Posted by: sinyoegie | January 14, 2015

Resensi Buku The Beloved Aisyah – Irfa Hudaya

010-irfa

Judul Buku: The Beloved Aisyah
Penulis: Irfa Hudaya
Penerbit: Revive!, Yogyakarta
Cetakan I: Oktober 2014
Halaman: xviii + 290
Jenis: Novel Sejarah (Faksi) Islami

Pertama kali melihat sampul buku ini saya kira buku non fiksi, ternyata sebuah novel, tepatnya faksi (gabungan antara fiksi dan non fiksi, dalam buku ini berupa sejarah). Aww! Jadi terbayang betapa susahnya sang penulis menggali sumber berita lewat hadits-hadits atau bacaan sejarah Rasulullah SAW dan para sahabat. Bukan sesuatu yang mudah tentu saja.

Kalau Pak Jokowi atau Pak Prabowo kan orangnya masih hidup, buku mengenai mereka lumayan banyak, jadi menulis faksi tentang dua tokoh ini tentu jauh lebih mudah. Tambah ‘surprise’ karena kisah tentang Ibu para muslimin dalam novel ini memakai sudut pandang pertama (POV1). Berbeda dengan film-film para sahabat Rasulullah SAW yang biasanya memakai sudut pandang orang ketiga atau narator.

Sebagai pembaca yang biasa ‘jahil’, menghadapi buku ini saya tidak berani banyak berkomentar tentang isinya. Ya sebagian saya tahu benar diambil dari hadist-hadits, seperti saat Aisyah bermain kuda-kudaan yang mempunyai sayap, selebihnya fantasi yang tidak berani saya kritisi karena saya terus terang ‘belum berani’ meraba-raba perasaan para sahabat Rasulullah SAW (Abu Bakar), Aisyah r.a., atau orang-orang di dekatnya.

Secara teknik menulis, saya suka karena penulis tidak berlebihan dalam menggambarkan setting atau situasi seperti novel-novel yang tebalnya amit-amit. Tidak banyak istilah ke-Arab-an seperti novel-noval ala Korea yang cenderung dipaksakan. Ditulis lebih lugas dan ringan, pasti disukai emak-emak🙂 . Apalagi novel ini dipandu owner dan pendiri Trenlis (Pesantren Penulis), Dwi Suwiknyo.

Pembaca akan dibawa ‘kira-kira’ seperti apa kehidupan Aisyah r.a. beserta orang-orang terdekat, bermanfaat bagi pembaca yang belum begitu paham Ibu kaum muslimin ini. Dengan catatan, ini ‘kira-kira’ saja sehingga kalau ada yang ‘menyalahkan’ ya karena fantasi penulis lewat pendekatan sejarah. Urusan boleh atau tidak ya tanya kepada ustadz atau ahlinya🙂

Nyo. Kota Magelang, 14 Januari 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: