Posted by: sinyoegie | October 2, 2014

Tiga Tahun Ancaman

10450133_796903897026667_1109552735348106392_n
Beberapa waktu yang lalu, saat mengisi acara parenting di sekolah PAUD dan ibu-ibu Himpaudi, ada seorang wali murid bertanya tentang ancaman  hukuman bagi anak.

Ancaman yang dikaitkan dengan hukuman dapat dikenalkan kepada anak-anak mulai umur tiga tahun, namun baru bisa diterapkan secara efektif ketika anak menginjak usia 4 tahun. Rentang 3-4 tahun ini fleksibel, sesuai daya nalar masing-masing anak.

Hal yang perlu dipahami oleh orang tua, bahwa ancaman hukuman bagi anak berguna untuk mengenalkan ‘peraturan dan tata tertib’. Jangan berpikir benar-benar ‘menghukum’ si buah hati karena baru dibolehkan dalam Islam saat berumur 10 tahun.

Mulailah dengan membuat kesepakatan soal aturan yang harus diikuti, misalnya boleh bermain game setelah belajar. Jadi, anak paham jika harus dihukum karena memang melanggar peraturan yang sudah dibuat bersama.

Sampai umur berapa? Sinyo mengikuti contoh dari Rasulullah bahwa anak umur 7 tahun dianjurkan sholat. Tentu anjuran ini sesuai dengan tingkat perkembangan usia anak. Jadi saat Ahza (anak sulung) berumur 7 tahun, saya ajak ke kamar bersama istri saya untuk membahas tentang ancaman hukuman ini.

Kami sepakat tidak ada lagi ancaman untuk dihukum saat berusia 7 tahun bagi Ahza. Begitu melanggar peraturan, ya langsung dikenai sanksi sesuai peraturan yang ada. Sudah dinyatakan ‘sah’ bahwa Ahza paham peratutan yang ada, baik tertulis atau lisan.

Ancaman hukuman memang sangat efektif, karena anak langsung mengikuti perintah orang tua. Hanya saja, hal ini kurang menyentuh kesadaran anak tentang peraturan, tidak jarang akan membuat anak ‘takut’ karena sebab diancam. Jika ini dilakukan terus hingga usia remaja, akan sulit menumbuhkan ‘kesadaran hukum secara global’.

Mungkin saya, istri, dan Ahza harus meluangkan waktu untuk berdiskusi, berdebat, atau adu argumentasi untuk hampir semua hal. Tidak jarang hal-hal yang sangat sepele seperti memilih warna baju. Tetapi proses ini akan membuat Ahza paham secara tuntas bahwa semua hal ada akibatnya.

Anak memahami benar atas semua tindakan yang harus diambil, semua mengandung konsekuensi.

Di keluarga kami, orang yang paling beruntung adalah Kayyisah, anak bungsu. Karena dia mengikuti kakaknya,maka Kayyisah sudah mendapatkan paket pengayaan, keterampilan, dan kebijakan yang telah diuji oleh Ahza. Hampir banyak hal dia menguasai lebih cepat dibandingkan Ahza dulu.

Dari umur 4 sampai 7 tahun Ahza mendapat ancaman hukuman, tiga tahun yang berharga bagi kami. Sekarang tinggal memetik hasilnya, walau sering bersitegang menjelaskan banyak hal yang belum Ahza pahami ^_^ .

Nyo, Kota Magelang, 02 Oktober 2014. Teruntuk keluarga yang cinta kedamaian🙂


Responses

  1. hehe.. kayak apa ya kalo nanti kami bertiga debat.
    Fakh kayakny bakat curiousity-nya tinggi juga.🙂

    • Main sini Dik🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: