Posted by: sinyoegie | March 16, 2014

Sosialisasi Kurikulum 2013

ahza-3-4

Sejak umur 2 tahun putra sulung saya, Ahza, masuk PAUD (Di kelompok bermain) Aisyiyah Kreatif, sayang di sekolah itu hanya tersedia sampai umur 4 tahun.

Susah payah Nyo mencari kelompok bermain non TK (TK sebenarnya PAUD juga, tetapi sebagian masih tidak mau menyebutnya begitu) untuk umur 5 dan 6 tahun, akhirnya ketemu walau mahal. PAUD IT Asy Syaffa 2, tentu saja masih ada sekolah yang lebih mahal darinya.

Kenapa saya berdarah-darah mencarikan Ahza kelompok bermain? Karena cara belajar melalui bermain, sangat cocok. Hal yang dibidik attitude, skill dan science/knowledge, fokus utama pada attitude.

****

Lulus di usia 6 tahun, sebenarnya saya dan istri ( <a>Nur Aini Meiningsih</a> ) ingin agar Ahza tetap di PAUD hingga masuk umur 7 tahun. Hanya saja berdasarkan masukan dari gurunya, dia bisa masuk SD.

 

Sekali lagi kami bingung, SD yang mendekati PAUD hanya ada dua, mahal juga. Home Schooling belum mampu. Akhirnya kami berusaha mewujudkan Ahza sekolah di SD IT walau dengan gali tutup lubang keuangan.

 

Ahza masuk kelas I SD IT Ihsnaul Fikri tahun 2013, tentu saja dia sedikit shock. Biasanya jumpalitan observasi dan eksplorasi lapangan, di SD lebih banyak duduk. Meski masih ada model pembelajaran PAUD, tetap saja porsi utama adalah Science.

 

Bahasa Jawa, Arab, Indonesia, IPA, IPS, PPKN, dan mata pelajaran lain wuih banyaknya. Padahal tulisan seperti cakar ayam, membacanya juga masih tersendat. Dia lebih tertarik main di sawah, melihat kepiting, hewan-hewan aneh di sungai, sampai bermain pohon pisang. Kasihan Nyo yang kebagian mencucui baju, seragamnya penuh dengan getah daun pisang  , sepatunya berlumpur.

 

Ranking? Jangan ditanya dah, mendekati urutan bawah alias 28 (akan mejadi naskah berjudul Ranking 28 duet bareng Mas <a>Arif Santoso</a>). Anaknya sih cerdas, tetapi kalau menulis jawaban sering tidak terbaca atau sesuai dengan ‘mood’ dia.

 

Misalnya pertanyaan: Tugas Ibu di Rumah adalah?
Dia akan menjawab: Untuk disuruh-suruh.
Waktu saya bertanya kepadanya, dia menjawab, “Kan memang Umi saya suruh-suruh tah Bi?”
Ehm kekeke (tidak berani menjawab, takut dilempar sendal sama istri) 

 

Ahza, sering kehilangan fokus saat belajar, mulai dari perlengkapan menulis hilang, catatan tidak lengkap, hingga iseng mengusili temannya. Hanya lewat pendampingan intensif dan ceria, dia mulai memahami cara belajar di SD.

 

*****

 

Sabtu, 15 Maret 2014 Nyo mengikuti sosialisasi Kurikulum 2013 di SDIT Ihsanul Fikri Kota Magelang. Setelah mendengarkan secara saksama, kurikulum terbaru ini bagai angin segar untuk pendidikan Indonesia, terutama Nyo tentu saja. Kurikulum ini serentak diaplikasikan tahuan ajaran 2014-2015 untuk SD kelas I – 4. SMP dan SMA entahlah, kayaknya iya tetapi belum bisa maksimal.

 

Apa yang selama ini dikeluhkan sebagian besar orang tua dalam pendidikan Indonesia, akan berubah (dapat saya katakan) total. Menurut Nyo ini bukan evolusi, tetapi transformasi/revolusi.

 

Bagaimana tidak, perubahan itu nyaris sama persis dengan PAUD. Hanya berbeda secara teknik/aplikasi karena perbedaan usia. Mulai dari cara belajar hingga detail pelajaran. Beberapa contoh:

 

(1)
Tidak ada nilai (termasuk raport) berupa angka passing grade dari 5 – 10. Nilai serupa di perguruan tinggi 1, 2, 3, 4 dengan indikator yang sudah ditentukan. Hampir sama dengan konversi nilai A, B, C dan D.

 

(2)
Menghendaki jawaban yang banyak, berkebalikan dengan kurikulum lama. Kalau dulu 5 + 5 = 10 , maka sekarang 10 = … + ….

 

(3)
Dulu soal sering pilihan ganda, menjodohkan, sebab – akibat akan dirombak total berupa uraian.

 

(4)
Dulu kelas serasa penjara, kurikulum 2013 kelas hanya tempat bertemu awal dan menitipkan barang. Banyak dilakukan observasi di luar. Bermain peran akan mendominasi.

 

(5)
Dulu, siswa membawa tas dengan isi buku berlimpah. Sekarang satu hari cukup satu buah buku dengan tema seragam.
Misalnya hari Senin adalah tema: Diriku. Maka seharian itu siswa dan guru mengeksplorasi diriku mulai dari sisi bahasa, pengetahuan alam, dll.
Jangan heran jika anak diminta membawa baju berkancing, sepatu bertali, atau yang lain. Itu akan menjadi bahan utama pembelajaran di awal sekolah.

 

(6)
IPA, IPS, dan beberapa mata pelajaran akan dilebur (terintegrasi) dalam satu tema tadi. Jadi bukan sebagai mata pelajaran yang terpisah.

 

(7)
Raport akan berupa laporan uraian pengamatan guru kepada siswa. Gempor dah bikin raport-nya.

(8)
Pada tingkat SD fokus pada attitude, SMP fokus di skill, dan SMA fokus scince/knowledge.

 

(9)
Jika ada anak yang ‘tertinggal’, diselesaikan sampai tuntas pembelajarannya.

 

(10)
Kelulusan disebut pindah kelas, bukan naik kelas. Jadi nanti kemungkinan tidak ada anak tinggal kelas. Masuk SMP atau SMA akan ada tes tersendiri (menunggu kebijakan lebih lanjut).

 

*****

 

Beberapa dampak yang harus disiapkan:

 

(1) Bagi guru
Ini perubahan total yang benar-benar menguras energi, skill, kreativitas, attitude, akhlak dan pola kerja. Jika selama ini hidup guru jarang dijadikan contoh, maka dalam kurikulum 2013 setiap kehidupannnya menjadi contoh anak-anak. Mulai dari kesabaran, kretivitas, tingkah laku sehari-hari, dan yang lain.
Kalau dulu seorang guru bisa ‘bangga’ karena lebih menguasai ‘ilmu’ dari anak-anak, maka berhati-hatilah besok. Sekali saja keliru dalam bersikap, anak-anak siap mengkritisi.

 

(2) Bagi Orang Tua
Peran orang tua lebih besar dari sebelumnya. Siap-siap saja melatih kesabaran, karena anak akan banyak bertanya: kenapa, bagaimana, kok bisa, prosesnya, atau yang sejenis. Orang tua harus banyak membaca ilmu pengetahuan dan memberi contoh perilaku yang baik.

 

(3) Bagi Sekolah
Perlu waktu cukup lama untuk menyesuaikan kurikulum ini. TK yang belum menerapkan anak sebagai pusat belajar siap-siap ditinggalkan peminat (Di kota Magelang, TK dengan proses pembelajaran model lama sudah kekurangan murid). Karena kurikulum 2013 ini berbasis pada anak sebagai pusat pembelajaran, bukan guru.
Para guru harus benar-benar menyiapkan attitude yang baik, kalau tidak, jangan ditanya kalau anak-anak akan mengikuti. Peran kepsek sangat besar di sini.
Sekolah negeri akan bersaing dengan sekolah berbasis agama, dapat dikatakan tidak jauh berbeda.
Sekolah unggulan harus mencari inovasi baru karena sekarang yang ditekankan pada SD adalah akhlak, bukan pengetahuan.

 

(4) Bagi siswa
Siswa yang sebelumnya sekolah di PAUD (kelompok bermain non TK model lama) akan terbiasa, tinggal melanjutkan. Sedangkan siswa dengan pola pendiikan lama, harus berjuang cukup keras untuk mengikuti pola baru ini.

 

Salah satu tujuan dari Kurikulum 2013 ini adalah, menyiapkan generasi emas 100 tahun Indonesia Merdeka (2045) yang mempunyai sikap baik, kebiasaan baik, akhlak mulia, smart, dan kompetitif di era global.

Setuju atau tidak, Kurikulum 2013 akan dijalankan. Semoga saja pemerintah baru nanti terus memperkuat kurikulum ini.

 

Bagi kita, ayo dampingi anak-anak semaksimal mungkin. Ucapkan selamat tinggal fenomena tawaruan, Cabe-caben, Terong-terongan, narkoba, aborsi, korupsi, dll. Saatnya Indonesia menyongsong Generasi Emas.

 

Gambar Nyo buat dari blog:
http://marsudiyanto.blogspot.com/2013/08/perbedaan-ktsp-dan-kurikulum-2013.html
http://info-data-guru-ptk.blogspot.com/2014/01/perbedaan-kurikulum-2013-dengan-ktsp.html
Koleksi pribadi (Ahza waktu TK)

Nyo, Magelang 16 Maret 2014

screenshot-by-nimbus screenshot-by-nimbus (1)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: