Posted by: sinyoegie | October 21, 2014

Bahasa Nabi Adam

ahza-sawi

Suatu hari setelah Nyo mengisi acara parenting di luar kota, saya, Umi (istri Sinyo), dan Ahza (anak sulung) duduk di meja makan. Tampang istri terlihat serius, Ahza mah nyengir doang.

“Bi! Ini loh Mas Ahza tanya sesuatu,” ujar Umi sambil menikmati makan pagi.
“Lah? Tinggal dijawab saja kan Mi, masak bingung?” jawab Sinyo kegelian.
“Umi tidak mampu menjawabnya Bi?”

Weits, pertanyaan apa ya sampai si Umi tidak dapat memberi jawaban? Sinyo menjadi ingin tahu isi pertanyaan itu.

“Pertanyaan apa sih Mi?” tanya Nyo.
“Mas Ahza kemarin bertanya, apakah benar bahwa seluruh umat manusia itu berasal dari Nabi Adam dan Siti Hawa? Umi jawab dengan haikul yakin memang benar begitu adanya,” terang Umi.
“Terus?” desak Nyo penasaran
“Kemudian masih berlanjut tuh pertanyaan Mas Ahza. Kalau memang manusia berasal dari satu keturunan yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa, kok bahasanya bisa berbeda-beda sih?”

‘Glek’! Waduh…butir keringat mulai muncul gara-gara pertanyaan Ahza, anak zaman sekarang kok pertanyaan yang diajukan sulit selangit sih ya? Pantas Umi menyerah.

Pernah Mas Ahza juga bertanya soal asal dia dari mana? Nyo menjawab pertanyaan itu dengan detail, eh tahu-tahu sudah sampai tahap reproduksi. Ya tetap saja Sinyo jelaskan apa itu reproduksi secara sederhana dengan memberi contoh binatang ‘kawin’. Khusus manusia memang harus ‘menikah’ dulu sesuai dengan agama. Dia sudah paham konsep menikah sekitar umur enam tahun.

Beberapa pertanyaan ‘menggelitik’ yang diajukan Ahza hanya salah satu contoh efek keterbukaan dan kejujuran dalam berkomunikasi antara orang tua dan anak. Kita sebagai orang tua memang ‘capek’ menjawab bermacam pertanyaan yang dilontarkan anak-anak, baiknya mereka menjadi kreatif sekali.

Sinyo terus terang juga bingung mau menjawab pertanyaan Mas Ahza tentang bahasa yang dipakai Nabi Adam. Jadi sambil berpikir, Sinyo mengalihkan pembicaraan disambi makan pagi.

Untung Sinyo pernah belajar asal-usul bahasa di dunia sehingga masih bisa menjelaskan kepada Umi dan Ahza tentang perbedaan bahasa yang dipakai orang di bumi.

Sinyo memberi sebuah kisah tentang keinginan orang-orang membangun sebuah menara yang tingginya mencapai langit. Menara setinggi itu tentu membutuhkan pondasi yang luas. Dibentuklah beberapa kelompok orang guna membangun pondasi dengan masing-masing jarak antar kelompok sangat jauh. Beratus tahun kemudian pondasi menara belum selesai, masing-masing kelompok mempunyai keturunan yang banyak dengan situasi dan kondisi tempat berbeda. Lambat laun, bahasa, kebiasaan hidup, atau peraturan masing-masing kelompok berubah sesuai dengan sikon yang ada. Hanya saja masih ada benang merah kesamaan dalam banyak hal.

Misalnya kata ‘pipis’ dalam Bahasa Jawa yang berarti kencing, didapati juga dalam Bahasa Inggris ‘pipis’ atau Bahasa Perancis ‘faire le pipis’. Kaka ‘pipis’ juga ada di hampir semua bahasa dunia.

Umi dan Ahza mengangguk-angguk tanda paham tentang penjelasan Sinyo.

*****

Kita sebagai orang tua, seharusnya semakin bergairah untuk banyak membaca berbagai hal, karena suatu saat anak-anak akan mengajukan pertanyaan yang kadang kita tidak pernah memikirkannya ^_^

Nyo, Kota Magelang 21 Oktober 2014 (menjelang hujar meteor Orionid)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: