Posted by: sinyoegie | December 29, 2013

Dia Bukan Ibuku

Karena tidak ada member FPBA yang mengirim tulisan Jumat Hangat hingga siang, iseng-iseng Nyo isi saja🙂 . Pengembangan aslinya akan saya buat novak

*****

Kuintip Ibu dari celah sekat bambu yang memisahkan kamar kami. Senyumnya aneh, baru kali ini aku menyaksikannya. Tangan Ibu mengusap lembut adikku yang sedang tidur pulas, namun sorot matanya membuat bulu kudukku merinding. Kuhembuskan napas sejenak melepas ketegangan.

“Xixixixixi….” Tiba-tiba Ibu menoleh ke arahku.

Gawat! Hampir saja aku jatuh terjerembab dari atas kursi tempat mengintip. Dengan sigap kuseimbangkan badan agar tidak terjatuh, kutahan napas sekuat mungkin. Perlahan aku turun menuju kasur, bulir keringat membasahi seluruh badan, detak jantung serasa bunyi beduk bertalu-talu di hari raya. Hingga larut malam mata ini tidak bisa terpejam, suara tertawa lirih itu masih sesekali terdengar.

*****

Kugedong adikku Denok dengan selendang, dia tertidur. Angin sepoi sejuk membuat kantukku kembali datang.

“Hei, jual es jangan tidur.” Suara si Alam mengagetkanku.

“Eh, tidak kok cuma terkantuk-kantuk. Sudah selesai tugasmu menyapu?” tanyaku.

“Masih setengah, tetapi Bapak menyuruh pulang.”

Alam mengambil sebuah es dari termos. Dia sahabat baikku, anak tukang sapu pasar. Alam beruntung masih bisa sekolah, dari dialah aku belajar menulis. Kadang dia juga menemaniku berjualan es sambil bercanda dengan Denok.

“Lam, aku semakin takut dengan Ibu,” celetukku.

“Iya, beliau semakin aneh sejak sakit sepekan lalu. Kemarin kusapa diam saja, seperti tidak kenal denganku.”

“Rasa masakan yang dibuat juga tidak sama dengan dulu, bahkan Ibu sering lupa dengan Denok dan aku. Entah apa sebenarnya yang terjadi.”

“Kesurupan?” tukas Alam.

“Masa sih. Selama ini Ibu rajin beribadah. Cuma setelah sakit Kemarin, dia sering keliru memakai mukenaku. Bahkan kadang sholat dua kali pada waktu yang sama.”

Kami berdua terdiam membisu. Kupandangi termos es milik tetangga, hari ini baru terjual setengah. Musim penghujan membuat anak-anak sekolah enggan membelinya.

“Kamu ajak saja beliau ke dokter, kartu sehat dari pak RT masih disimpan kan?” usul Alam.

“Masalahnya Ibu merasa tidak sakit, kemarin saja aku dibentaknya. Hal yang dulu tidak dilakukan,” jelasku.

Hingga petang menjelang, Alam menemaniku berjualan es. Dia membawakan termos saat pulang. Uang yang kudapat untuk membeli makan buat Denok yang berumur 2,5 tahun.

“Nuk, kamu dan ibumu makan apa?” tanya Alam.

Aku cuma mengangkat bahu, kepala ini menggeleng pelan. Sejak sakit Ibu berhenti menyuci baju tetangga, hanya duduk melamun di kamarnya. Alam memaksaku menerima uang hasil kerjanya untuk membeli makan, meski kutolak dia bersikeras sambil tersenyum menyemangatiku.

Kami berpisah di perempatan desa, rumahku masih agak ke dalam dekat dengan tanah pemakaman. Saat sampai di rumah, hening, senyap serta gelap. Kucari Ibu di kamar dan dapur tetapi tidak ada. Denok sudah merengek minta makan, aku bingung antara menyuapi adikku atau mencari Ibu. Sayup-sayup terdengar suara lirih semalam, ingin rasanya kaki beranjak mengikuti suara itu namun Denok sedang asyik menikmati nasi bungkus.

Adzan Maghrib terdengar dan suara itupun hilang. Sunyi, aku berdiri di sini menanti.

Nyo.
Magelang, 27 Desember 2013, menjelang Ashar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: