berangkat diiringi doa agar Ayah tetap sehat dan tenang hingga aku datang. Aku….sang gadis ‘gila’ memang benar-benar cinta (benci) Ayah.

Nyo, November kelam, 2012 (Kau yang terkapar karena luka, percayalah setelah itu akan datang suka ^_^)

Spesial thx untuk adik manis di Madura sana


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: