Posted by: sinyoegie | February 25, 2013

Penjaga Terakhir (My True Story)

11791_164334283714894_1934027454_n

Foto: hasil karya Eyang Soga Soegiarto

Pyar…..terdengar suara benda pecah di dapur.

“Apa tuh mas ?” tanya salah satu pelanggan warnet yang duduk di dekatku.

“Ah paling juga si Ahza mecahin piring.” jawabku santai. Sejurus mata ini menengok ke arah ruang tengah, menunggu teriakan anakku si Ahza memanggil diri. Tetapi sunyi…ah, ternyata Ahza sedang bermain game di komputer paling pojok.

Segera kaki melangkah ke dapur, kulihat Bunda sedang memegang bungkusan sayur sambil berdiri bingung. Masih terdapat cukup banyak pecahan mangkuk di lantai, segera kubersihkan. Bunda hanya terdiam, dia masuk ke ruang keluarga sambil membawa bungkusan sayur tadi.

Aku mengambil piring untuk makan siang, Bunda kembali ke dapur dia masih tampak bingung, aneh seperti tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Kuambil bungkusan itu dan kutuang dalam mangkuk baru. Bunda menuju ke ruang keluarga, entah apa yang beliau lakukan di sana. Makan siang habis dalam waktu 15 menit dalam mulutku.

“Bunda…jadi tidak ambil uang di ATM?” kulihat Bunda duduk di meja sambil memegang jahitan.

“Rokok saja….” jawab Bunda, tatapan matanya kosong.

Aku mulai sadar bahwa ada hal yang tidak beres pada ibu, segera beliau kuminta tidur di kamar. Semua kakak kuberi kabar termasuk sahabat. Mereka meminta agar Bunda segera dibawa ke rumah sakit. Tetapi sore itu, Sabtu tanggal 15 Desember 2012, hujan begitu lebat. Istri sedang ada kegiatan di luar belum berani pulang karena banyak kilat. Mertua yang akan menjemput keluarga kecilku untuk diajak liburan ke Jakarta juga tertahan di terminal. Tinggal nenek dan anak-anak serta pelanggan warnet yang ada di rumah. Aku nekat mengambil keputusan untuk tidak membangunkan Bunda dari tidurnya, biar istirahat.

*****

Selama sepekan Bunda dirawat di rumah sakit, beliau terkena stroke ringan dengan pendarahan minimalis, cidera pada memori utama di otak sehingga divonis oleh dokter ahli saraf dan ahli penyakit dalam mengalami amnesia. Tidak ada obat untuk mengembalikan memori Bunda secara utuh 100%, saran dokter agar keluarga melakukan terapi psikologis guna membantu pulihnya memori Bunda.

Ibuku yang kukenal saat ini secara skill dan kemampuan fisik tidak banyak yang berubah, tetapi jelas bukan Bunda yang dulu lagi. Ingatan beliau telah diambil oleh Allah, aku menangis bukan kasihan kepada Bunda tetapi bersyukur beliau telah dibebaskan dari hukum ‘agama’ karena banyak lupa. Jangankan orang lain, kepada anaknya sendiri saja kadangkala tidak ingat.

Sejak Bunda sakit amnesia, otomatis aku tidak mungkin pergi terlalu lama dari rumah. Padahal pada bulan Januari 2013, diri ini ingin nekat meniti karier di Jakarta dalam bidang kepenulisan meninggalkan Bunda dan keluarga di kota Magelang. Rupanya Allah tidak meridai kepergianku karena tidak ada yang menunggui ibu kecuali aku si anak bungsu.

Hati menjerit, dari dulu aku ingin seperti elang yang bebas pergi menjemput rezeki demi keluarga. Iri sekali melihat semua kakak sudah mempunyai rumah pribadi, mobil atau barang keduniaan lain yang dapat mereka banggakan. Malu sekali saat tangan ini diberi uang untuk anak-anak kala mereka akan pulang ke rumah masing-masing setelah menengok Bunda. Mereka berpesan agar aku menjaga Bunda baik-baik.

Perasaanku semakin pedih saat salah satu penulis terkenal yang berdomisili di Jakarta menawarkan pekerjaan dalam bidang kepenulisan untukku, sebuah jawaban dari semua doaku selama ini, namun panggilan pekerjaan itu sirna karena tubuh ini tidak mungkin ke mana-mana selain menjadi penjaga Bunda.

*****

Hari-hari kulalui dengan pasrah kepada Allah untuk mengurus Bunda dan anak-anak, ya aku sekarang menjadi bapak rumah tangga. Pendapatan dari bisnis mini warnet dan menulis tidak menentu, kadang naik namun tidak lama kemudian turun. Aku ingin berontak tetapi tidak bisa, rasanya mau protes tetapi kepada siapa juga bingung. Kegiatan menulis berjalan lamban, jarang online di media sosial tenggelam dalam angan dan mimpi.

Hingga suatu hari saat melihat Bunda tertawa ceria dalam kebingungannya, memerhatikan anak-anak dan istri yang begitu gembira bercanda bersama, aku menjadi sadar bahwa merekalah jalan rezeki yang sebenarnya. Kubandingkan para keponakan dengan putra-putriku yang kudidik langsung dan tumbuh dengan pendidikan agama serta fasilitas yang tercukupi. Hampir semua kakakku mengeluh dan kebingungan menghadapi tingkah laku anak-anak mereka yang tidak ditemani secara komplet saat tumbuh kembang, aku bersyukur dapat menemani buah hati setiap saat di rumah untuk kelak menjadi anak yang saleh.

Jika semua kakak mempunyai banyak tabungan di dunia, aku sedang menabung banyak untuk negeri akhirat karena menjadi penjaga Bunda. Berlatih sabar setiap saat kepada wanita yang telah melahirkan dan mendidikku.

Hari esok, sungguh aku tidak tahu akan makan apa dan entah sanggup atau tidak meneruskan sekolah anak-anak di tempat yang berkualitas secara agama. Hanya saja hingga detik ini, buah hatiku masih dapat tersenyum gembira bermain di tempat pendidikan yang bagus dan di rumah. Selalu saja ada rezeki datang tiba-tiba saat aku dan istri tidak mempunyai apa-apa. Biarlah istri dan anak-anak belum dapat menikmati hidup serba berkecukupan seperti saudara-saudara yang lain, terpenting kami bahagia berkumpul bersama. Kami hanya mempunyai Allah semata.

*****

Kali ini aku bangga, karena dapat menjadi bapak rumah tangga yang baik untuk Bunda, nenek dan keluarga kecilku. Semoga diberi balasan yang bayak atas semua doa dan dukungan teman-teman agar aku kembali aktif. Keep watching, Nyo akan kembali menulis, aktif membantu teman-teman yang butuh konsultasi tentang dunia ‘abu-abu’ dan aktif LIKE di media sosial🙂

Cemungud…… ^_^

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”(QS.ibrahim:14)

Nyo, 25 Februari 2013…(aku sang LAKI-LAKI PENGEJAR LOMBA).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: