Posted by: sinyoegie | December 9, 2012

Tangis Bapak (Based on True Story)

465424_513409698678196_534441384_o

Foto: hasil karya Eyang Soga Soegiarto

Sore yang indah dan cerah, aku berjalan sendiri menyusuri jalan dekat pantai. Beberapa kali melintas sepeda motor yang dikendarai gerombolan pemuda dengan laju kencang. Semangat anak muda seperti mereka memang selalu menyala, termasuk diri ini. Kuhirup udara segar sepuasnya di atas jembatan sambil melihat air mengalir ke arah laut. Dari kejauhan tampak seorang laki-laki tua mengayuh sepeda, entah kenapa dia berhenti sejenak. Wajah keriputnya terlihat sedih, sesekali tangan mengusap butiran air mata yang keluar. Ingin rasa bertanya jika ada hal yang dapat kubantu. Sayang, dia begitu cepat berlalu meninggalkan kesedihannya kepadaku. Ya, ingatan sedih tahun 2008 tentang Bapak kembali menguat.

Sejak duduk di bangku SD, aku terbilang cerdas lagi pintar dibandingkan saudara sekandung atau teman sebaya. Hasrat belajar semakin meningkat saat SLTP, tujuanku cuma satu yaitu menjadi seorang dokter. Keluarga terutama Bapak sangat mendukung cita-cita ini. Kala teman-teman sibuk bermain bola, asyik pacaran dan puas bermain apa saja yang mereka sukai, aku berkutat dengan mata pelajaran dari pagi hingga sore. Piala juara kudapatkan, semua keluarga bangga sekaligus senang termasuk Bapak. Sayang, karena ekonomi keluarga minim, aku tidak mungkin masuk ke SLTA Plus Favorit. Nasib melabuhkan diri ini ke salah satu SLTA jauh dari kampung halaman.

Semangat untuk belajar semakin menyala, membesar dan bertambah kuat. Jarak 22 Km setiap pagi kutempuh bersama para pedangang sayur-mayur guna menuju sekolah. Lapar, dahaga serta lelah bukan penghalang untuk terus belajar agar tercapai cita-cita. Sengaja aku tidak mengambil kost agar dapat memandangi wajah kedua orang dan keluarga tua tercinta. Hasilnya aku kembali menjadi juara pada kenaikan kelas, Bapak sangat bangga karena dia dipanggil maju di hadapan banyak wali murid yang jelas berduit.

Diri ini tidak cepat puas, aku berusaha mencari beasiswa untuk meringankan beban ekonomi orang tua. Alhamdulillah aku lolos beasiswa salah satu perusahaan Minyak Internasional dengan catatan harus kuliah di PTN pada tahun pertama. Guna mendapatkan tambahan uang jajan, aku memberi les teman-teman yang kesusahan dalam belajar. Namun karena sakit, aku tidak dapat ikut tes masuk PTN lewat jalur prestasi. Hal itu tidak membuatku menyerah,percaya diri mampu melewati tes resmi PTN meski bersaing dengan ribuan orang pada jurusan kedoteran. Bapak mengorbankan tabungannya agar diriku bisa ikut bimbingan belajar demi cita-cita kami semua, harapan keluarga.

Setelah lulus SLTA dengan nilai maksimal, Bapak mengantar aku menjalani ujian seleksi penerimaan mahasiswa PTN. Beliau sangat berharap bahwa aku akan lolos menjadi dokter demi mengangkat ekonomi keluarga. Selesai tes, aku bermunajat kepada Allah lewat sholat malam dan puasa agar lolos seleksi. Hari pengumuman tiba, dapat kabar dari kakak Alhamdulillah diri ini diterima di fakultas kedokteran sebuah PTN. Satu keluarga bahagia, gembira, bahkan kami mengadakan kenduri menyambut semua ini.

Tetapi, nasib orang siapa yang tahu? Jauh-jauh Bapak mengantar aku menuju ke tempat tes kesehatan sebelum resmi masuk PTN, ternyata dokter menyatakan aku menderita Deuteronopia, sebuah buta warna parsial khusus untuk warna hijau. Bapak panik, beliau pontang-panting mencari solusi bagaimana cara agar aku lolos tes kesehatan. Operasi sangat berisiko dengan biaya mahal, itu saja belum tentu berhasil. Aku sudah lelah, kasihan melihat Bapak yang setengah ‘kehilangan kesadaran’ sampai akhirnya kami bertemu seorang dokter yang bijak. Seandainya lolos tes kesehatan, kelak saat belajar mata kuliah mikrobiologi dan sejenisnya aku pasti gagal. Lemas, sedih dan kehilangan semangat Bapak pulang ke rumah, meninggalkan aku sendiri di tempat yang jauh dari kampung halaman.

Aku mendengar beliau sampai di rumah menangis, ya baru kali pertama aku tahu Bapak menangis. Hatiku sesak tiada terkira, sempat berpikir kenapa Tuhan tidak Adil tetapi segera kutepis bisikan setan itu. Kucoba mendaftar jalur lain menuju PTN, yang penting beasiswa terselamatkan dahulu. Ya Allah, ternyata STAN atau PTN lainnya juga mempunyai syarat ‘bebas buta warna’. Disaat energi dalam tubuh semakin surut, harapan mulai menghilang dan sudah kuikhlaskan beasiswa hilang, aku mendapat informasi tentang kuliah di PTN Malaysia.

Nekat saja aku ikut dengan memilih fakultas yang bebas dari buta warna. Alhamdulillah, akhirnya beasiswa terselamatkan meski aku tidak menjadi dokter. Aku tahu Bapak kecewa, keluarga besar juga sedih atas kejadian yang menimpa diri ini. Tetapi hasratku tidak akan padam untuk menuntut ilmu, biarlah air mata mereka tertumpah atas kesedihan ini. Semoga kelak, ya saat aku lulus dan bekerja, air mata mereka harus tumpah karena bangga mempunyai anak cerdas dan bertakwa.

Aku….hamba yang percaya kepada Allah, bahwa Dia sang Khalik pasti adil.

Nyo, awal Desember 2012 (Membenci Mu, salah satu ketidakadilan diriku waktu itu)

Semangat buat narasumber ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: