Posted by: sinyoegie | December 2, 2013

Jembatan (True Story)

jembatan

Foto by Eyang Soga Soegiarto

Bagi kebanyakan orang, melewati sebuah jembatan akan memicu adrenalin, apalagi jembatan gantung. Dalam pikiran timbul perasaan takut seandainya jembatan itu runtuh, namun di sisi lain ada kebahagian tersendiri karena serasa terbang saat angin menerpa. Aku juga dulu menikmatinya, sayang sejak tahun 2006 bagiku jembatan adalah kenangan buruk dalam hidupku.

Suamiku Pergi

Umur 25 tahun aku menikah dengan laki-laki pujaan hati, semuanya serba menyenangkan. Tidak ada yang kurang dari kami sebagai keluarga, tentu aku ingin semua itu berlangsung abadi tetapi takdir berkata lain.

Setelah aku melahirkan anak kedua, suamiku mendadak berperilaku aneh. Kata orang dia diguna-guna karena usaha kami yang maju pesat, tetapi aku tidak percaya. Kadang dia pergi tanpa pamit entah ke mana, tidak bisa ditunda sedetik saja. Bukan cuma satu atau dua jam, kadang berhari-hari.

Meskipun repot karena anak-anakku masih kecil, aku tetap berusaha menghidupkan usaha yang kami rintis sejak awal menikah. Kala malam menjelang, aku sering menitikkan air mata sekedar melepas lelah sambil bertanya: “Ke mana suamiku pergi?”

Aku benar-benar bingung ketika hampir sebulan suami pergi tiada kabar berita. Kami sekeluarga susah payah mencarinya tetapi tidak ditemukan. Hingga suatu hari dia kembali, aku sangat terharu dan gembira melihatnya pulang. Tetapi perkataan pertama yang aku dengar dari mulutnya adalah: “Kalau dengan laki-laki lain, kamu pasti sudah diceraikan.”

Perkataan itu hampir saja membuatku runtuh, tetapi aku yakin itu bukan dari dasar hatinya. Aku yakin ada yang salah dengan suamiku, meski harus menahan tangis dan malu aku tetap berusaha tegar menghadapi perilaku suami. Kelakuan laki-laki yang kucintai itu semakin menjadi-jadi anehnya, dia seakan-akan sangat membenciku tanpa sebab.

Berdasarkan saran dari teman-teman dan keluarga, aku bawa suami berobat di Singapura. Kata dokter, ada virus aneh yang menyerang otak suami sehingga mengalami gangguan. Setelah diberi obat, suamiku mengalami perubahan 180%, kali ini sedikitpun aku tidak boleh meninggalkan dirinya. Bahkan seringkali aku menutup toko demi menjaga sang belahan hati. Hal yang paling kuingat ialah, dia tidak akan tidur sebelum tanganku diletakkan di dadanya.

Keanehan suami akhirnya purna pada tahun 2006. Pagi itu dia pamit untuk keluar tanpa memberitahu tujuannya. Karena khawatir, Ibu mertua menyuruh salah satu anak buah untuk menyusul suami agar tidak hilang seperti dulu.

Tiba-tiba ponselku berdering, sang karyawan menelpon dengan panik dan cemas memberitahu bahwa suamiku meloncat ke sungai dari jembatan yang biasa kami lalui. Aku shock,tidak tahu harus bersandar kepada siapa untuk menumpahkan tangis. Mertua dan keluarga suami jelas menyalahkan diriku yang dianggap tidak mampu menjaga sang pujaan hati.

Dua Permata Jiwa

Tuduhan yang menyakitkan hatiku dari orang-orang atas kematian suamiku, tidak membuat diri ini surut menghadapi tantangan dunia. Aku bekerja keras demi kedua permata hati serta para karyawan yang membutuhkan pekerjaan guna bertahan hidup.

Dalam otakku hanya satu, memajukan bisnis sebesar mungkin guna membuktikkan bahwa aku menyayangi keluarga. Tetapi semua itu berubah saat anak sulungku mengetahui kisah meninggalnya suamiku. Ada perasaan takut yang menjalar dalam setiap pori-pori, jangan-jangan dia akan mengikuti langkah papanya. Cemas, panik, dan ketakutan terus menghantui hidupku sejak saat itu.

Ah…aku terlalu jauh melupkan Tuhan Sang Pengasih, tidak ada kedamaian sama sekali di hati. Berkat bantuan adikku, aku paham bahwa aku, keluarga dan karyawan tidak hanya membutuhkan materi namun juga ketenangan jiwa yang mungkin juga dilupakan oleh suami tercinta saat menjauh dari Sang Pencipta.

Satu Cinta

Aku memang akan terus teringat oleh sosok belahan jiwaku setiap melihat atau melintasi jembatan, tetapi aku sadar bahwa hidup harus terus berjalan lewat jalan Tuhan. Aku dan anak-anak hanya dapat mendoakan yang terbaik baginya.

Kini aku hidup bahagia lahir batin bersama dua jagoanku, ajakan dan tawaran menikah banyak berdatangan tetapi cukup sudah hati ini terisi oleh satu cinta, suamiku yang sudah pergi menghadap Sang Penguasa Alam.

Nyo, Kota Magelang, 02 Desember 2013 (tetap semangat untuk “Mbak” narasumber🙂 )


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: